
Diandra membisu, mereka sudah dalam setengah perjalanan kembali pulang sesekali dia melirik Gavin yang nampak begitu tenang di balik kemudi, senyum Diandra merekah, dia menertawakan dirinya sendiri yang entah mengapa kini begitu menggilai sosok lelaki ini.
Ke mana semua perasaan benci yang Diandra miliki untuk Gavin? kenapa sekarang semua perasaan itu seperti lenyap tidak berbekas sama sekali.
"Mas," Diandra coba buka suara, bosan juga sejak tadi hanya mendengarkan musik dari radio.
Gavin menoleh untuk sesaat mata mereka bertemu, mata yang dulu bersorot tajam penuh kebencian itu kini begitu lembut menatap Diandra, sebuah tatapan lembut, hangat serta penuh cinta.
"Ya kenapa sayang?" tanya Gavin.
Sayang adalah sebuah panggilan paten yang kini Gavin sematkan pada Diandra, panggilan yang masih sering membuat bersemu merah ketika mendengar panggilan itu.
__ADS_1
"Boleh tahu, pas hiking kayak kemarin sama Papa, Mas ngobrol apa aja di atas sana?" Gavin masih bungkam ditanya perihal itu dan dia harap kali ini dia mau buka suara.
Diandra sudah mencoba bertanya pada Papanya tapi sayang sekali tidak ada jawaban hanya sebuah senyum dan kalimat 'Papa hanya sedang mengupayakan kebahagiaan kamu, sayang'
Kebahagiaan yang seperti apa, tidak dijelaskan dengan detail, bukan salah Diandra kalau sekarang dia kembali bertanya pada sang suami.
"Kita ngobrol banyak hal, biasa obrolan lelaki," jawab Gavin sambil tersenyum.
"Yang kayak gimana sih, Mas? seriusan aku kepo," Diandra merengek, dia benar-benar penasaran dengan obrolan apanya yang mereka lakukan di puncak gunung hanya mengobrol dan mereka harus naik beribu-ribu meter di atas permukaan laut? bukan main!
Gavin terkekeh, fokusnya masih pada jalanan yang terbentang di depannya, sementara Diandra masih berharap-harap cemas pertanyaannya mendapatkan jawaban.
__ADS_1
"Intinya, obrolan itu mengubah semua pandanganku tentang kamu, tentang rencana pernikahan kita," Gavin kembali bersuara setelah tawanya terhenti.
"Hal yang membuat aku sadar bahwa keputusanku hendak menikahi kamu itu bukan hanya keputusan yang setengah hati aku ambil, Dian. Hal yang membuat aku sadar bahwa pernikahan itu bukan untuk main-main," ucap Gavin lagi.
Diandra menatap dengan seksama sang suami, dia tidak banyak bertanya, dia menyimak apa-apa saja yang hendak Gavin ceritakan tentang perjalanan dadakan yang sempat membuat Diandra tidak enak makan dan tidak nyenyak tidur.
"Di atas gunung itu aku berjanji pada Papa bahwa aku akan jaga, bahagiakan dan cintai kamu seperti bagaimana Papa melakukan itu buat kamu, sayang. Di atas sana aku berjanji pada diriku sendiri bahwa aku tidak akan membiarkan kamu pergi dari aku, bahwa aku akan tetap mempertahankan kamu tidak peduli saat itu kamu bahkan sudah vokal mengajukan permintaan cerai," ucap Gavin.
Diandra tercekat, jadi seperti itu? mata Diandra memanas, memang Gavin benar-benar penuh kejutan, bukan? sebuah sisi lain yang sekali lagi baru Diandra sadari dan temui pada sosok suaminya ini.
Diandra memeluk lengan kekar itu, menyandarkan kepalanya di bahu Gavin yang tengah sibuk menyetir, tidak peduli nanti mereka akan kena tilang kalau polisi melihat mereka namun untuk saat ini hanya hal ini yang ingin Diandra lakukan.
__ADS_1
"Boleh nggak kalau aku sekarang jadi begitu sayang sama kamu Mas?"