Musuhku Suamiku

Musuhku Suamiku
Keep calm, Dian!!!


__ADS_3

"Saya terima nikah dan kawinnya Diandra Safaluna binti Darmawan dengan mas kawin tersebut dibayar tunai," ucap Gavin.


Diandra menggigit bibir bawahnya kuat-kuat berusaha agar tidak terisak karena untuk saat ini pun matanya sudah begitu perih tidak terkira. Kenapa bujang lapuk itu bisa selugas dan selancar itu menjawab qobul? ayahnya sendiri yang menjadi wali, mengucap ijab yang lantas dijawab boleh Gavin dengan sedemikian tegas dan lugas.


Banyak orang penting duduk di sekeliling mereka dan menjadi saksi pada acara sakral dan suci mereka hari ini. Rektor universitas, dekan Fakultas Kedokteran, Direktur utama rumah sakit tempat Gavin dinas dan masih banyak guru besar lainnya yang rela datang untuk acara penting Diandra hari ini.


Benar kata kiki! kalau semalam Diandra jadi kabur,, entah bagaimana malunya keluarga besar Diandra nanti. Untungnya Diandra masih berpikiran jernih dan mau membatalkan rencana gilanya itu. Dia masih waras dan tidak tega menyakiti hati kedua orang tuanya, meskipun kini dia berkorban masa depan dengan duduk di sini.


Ah! bukankah Diandra sampai harus duduk di sini karena ulahnya sendiri, karena sumpah gilanya itu,, Diandra menghirup udara banyak-banyak,, sekuat tenaga menahan air mata agar tidak jatuh.

__ADS_1


"Bagaimana para saksi?"


"SAH!!!"


Suara-suara itu kompak menyahut dengan lantang dan keras, Diandra bahkan bisa mendengar bahwa suara Kiki dan bridesmaid lain yang terdengar paling keras berteriak. Dan tidak lupa suara Dino dan Drian! benar-benar ****** mereka dua itu! ( ****** singkatan dari Abang Dino dan Abang Drian sebuah panggilan sayang dari Diandra yang selalu sukses tidak hanya membuat mereka berdua mencak-mencak, tetapi juga Mama, Papa mereka )


Diandra sudah tidak sanggup lagi sambil mengangkat kedua tangan ke depan dada, tangis Diandra pecah, dia terisak sambil menundukkan kepala.


"Lah? malah mewek sih, Dian?" bisik Kiki yang mendekat guna membantu Diandra menyeka air mata dan memastikan make up si pengantin aman.

__ADS_1


Diandra tidak menjawab, dia sendiri tidak tahu kenapa dia menitikkan air mata saat ini. Di tanya apa perasaannya saat ini, Diandra tidak tahu apa yang harus dia jawab. Dia terisak membiarkan Kiki membantunya menyeka air mata.


"Udah, jangan mewek lagi deh, selamat yah! ingat aku nih yang pertama ngucapin," bisik Kiki dengan alis terangkat lalu meninggalkan Diandra.


Diandra mencoba mengangkat wajahnya, kenapa sekarang dia jadi risau? apakah eyelinernya luntur? maskara? semua aman dan dia tetap secantik tadi sebelum menangis bukan? kenapa Diandra begitu takut Gavin melihatnya dengan tangisan dan make up luntur? Diandra dengan takut-takut mengangkat wajah ketika tangan Gavin mencolek lengannya dengan perlahan, memberi kode Diandra agar menatap ke arahnya.


Untuk kesekian kalinya Diandra tertegun, bujang lapuk itu nampak begitu berbeda sekali hari ini, wajahnya terlihat begitu lebih bersih dan bersinar, entah efek make up atau bagaimana yang jelas aura lelaki itu bisa Diandra rasakan begitu berbeda.


Diandra tersentak ketika kotak cincin itu terbuka, nampak sepasang cincin bertengger di sana, cincin dari emas putih untuk Diandra dan silver untuk Gavin, sesuai dengan syariat, bukan?

__ADS_1


Nampak tangan Gavin terulur meraih cincin milik Diandra, cincin yang di bagian dalam terukir nama Gavin dengan begitu cantik, dengan perlahan tapi pasti, Gavin melingkarkan cincin itu di jari manis Diandra, membuat jantung Diandra rasanya berdegup tidak karuan.


"Please, keep calm, Dian. Jangan pingsan,, jangan pingsan!"


__ADS_2