
Temenin makan ya? Mau, kan?"
Kiki melonjak, kontan dia menoleh dan menatap wajah itu dengan saksama. Wajah itu tersenyum, sebuah senyuman yang entah mengapa mampu meluruhkan semua rasa kesal yang Kiki miliki untuk lelaki itu. Kenapa senyum itu indah sekali? Kiki mengumpat dalam hati, kenapa dengan dirinya ini?
"Ma-makan di mana, Mas?" Kiki menundukkan wajah, dia bisa merasakan wajahnya memerah. Sebuah respon aneh yang entah mengapa sangat membingungkan dirinya.
"Kamu mau makan apa? Sebagai ucapan terima kasih deh seharian udah kamu bantu tadi." Hilang sudah semua kekesalan Kiki secara tiba-tiba.
Kiki heran, apa Derren ini punya kepribadian ganda? Dan bisa secepat itu kah kepribadiannya berubah? Beberapa menit yang lalu dia bisa jadi begitu menyebalkan dan di menit ini Derren nampak begitu lain dan berbeda dari sebelumnya.
Suaranya lembut, terdengar begitu manis dan senyum itu membuang semua pandangan dan penilaian yang Kiki miliki untuknya, Kenapa bisa secepat ini? Ini Kiki yang terlalu lelah sampai suasana hatinya berubah drastis atau memang...
"Ki, kamu ini kenapa sih?" suara itu kembali sedikit melengking, senyumnya lenyap dan Kiki kembali tergagap, takut Derren tahu bahwa Kiki tengah melamunkan dirinya.
"Baru mikir, Mas! Tadi nanya kan, mau makan apa?" ucap Kiki pura-pura galak.
Derren mendecih.
"Mau makan aja mikirnya kayak mikir Negara!" gumamnya setengah mengejek.
"Oh gitu? Yaudah deh terserah, penting entar diantar pulang, dah gitu aja" Kiki melipat tangan di dada. Baru di puji dan dipertanyakan perubahan sikap yang begitu drastis, eh sudah berubah lagi, kan, sikap lelaki itu? Ini dia yang harus ke psikiater atau Derren yang kudu bin harus konsul rutin ke sana?
"Ah wanita kalo udah keluar kata itu auto bikin depresi," celetuk Derren sambil mengeram.
"Dah lah bilang aja, pengen makan apa? Jangan ngajakin tebak- tebakan nih. Emang kau pikir aku paranormal bisa baca pikiran kamu itu apa?"
Kiki menghela napas dengan mata terpejam, dia kemudian menoleh, menatap wajah itu dari samping kalau di lihat, Derren ini agak mirip Kim Taehyung. Tau siapa itu Kim Taehyung? Coba cek akun sosial media atau internet, ketemulah nanti dan begitulah penampilan Derren ini, cuma bedanya dia ini bukan boyband macam Kim Taehyung ini.
"Ya udah, aku mau makan kimchi sama tteokbokki!" putus Kiki yang mendadak teringat makanan itu.
"Ah yang makanan lokal kenapa sih?" protes Derren nampak frustasi.
Kini Kiki kembali melotot, gimana sih lelaki ini? Kenapa plin-plan begini?
__ADS_1
"Tadi katanya suruh bilang mau makan apa? Begitu dijawab malah kayak gitu tanggapannya!" Kiki kembali mencak-mencak.
"Dah lah terserah, makan batu pun oke!" gumam Kiki sengit.
"Kau mau makan batu?" tanya Derren terkejut, dia menoleh, menatap Kiki yang mencebik sambil melipat kedua tangan di dada.
Kiki mendengus kesal, rasanya kepala Kiki sudah hampir pecah.
"Iya, ntar batunya aku lempar itu ke jidat biar benjol sekalian!" balas Kiki setengah berteriak
Derren menoleh, tampak dia mengeram sambil mencengkram stir.
"Kamu sudah pernah di cium orang gila belum, Ki?"
##########
Gavin buru-buru turun dari mobil ketika mendapati mobil istrinya sudah di rumah. Ternyata Diandra sudah pulang? Kok tumben nggak main dulu di kos Kiki? atau pergi bersama dengan gadis itu? Kenapa udah main di rumah saja?
Gavin melangkah masuk, nampak Mbok sudah menyambut sambil tersenyum.
"Sudah Mas Gavin, sejak beberapa jam yang lalu.
"Udah makan?" tentu itu yang Gavin tanyakan, dia harus pastikan istrinya tidak kekurangan sesuatu apapun di rumah ini.
"Belum, Mas Gavin. Tadi pulang langsung masuk kamar, katanya lagi capek banget.
Gavin tersenyum dan mengangguk.
"Kalau gitu aku naik dulu, Mbok"
"Nggak mau makan dulu, Mas? Biar Mbok siapin?"
Gavin membalikkan badan, menggeleng sambil tersenyum lalu kembali melangkah naik ke lantai atas. Dia melangkah dengan tergesa menuju kamar, membuka perlahan-lahan pintunya dan tersenyum penuh arti melihat Diandra tertidur pulas di atas peraduan mereka.
__ADS_1
Gavin menutup pintu perlahan, melangkah menghampiri Diandra yang tidur tengkurap sambil memeluk guling. Terdengar dengkuran halus keluar, membuat senyum Gavin merekah sempurna. Dengan perlahan dia naik ke atas ranjang, tangannya terulur mengelus rambut Diandra dengan begitu lembut penuh kasih sayang.
"Capek?" desis Gavin lirih, senyumnya masih belum hilang dari wajah.
"Baru sebari koas loh, Sayang" Kembali Gavin berbisik lirih, kemudian menjatuhkan kecupan di pipi Diandra.
Pipi itu begitu kenyal dan lembut, membuat Gavin tidak ragu untuk menggelontorkan banyak uang untuk biaya perawatan dan skincare sang istri kalau hasilnya seperti ini, berapa juta pun Gavin ikhlas. Pipi ini begitu menyenangkan untuk dia sentuh dan cium, Gavin bangkit dan melangkah masuk ke kamar mandi. Dia tentu hendak membersihkan diri terlebih dahulu sebelum ikut naik dan membaringkan diri di sebelah istrinya. Lelahnya sirna seketika melihat wajah itu begitu damai dan pulas terlelap. Dan harapan Gavin, lelah Diandra bisa sirna oleh kehadiran Gavin di sisinya.
###########
"Makan yang banyak!" gumam Derren ketika sepiring nasi dan kepiting saus padang lengkap dengan kerang, udang dan cumi.
Kiki menelan ludah dengan susah payah. Ini bisa-bisa Kiki gagal diet! Kenapa juga menu ini yang Derren pilih sih? Kiki paling tidak bisa menolak masakan seperti ini!
"Ki? Mendadak sariawan?" tegur Derren ketika Kiki hanya mematung di tempatnya duduk.
Kiki mengangkat wajahnya, menatap Derren yang sudah lebih dulu menyantap seafood dan nasi miliknya. Nampak lelaki itu begitu menikmati menu pilihannya, membuat Kiki lantas mulai menarik piring nasi miliknya dan menyendok kepiting berlumur saus padang itu.
"Suka seafood, Mas?" tanya Kiki mengabaikan pertanyaan sarkas yang keluar dari mulut Derren.
"Suka banget. Mau suka kamu eh kamunya ngeselin. Jadi pilih suka seafood," jawab Derren.
Kiki hampir tersedak oleh nasi yang sudah masuk ke dalam mulutnya. Dia menatap nanar lelaki yang nampak tidak memperdulikan dirinya. Apa tadi Derren bilang? Mau suka sama Kiki? Kesambet apa lelaki ini?
"Eh ngaca deh! Kamu lebih ngeselin, Mas!" balas Kiki tidak terima.
Derren pikir dia tidak menyebalkan apa? Sangat menyebalkan sekali. Lelaki paling menyebalkan yang pernah Kiki temui seumur hidup. Bahkan Dokter Gavin pun kalah menyebalkan dari Derren ini.
"Iya kah? Nggak juga ah! Buktinya fans aku banyak kok sejak SMA. Maklum ganteng" desis Derren dengan begitu santai.
Kiki melongo, rasanya dia ingin nelemparkan piring itu ke arah Derren seketika. Namun betapa enak saus padang masakan restoran ini membuat Kiki mengurungkan niatnya. Mubazir sekali kalau dia melemparkan piring itu ke arah Derren.
"Fans?" Kiki hampir berteriak.
__ADS_1
"Berapa banyak memangnya gadis yang sudah Mas pacarin, heh?" tantang Kiki yang sudah kepalang gemas.
Nampak Derren terkejut, dia menatap Kiki sekilas. Tanpa menjawab dia kembali melanjutkan makannya. Kiki melirik dan nampak memperhatikan. Kenapa wajah itu berubah dan terlihat aneh? Pertanyaan Kiki tidak salah, bukan? Apa yang sebenarnya sudah terjadi?