Musuhku Suamiku

Musuhku Suamiku
Kamu nggak apa-apa kan?


__ADS_3

"Dasar! rasain sekarang!"


Tawa Diandra belum mau berhenti, dia masih terkekeh gali membayangkan bagaimana ekspresi Kiki tadi, betapa merah wajah sahabatnya dan jangan lupa muka cemberut Kiki yang macam bebek ketinggalan barisan.


Diandra naik ke atas mobil, dia harus segera pulang ada mertua yang stay di rumah dan jangan lupa beberapa jam lagi suaminya pulang, Gavin sudah mewanti-wanti untuk tidak pulang terlalu sore bukan?


Diandra langsung membawa mobilnya pergi, di jok samping masih ada sekotak donat yang sengaja dia beli khusus untuk Mira, sebuah oleh-oleh sederhana dan tidak boleh dilupakan jika Mama mertua sedang berkunjung.


"Aku jadi penasaran sama Dokter somplak si Kiki, tapi bagaimana mau cari tahu kalau nama Dokter itu saja Kiki tidak tahu?" desis Diandra yang jujur heran dengan kelakuan Kiki.


Senyum masih merekah di wajah Diandra dengan santai dia membawa mobilnya melaju membela jalanan, setelah ini apa yang hendak dia lakukan? rasanya dia harus mandi, dandan cantik untuk menyambut suaminya pulang, ya mumpung hal itu masih bisa Diandra lakukan karena sebentar lagi mungkin mereka akan saling sibuk dengan urusan masing-masing.


Diandra tersenyum terkekeh mengingat obrolannya bersama Kiki tadi, biar sekarang Kiki rasakan bagaimana perasaan Diandra dulu ketika Kiki dengan kurang ajar selalu menggodanya.


"Dipikir enak? lihat aja nanti bakalan panas dingin kau Ki," Diandra masih terkekeh, bayangan wajah memerah Kiki kembali teringat di dalam pikiran Diandra membuat tawanya tidak mau berhenti.


Mendadak Diandra menepuk jidat, dia keringat taruhan yang tadi dia buat bersama Kiki bagaimana kalau benar mereka berjodoh? itu artinya dia harus benar-benar menuruti kemauan suaminya untuk punya lima anak? yang benar saja!


Diandra mengumpat bisa-bisanya dia membuat taruhan itu?


"Astaga Dian! lagi lagi mulutmu nggak bisa di rem, Dian!"


#########


Kiki memeluk guling, menyembunyikan wajahnya di balik gulingnya, gara-gara obrolan unfaedah yang tadi Diandra dan dia lakukan kini Kiki jadi tidak bisa tidur.


Bayangan tidak senonoh itu berkelebat membuat kepala Kiki mendadak pusing, Kiki bangkit dari tidurnya duduk di atas kasur sambil memijit pelipis perlahan, dia tidak ingin jadi tidur rasanya pergi ke supermarket untuk membeli beberapa es krim dan cemilan akan sedikit meredakan sakit kepala dan melupakan perlahan obrolan yang tadi terjadi antara dia dan Diandra.


"Nongkrong deh di minimarket daripada gila di sini!" ucap Kiki.


Kiki menyambar kunci motor memakai jaket dengan hati-hati agar tidak terlalu menempel pada bekas lukanya, dia bergegas keluar melangkah menuruni tangga guna sampai di parkiran lantai bawah.


Kiki menatap gemas motornya yang lecet dan banyak baret itu, ah duit lagi! Kiki memijit gemas pelipisnya, kenapa dia bisa sial banget sih?

__ADS_1


"Amit-amit! jangan lagi deh ketemu sama orang model kayak gitu, ogah aku ogah!" ucap Kiki.


Kiki segera membawa motornya keluar dari gerbang kos, butuh waktu kira-kira sepuluh menit untuk sampai di minimarket terdekat.


Kiki sudah membayangkan es krim apa yang mau dia beli dan nikmati sambil tentu saja fokus ke jalanan agar tidak lagi kena sial, logo minimarket itu sudah terlihat, dia langsung memberi kode pengendara di belakangnya bahwa motor itu hendak dia belokan.


"Nah sampai juga," gumam Kiki sambil tersenyum.


Bayangan es krim coklat dengan taburan almond itu sudah tergambar di pikiran, belum lagi es krim cone yang sejak kemarin Kiki ingin makan.


Kiki hendak masuk ke dalam ketika dari belakang tiba-tiba ada tubuh yang ikut merangsak dan menubruknya sampai terbentur pintu kaca.


"Woy, woles dong ah," teriak Kiki lalu menoleh dan terkejut luar biasa mendapat tubuh itu adalah milik lelaki yang menabraknya tadi.


"K... kau!" lelaki itu juga nampak terkejut, mereka saling tatap dengan sorot mata tajam.


"Kenapa sih harus ketemu kamu lagi Mas?" ucap Kiki gemas, dia mengacak rambutnya dengan frustasi.


Bayangan kalimat yang mengatakan bahwa Kiki dan lelaki ini berjodoh kembali terngiang dalam pikiran.


Dia nampak santai dengan kaos dan celana jeans pendek, kulit kuning yang terekspos jelas membuat penampilan lelaki asing ini makin terlihat mempesona.


"Ya tapi kenapa kamu harus ke sini dan kita harus ketemu lagi?" Kiki masih tidak mengerti kenapa mereka harus ketemu lagi? kenapa?


"Kamu juga ngapain sih ke sini? nggak ada tempat lain buat kamu datangin, heh?" bukannya menjawab lelaki itu malah balik bertanya.


Kiki mencebik, dia mendorong pintu dan meninggalkan lelaki itu begitu saja, hatinya dongkol keluar biasa, kenapa harus bertemu lagi? kenapa harus dipertemukan lagi, Tuhan?


Dengan bersungut-sungut Kiki melangkah menuju freezer es krim membuka kaca dan sibuk memilih es krim coklat dengan almond yang sejak tadi ingin dia makan, setelah mengambil sepotong es krim Kiki melangkah menuju rak coklat mengambil satu coklat dengan bungkus ungu yang berukuran besar, tak lupa dia mengambil sebotol air mineral di showcase.


Kiki segera membawa belanjaannya ke kasir, membiarkan petugas itu menghitung belanjaannya, sementara Kiki sibuk merogoh saku celana dan saku jaket ke mana uangnya?


"Semuanya lima puluh lima ribu Kak," jelas petugas kasir itu dengan sebuah senyuman.

__ADS_1


"Tunggu bentar Mbak," ucap Kiki.


Tentu Kiki panik, wajahnya berubah pucat dia ingat betul tadi membawa selembar uang seratus ribu di saku, lantas ke mana uang itu sekarang? keringat dingin mulai meluncur, Kiki hendak membatalkan transaksinya ketika tangan itu menyodorkan kartu ke arah petugas kasir.


"Pakai ini saja Mbak, sekalian sama belanjaan saya" gumamnya sambil mendorong keranjang berisi pasta gigi, mouthwash dan beberapa cemilan.


Kontan Kiki terkejut, menoleh guna menatap lelaki yang kini berdiri di sebelahnya.


"Eh apaan ini, kan a..."


"Tidak usah bawel, diam-diam aja!" hardik sosok itu sambil menjitak kepala Kiki.


Sebuah hal yang kemudian membuat Kiki melayangkan tangan menimpuk lengan lelaki asing itu.


"Aduh apaan sih!" pekik lelaki itu terkejut.


"Habisnya Mas dari tadi suka banget sih jitak kepala? sakit Mas," desis Kiki sambil setengah melotot.


"Habisnya kamu lemot, biar agak cepat das des gitu otaknya," gumamnya santai.


Rasanya Kiki ingin kembali menimpuk lelaki itu kalau tidak ingat es krim, coklat dan air mineralnya bukan dia yang membayar.


"Ini jadi satu struknya kak?" tanya petugas kasir yang mencoba memisah pertikaian kedua customernya.


"Iya jadi satu aja Mbak," jawab lelaki itu cepat.


Kiki menundukkan wajah, kenapa juga duitnya harus lenyap disaat dia membutuhkan seperti ini, kenapa nasibnya mendadak sial terus sejak kejadian pagi tadi?


"Silahkan PIN nya Kak,"


Tangan lelaki itu terulur menekan tombol di mesin EDC 677669?" Kiki melihat betul angka berapa saja yang dia tekan, kenapa bisa sembrono begini dia dengan PIN ATM-nya?


"Nih es krim mu" lelaki itu menyodorkan plastik berisi barang milik Kiki.

__ADS_1


Kiki menatap mata hitam milik lelaki di hadapannya, kenapa mata itu benar-benar punya daya tarik dan pesona yang luar biasa?


"Dek kenapa bengong? kamu nggak apa-apa kan?"


__ADS_2