Musuhku Suamiku

Musuhku Suamiku
Gavin benar-benar ragu,,


__ADS_3

Diandra sontak menutup mulutnya nampak dia melirik ke sekeliling di mana atensi para tamu tengah berpindah ke arah meja mereka, mereka menatap Diandra dan Gavin sesaat lalu dengan senyum penuh arti beberapa orang tampak berbisik sambil senyum-senyum membuat Gavin refleks menepuk jidatnya dengan gemas.


"Bisa nggak sih pelanin suara kamu, Dian? pada lihatin kita nih," bisik Gavin gemas.


"Ya kan bukan salah saya, salah Dokter, kenapa tadi Do..."


"Woi! cie pasangan pengantin baru udah teriak-teriak aja pagi-pagi, baru juga sah, Dian,"


Diandra melompat ketika Drian menepuk pundaknya keras-keras, bukan hanya tepukan yang keras tetapi juga suara Drian menggelegar, kembali menyita perhatian para tamu undangan yang hadir, dia buru-buru menimpuk Drian keras-keras, tak lupa cubitan maut Diandra mendarat di lengan Drian sampai Kakak nomor dua Diandra itu menjerit kesakitan.


"Parah dari dulu kenapa nggak ilang sih hobby nyubitnya, heran aku!" gerutu Drian sambil mengusap bekas cubitan Diandra.


"Bodo!" Diandra menjulurkan lidah ke arah Drian, hal yang membuat Drian mencebik lalu menatap Gavin yang nampak menahan tawa.


"Adik ipar hati-hati deh yah sama dia garang amat kayak macan," bisik keras Drian, sengaja agar Diandra dengar.


"Heran! mau-maunya sih sama dia Dok," ucap Drian lagi.


Tentu Drian bingung hendak memanggil Gavin ini dengan sebutan apa, Gavin memang suami adiknya sekarang hanya saja selisih umur Drian dan Gavin sangat jauh, jauh lebih tua Gavin tentunya, dasar adik tidak berakhlak! kenapa selera Diandra jadi om-om macam ini sih?


"Panggil aja Gavin bang," gumam Gavin sambil menjabat tangan Drian.


Nampak Drian tersenyum masam, mimpi apa dia semalam dapat adik ipar yang usianya jauh lebih tua dari dirinya, sama sekali tidak pernah Drian bayangkan semua ini, semua ini tentu karena ulah Diandra bukan? kenapa Drian baru tahu kalau selera adiknya berbeda dengan gadis pada umumnya?


Diandra menatap dua orang yang tengah berbincang itu dengan bibir mengerucut, ****** satu ini memang lebih menyebalkan dari ****** nomor satu, harap-harap Drian tidak membuka aib Diandra pada Gavin kalau tidak bisa habis Diandra tengsin!


Diandra kembali menyuapkan puding di depannya, ketika tepukan halus itu mendarat di bahunya, Diandra menoleh tersenyum penuh arti ketika mendapati sosok itu berdiri di belakangnya.

__ADS_1


"Congratulation, Dian! semoga bahagia selalu yah,"


###########


"Dok pelan Ah! sakit nih!" Diandra menggerutu dia sudah cukup kesulitan dan Gavin terlihat cuek bebek tidak peduli.


"Makanya cepetan dong, Dian, lama banget sih," ucap Gavin.


Sebuah kalimat yang membuat Diandra membelalakan mata, dia segera menimpuk bahu lelaki yang sudah sah menjadi suaminya ini, menatapnya dengan tatapan kesal.


"Siapa suruh badan setinggi langit gitu, jadinya saya harus pakai sepatu dengan heels cukup tinggi kan?" protes Diandra tidak terima, dia tidak terbiasa pakai stiletto dan sekarang dia harus pakai sepatu dengan hak setinggi lima belas centimeter agar tidak terlalu jomplang dengan tubuh Gavin yang menjulang.


"Loh kamu yang pendek kenapa jadi saya yang salah sih, Dian?" Gavin ikut melotot nampak wajah itu juga tidak terima, bukan salah dia kalau tinggi tubuhnya hampir seratus delapan puluh centimeter.


"Lah saya kalau diminta juga pengen punya tubuh tinggi menjulang Dok, biar bisa freelance jadi super model tapi mana bisa udah dari sononya ini cuma segini tingginya," kembali Diandra melotot, sungguh kenapa menyebalkan sekali lelaki ini?


"Lah sama! saya jug..."


"Astaga! please lah Dian, Dokter Gavin kenapa malah jadi ribut begini sih?" Kiki yang mengikuti sejak tadi di belakang mereka sudah tidak sanggup lagi, kepalanya mendadak pusing mendengar dan melihat sepasang suami istri itu ribut bahkan sejak mereka keluar dari kamar setelah beres bersiap-siap tadi.


"Ini nih Dokter Gavin yang mulai, nggak tahu apa kalau pakai stiletto setinggi ini perlu perjuangan," ucap Diandra yang masih tidak terima.


"Lah mana saya tahu, saya kan belum pernah pakai," jawab Gavin sekenanya yang makin membuat Diandra gemas.


Hampir saja Diandra hendak mencubit lengan Gavin, ketika tangan Kiki mencekal tangan Diandra, dengan sisa kesabaran yang Kiki miliki dia meraih tangan Dosen yang terkenal ganteng seantero kampus, menyatukan tangan mereka dan menatap gemas ke arah keduanya.


"Bisa nggak kalau berantemnya dipending nanti? di dalam udah ditunggu banyak orang jadi sekarang mending diam! fokus ke acara kalau udah selesai baru deh mau berantem, mau kuda-kudaan terserah deh," Kiki sudah cukup sakit kepala, dia segera mendorong mempelai pengantin baru itu menuju pintu ballroom tempat resepsi mereka hendak digelar tidak membiarkan mereka menjawab atau protes.

__ADS_1


"Nggak usah modus ya nanti Dok," ucap Diandra yang akhirnya pasrah tangannya digenggam Gavin, mereka sudah hampir sampai.


"Modus apaan sih? kamu mungkin yang berharap saya modusin kan?" ucap Gavin.


Kiki menepuk jidatnya sambil geleng-geleng kepala, sementara salah seorang tim WO yang ikut bersama mereka nampak melongo menyaksikan keributan mempelai yang hari ini pesta pernikahannya dia handle.


"Mulai lagi," desis Kiki lemas, dia baru tahu kalau keduanya begitu absurd kalau sedang berdua macam ini.


"Dian tuh, Kiki. Saya mah diam dari tadi Diandra yang cari gara-gara mulu sama saya," Gavin nampak tidak terima, sedetik kemudian dia memekik ketika Diandra mempererat genggaman tangan mereka dengan sengaja.


"Aduh sakit Dian," ucap Gavin.


"Biarin tau rasa! kenapa bisa jadi saya yang Dokter bilang cari gara-gara? heh? kan dokter yang..."


"Stop!!!" Kiki setengah berteriak saking gemasnya.


"Udah cukup yah, nggak ada lagi salah-salahan, fokus ke resepsi sampai beberapa jam ke depan setelah itu terserah kalian oke?" ucap Kiki.


Diandra menatap Gavin dengan kesal, dihirupnya udara banyak-banyak terus melangkah dengan tangan mengait di lengan Gavin, di depan mereka pintu berhiaskan bunga-bunga segar itu sudah menyambut mereka dan di dalam ruangan itu ada ratusan tamu undangan menunggu.


Agaknya Kiki benar, mereka perlu kalem barang beberapa saat untuk sekedar menjaga image, awas saja nanti kalau bujang lapuk ini cari gara-gara, Diandra tidak akan tinggal diam!


Sementara Diandra menggerutu, Gavin sekuat tenaga menahan semua rasa grogi yang menyerapnya, diam-diam dia melirik Diandra yang malam ini begitu cantik sempurna dengan ballgown warna putih dan mahkota yang bertengger di kepala.


Sungguh Gavin akui Diandra cantik sekali, sangat cantik kalau saja sikap menyebalkan yang dia miliki bisa dia hilangkan atau setidaknya dia kurangi, kini Gavin benar-benar ragu, bisakah dia memegang janji yang diucapkan pada Diandra?


Bisakah dia malam ini benar-benar tidak akan melakukan apapun pada Diandra?

__ADS_1


__ADS_2