
Diandra membelalakkan mata, dia tidak salah dengarkan dia harus berciuman dengan Gavin? gila! Diandra baru ingat bahwa memang resepsi ala internasional style akan ada sesi ini dalam rentetan acara resepsi
Mereka baru saja beres melakukan wedding dance, masih saling berpegangan tangan dan sekarang mereka harus...
"Dok serius kita harus..."
Diandra terkejut hampir memekik ketika Gavin menarik tubuhnya sedikit lebih dekat, wajah mereka jadi begitu dekat sangat dekat sampai Diandra bisa melihat dengan jelas bola mata Gavin yang hitam pekat, alis Gavin tebal dan rapi, jangan lupa bibir itu... bibir itu begitu...
Diandra sudah tidak lagi bisa memikirkan apa-apa, karena sesuai dengan aba-aba dari MC acara mereka malam ini yang merupakan seorang selebriti tersohor, Gavin tiba-tiba meraup bibirnya dengan begitu lembut tanpa meminta persetujuan lebih dulu dari Diandra.
Bibir itu begitu lembut, sangat lembut sekali sampai Diandra yang semula ingin protes dan mendorong wajah itu menjauh mendadak lupa akan segala macam protes yang hendak diajukan,, Diandra merasakan tubuhnya meremang, wajahnya memanas dan sebuah perasaan aneh berdesir hampir ke seluruh tubuh, suara tepuk tangan dan sorak meriah yang terdengar sama sekali tidak menarik perhatian Diandra, karena fokusnya hanya pada sensasi ini.
Mata Diandra yang semula terpejam perlahan-lahan membuka ketika pangutan bibir itu terlepas, bisa dia lihat wajah Gavin masih begitu dekat, wajahnya memerah dan bibir itu... kenapa Diandra jadi begitu gemes dengan bibir itu?
"Dian, kamu cantik banget malam ini,"
############
"Astaga! Dian sumpah tadi itu wedding kiss paling berkesan seumur hidup aku," gumam Kiki sambil membantu Diandra melangkah.
Acara sudah selesai semua keluarga sebenarnya masih berkumpul di venue acara, hanya saja Diandra sudah tidak sanggup lagi jika harus memakai gaun dan sepatu ini lebih lama, jadilah dia meminta Kiki mengantarkannya balik lebih dulu ke kamar.
Mendengar kata 'kiss' wajah Diandra sontak memanas, bujang lapuk itu sudah mencuri ciuman pertama Diandra! dasar kurang ajar! kenapa juga kemarin dia setuju pakai tema internasional untuk acara resepsinya, setahu Diandra kalau dia pakai tema tradisional tidak ada sesi cium-cium macam tadi kan? ini pasti akal-akalan si bujang lapuk itu supaya bisa mesum pada dirinya kan? kurang ajar!
"Dian malah bengong" Kiki menepuk punggung Diandra dengan gemas membuat Diandra tersentak dari lamunannya, mata Kiki membulat dia sontak nyengir lebar sambil menunjuk hidung Diandra.
"Hayo, bayangin ciuman kalian tadi kan? hayo ngaku," goda Kiki dengan senyum penuh kemenangan.
Diandra sontak kelabakan.
"Apaan! nggak, nggak ada bayangin kejadian tadi, sumpah malu-maluin banget," elak Diandra mencoba memasang wajah meyakinkan agar Kiki percaya.
Kiki mencebik.
__ADS_1
"Aku kenal kamu udah lama, Dian, tahulah aku apa arti merah wajahmu itu," desis Kiki yang kembali membuat Diandra gelagapan.
"Aaa Kiki..." Diandra berteriak gemas, kenapa sih Kiki malah meledeknya macam ini?
Tawa Kiki pecah, dia tertawa terbahak-bahak membuat Diandra langsung otomatis mengerucutkan bibirnya dengan kesal.
"Akui saja, Dian! kamu mulai ada rasa kan sama dosen ganteng terfavorit se kampus itu?" goda Kiki yang makin membuat wajah Diandra memanas.
"Aku ada rasa sama dia?" Diandra kembali memekik.
"Kamu nggak lihat sejak tadi gimana absurdnya dia?" ucap Diandra lagi.
Kiki kembali nyengir, dia masih membantu Diandra melangkah menuju kamar yang sudah disiapkan khusus untuk pengantin baru ini, benar apa yang Kiki katakan, mereka benar-benar serasi tadi,, ponsel Kiki hampir penuh dengan foto Diandra dan Gavin baik saat prosesi ijab qobul maupun resepsi dan tak lupa video ketika wedding kiss tadi, ah... kenapa rasanya dia begitu bahagia hari ini!
"Dibalik sikap absurd itu terkadang menyimpan perasaan lain loh, Dian" bisik Kiki yang entah mengapa dia jadi suka sekali menggoda Diandra.
Diandra membelakakan mata, perasaan lain? perasaan apa? perasaan apa yang Kiki maksud ini?
"Ki, udah deh,, mendingan ka..."
"Nggak ada! Nggak ada dia di daftar undangan!" jawab Diandra tegas.
Memang dia siapa? Diandra saja tidak kenal dengan si Tati itu.
"Ah... kamu jealous yah kalau dia semisal datang?" ucap Kiki.
Diandra kembali memekik.
Dia cemburu? dia cemburu dengan gadis itu? buat apa sih? Diandra terkekeh, kenapa juga Diandra harus cemburu dengan dia? mendadak ada sebuah pertanyaan yang menyelip di otak Diandra, efek pertanyaan yang Kiki lontarkan.
Bagaimana wujud gadis itu? secantik apa? kenapa Gavin lebih memilih menikahi Diandra daripada Tati yang disodorkan ibunya?
"Kiki aku malah jadi penasaran nih," gumam Diandra ketika mereka sudah masuk ke dalam kamar.
__ADS_1
"Penasaran sama apa?" Kiki menutup pintu kamar, segera membantu Diandra duduk di tepi ranjang untuk bersiap berganti pakaian.
"Penasaran sama si Tati itu orangnya kayak gimana gitu loh? kenapa malah dia maksa banget nikahin aku daripada si Tati," jelas Diandra sambil melepas stiletto yang sejak tadi menyiksanya.
"Aku tahu," jawab Kiki spontan membuat alis Diandra berkerut.
"Apa?" tanya Diandra.
"Ya alasan Dokter Gavin lebih milih nikahin kamu lah," Kiki mengambil sepasang sepatu itu meletakkan kembali pada kotaknya.
"Memang apa?" Diandra melepaskan anting di telinga dengan perlahan.
Kiki tersenyum duduk di samping dan lalu berbisik lirih.
"Karena Dokter Gavin itu sebenarnya suka sama kamu," bisik Kiki.
"Apa! nggak mungkin," ucap Diandra.
##############
Gavin menghela nafas panjang, usai sudah semua rentetan acara hari ini, rasanya tubuh Gavin begitu lelah luar biasa, setelah ini rasanya dia ingin mandi bersih-bersih dan langsung tidur.
Tidur?
Sejenak Gavin teringat bahwa mulai malam ini dia tidak lagi tidur sendirian, tetapi akan ada Diandra yang harus dia bagi ranjang.
Tidur satu ranjang dengan Diandra? apa yang akan terjadi nanti? apakah benar Gavin bisa menahan diri setelah ini atau malah dia akan nekat memaksa Diandra melakukan apa yang dia mau? memperkosa dia begitu? atau...
"Ah Gavin! pikiranmu sampai sana terus sih Vin!" Gavin mengingatkan dirinya, perjanjian itu sudah mereka sepakati berdua bahkan Diandra sudah mengancam akan langsung minta cerai jika Gavin memaksakan hasratnya pada Diandra, tidak peduli Diandra sudah sah menjadi istrinya.
Tapi apakah salah Gavin terus memikirkan itu? dia lelaki dewasa dan matang! tentu tidak salah kalau kemudian pikiran Gavin terus tertuju pada hal itu, dia sudah menikah bukan? dan hal tersebut lazim dilakukan pasangan yang sudah menikah yang belum menikah pun banyak yang sudah melakukan hubungan tersebut.
Gavin mengusap wajahnya dengan kedua tangan berusaha mengenyahkan bayangan itu dari dalam pikiran, Gavin menempelkan card akses nya,, menekan knop pintu dan membuka pintu kamar itu lebar-lebar.
__ADS_1
Gavin hendak melangkah masuk ke dalam ketika teriakan itu mengejutkan dirinya.
"Aaaa... Dokter ngapain!"