
"Kepo! sana cobain sendiri biar tahu gimana rasanya," Diandra menjulurkan lidah, wajahnya memerah pasti kalau mereka bertemu Kiki akan terus-terusan mengejeknya, mengatainya dan lain sebagainya, ah nasib memang.
Kembali Kiki terkekeh, tertawa terbahak-bahak sampai wajahnya memerah, Diandra lantas mencebik, kembali membetulkan letak selimut yang satu-satunya menjadi penutup tubuhnya saat ini.
"Kita harus meet up, aku mau wawancara!" desis Kiki kemudian.
"Eh? apaan gak ada ya wawancara," tidak akan Diandra jawab kalau Kiki mempertanyakan masalah momen intim Diandra kemarin, cukup dia dan Gavin yang tahu.
"Pokoknya!" nampak dia tidak menyerah.
"Kamu udah di rumah Dokter Gavin, besok ketemu di kafe biasa, pokoknya awas nggak datang," ucap Kiki.
Tutttt...
__ADS_1
Sambungan terputus, Diandra mendesah panjang Kiki tidak akan pernah berhenti menanyai dirinya sebelum dia mendapatkan jawaban dari apa yang dia tanyakan pada Diandra, wajah Diandra lantas memerah teringat betapa erotis momen yang sudah dia lewati bersama Gavin kemarin.
Sebuah momen yang membuat Diandra sadar bahwa dia bukan lagi gadis belia muda yang bebas hore-hore seperti biasanya. Kini dia sudah menjadi wanita dewasa seorang istri dan bahkan calon ibu.
Mendadak senyum Diandra hilang, apakah dia sudah siap menjadi seorang ibu? hamil, melahirkan? apakah benar Diandra sudah siap?
Diandra tengah overthinking, berbaring di atas tempat tidur sambil memikirkan hal tersebut ketika pintu kamar terbuka, nampak Gavin muncul dengan kaos dan celana jeans pendek, sebuah penampilan yang membuat Gavin tampak begitu muda dan santai, bukan hanya penampilan yang membuat Diandra tercengang tetapi juga apa yang ada ditangan suaminya itu, sebuah nampan?
"Morning sayang, sarapan dulu yuk," senyumnya merekah, nampak terlihat jelas wajah itu begitu bahagia belum pernah Diandra lihat Gavin sebahagia ini.
"Kenapa nggak dibangunin tadi?" tanya Diandra begitu Gavin duduk di tepi ranjang, nampan di tangannya sudah berpindah ke atas nakas, dilihat dari penampilannya Gavin sudah mandi, bau parfum kesukaan Diandra sudah menempel dan semerbak memanjakan indra penciuman Diandra.
"Kamu pules banget tidurnya, aku nggak tega sayang," tangannya terulur memindahkan rambut berantakan itu ke belakang telinga Diandra.
__ADS_1
"Sarapan dulu yah, mumpung masih libur jalan-jalan mau?" tanya Gavin sambil memandang istri cantiknya itu.
Mata Diandra membulat, sisi lain Gavin kini terlihat jelas di mata Diandra, sisi yang benar adanya dan nyata Gavin miliki di balik semua sisi yang selama ini terlihat di depan banyak orang.
"Mau! kita mau ke mana?" tanya Diandra antusias.
"Ya paling ke mall, maaf ya belum bisa ajak kamu liburan, honeymoon, nggak apa-apa kan?" tangan itu mengelus lembut pipi Diandra membuat senyum Diandra merekah sempurna.
"Iya nggak apa-apa, aku ngerti," Diandra menatap wajah itu dan menyadari bahwa benar dia sudah jatuh cinta pada Gavin.
"Di rumah aja sama Mas udah senang banget kalau aku," ucap Diandra.
##########
__ADS_1
"Beli di mana?" Diandra mengaduk bubur dalam mangkuk sementara Gavin memijat kaki Diandra, dia tahu sang istri kelelahan memenuhi hasratnya kemarin.
"Warung bubur yang sama saat kamu teriak-teriak katanya aku melucuti pakaian mu di mimpi," tentu Gavin masih ingat betul momen itu, momen yang membuat Gavin rasanya ingin menelan Diandra hidup-hidup saat itu juga.