
"Mmmm... permisi, Bang," Diandra menarik tangannya yang di genggam Derren.
Sebuah petaka akan muncul jika ada sejawat suaminya atau bahkan suaminya sendiri yang melihat tangan itu menggenggam tangan Diandra di atas meja seperti barusan, meskipun hanya beberapa detik, tetapi ini tetap tidak etis.
Diandra bukan wanita lajang lagi, dia sudah bersuami!
Nampak sosok itu menghela nafas panjang, nampak menganggukkan kepalanya dan tersenyum melihat bagaimana Diandra menolak dirinya.
"Kamu beneran cinta sama dia, Dian?" tanya Derren.
Apa-apaan ini!
Diandra rasanya hendak bangkit dan pergi dari kursinya namun itu kekanakan dan malah akan membuat Derren makin penasaran kepadanya, terlebih nanti dia akan koas di rumah sakit ini yang mana Diandra tidak hanya akan intens bertemu Derren tapi mungkin juga dapat satu shift jaga malam bersama lelaki ini, jadi rasanya daripada mendadak kabur tanpa menjelaskan apapun lebih baik Diandra menjawab sebuah pertanyaan yang terdengar sangat tidak sopan di telinga Diandra.
"Kalau tidak untuk apa aku mempertaruhkan masa depan dan hidupku dalam pernikahan ini Bang?" tantang Diandra dengan sorot mata tajam.
"Agaknya aku nggak perlu juga akan menjelaskan secara detail perasaan aku dengan bagaimana pernikahanku, itu privasi!" tegas Diandra yang nampak sangat tidak suka dengan apa-apa saja yang keluar dari mulut Derren sepanjang mereka duduk di meja ini.
Huh! tadi katanya tidak berniat mengajak Diandra macam-macam, tapi obrolan ini sudah cukup keterlaluan, beruntung Gavin tidak ada dan masih ada urusan di OK, kalau tidak bisa salah paham dia, dikira Diandra ganjen, diam saja dipegang tangannya macam tadi.
"Maaf kalau itu membuat kamu nggak nyaman, Dian" nampak wajah itu berubah sendu, menampilkan sorot penyesalan di mata itu.
"Sangat nggak nyaman Bang," Diandra kembali menegaskan.
"Aku harap ini pertama dan terakhir kalinya hal macam ini terjadi," sorot Diandra berubah tajam.
__ADS_1
"Aku hanya sedang berusaha menjaga suamiku, nama baiknya, martabatnya dan tentu saja kepercayaan yang dia kasih ke aku," ucap Diandra lagi.
Derren kembali menghela nafas panjang, dia lantas mengangguk sebagai tanda bahwa dia mengerti dan tentu saja membenarkan apa yang Diandra katakan barusan, tidak dia sangka, Diandra cukup dewasa ternyata.
"Baik aku mengerti! sekali lagi aku minta maaf," ujarnya sambil menatap mata Diandra.
Diandra menghela nafas panjang mengangguk pelan lalu meraih tasnya dan bangkit dari kursi.
"Oke! it's okay," sebuah senyum masam Diandra tampilkan.
"Aku pamit dulu Bang, mau nyusul suami ke OK," ucap Diandra tanpa menunggu jawaban dari Derren, Diandra melangkah meninggalkan lelaki itu seorang diri tidak peduli bahwa donat dan croissant yang Diandra pesan bahkan belum disentuh, jangan lupa coklat milkshake nya yang baru saja mendarat, Diandra tinggalkan begitu saja.
Matanya memerah ada secercah perasaan bersalah menyelimuti hati Diandra, dia merasa sudah mengkhianati kepercayaan yang Gavin berikan, istri macam apa dia ini?
Ditahannya air mata kuat-kuat, mempercepat langkahnya sesekali melihat ke belakang berharap Derren tidak sampai mengikuti langkahnya menuju depan OK, kalau sampai dia mengikuti langkahnya sampai ke depan OK, itu namanya dia cari mati!
Senyum Diandra merekah, kenapa dia jadi begitu rindu pada bahu dan pelukan hangat suaminya?
###########
Gavin mengeram, mencengkeram setir mobilnya dengan kuat, bayangan bagaimana tangan lelaki tadi memegang erat tangan istrinya terus terngiang, Gavin tidak terima! tentu sebagai lelaki dia tidak terima ada laki-laki lain yang menyentuh tangan istrinya seperti itu.
Bisa saja tadi dia masuk dan menegur lelaki yang nampaknya juga seorang Dokter itu, atas tindakan apa yang sudah dia lakukan pada sang istri, tapi Gavin tidak yakin kalau dia bisa menahan emosinya ketika berhadapan langsung dengan lelaki itu, hal yang kemudian membuat Gavin lebih memilih pergi dan menenangkan diri sejenak daripada mencari ribut dengan lelaki itu di rumah sakit.
"Sabar, Vin sabar!" Gavin memperingatkan dirinya sendiri untuk tetap sabar.
__ADS_1
Dia belum meminta penjelasan dari Diandra, siapa tahu sang istri punya penjelasan atas apa yang tadi terjadi dan terlihat oleh mata Gavin, tapi tidak sekarang karena Gavin ingin pergi dan melenyapkan dulu emosinya yang memuncak, dia takut mengeluarkan kata atau perbuatan yang tidak hanya akan melukai perasaan istrinya tetapi juga akan menimbulkan masalah baru.
Jadilah Gavin memilih pergi ikut teman-temannya bermain billiard sejenak daripada harus menemui Diandra saat ini, ada banyak hal yang Gavin takutkan akan terjadi dan memperkeruh masalah jadi lebih baik saat ini Gavin menenangkan diri terlebih dahulu.
Mungkin di mata orang dia ini berlebihan, keterlaluan dan tidak masuk akal, tetapi Gavin punya alasan, Gavin punya sesuatu yang kini bahkan sudah mencengkram kuat hatinya dengan begitu luar biasa, tidak akan ada orang yang paham bagaimana perasaan Gavin, bagaimana perasaan itu kini menyiksa Gavin dengan begitu kejam dan menimbulkan sakit pada lukanya yang sudah sembuh.
Gavin pernah merasakannya dulu, sebuah perasaan yang membuat Gavin begitu takut dan memilih untuk sendiri daripada harus kembali merasakan perasaan itu, sebuah alasan yang membuat dia melajang cukup lama dan akhirnya bertemu dan ditakdirkan menikahi mahasiswinya sendiri, Diandra.
"Karena aku pernah percaya berujung dikecewakan, aku pernah bertahan berujung ditinggalkan, aku pernah memakai logika tetapi ternyata logika aku diremehkan begitu saja,"
Gavin bergumam sendiri, dia mencengkram kuat setir itu sambil terus berusaha mengenyahkan segala perasaan yang kini sudah bercokol dan mencengkeram kuat hatinya saat ini, jangan sampai semua perasaan itu menghancurkan semua hal indah yang baru saja Gavin miliki dan rengkuh setelah sekian lama terpuruk.
Bagaimanapun caranya Gavin harus segera tenang dan pulang dalam kondisi hati yang lebih baik, tidak boleh ada kalimat buruk yang terucap, tidak boleh ada masalah baru yang muncul setelah ini, tapi apakah Gavin sanggup?
Apakah dia sanggup mengalahkan perasaannya sendiri?
#########
Derren menatap nanar segelas chocolate milkshake yang tersaji lengkap bersama dua buah donat serta croissant itu, hatinya menjerit kenapa Diandra tidak mengerti bahwa Derren sudah menaruh hati bahkan sejak dulu sekali kepadanya? ketika kini Derren sudah lumayan mapan dan bisa kalau mau nekat menikahi dia, kenapa Diandra malah menikah dengan lelaki lain?
"Gila kau Derren," rutuknya pada diri sendiri.
"Jangan merendahkan dirimu dengan melakukan hal hina itu," ucap Derren lagi.
Tentu Derren tidak boleh main-main, Diandra sudah istri orang sekarang dan benar apa yang tadi Diandra katakan bahwa ada hati dan kepercayaan laki-laki yang harus dia jaga, siapa lagi kalau bukan suaminya!
__ADS_1
Derren mencoba membesarkan hati, tapi kenapa rasanya begitu sulit?