
Gavin menjatuhkan tubuhnya di sisi sang istri ketika permainan mereka kali ini usai, kembali tubuhnya bersimbah peluh, nafasnya tersengal dan tidak beraturan dia melirik istri mungilnya itu, nampak kondisi Diandra tidak jauh berbeda darinya, rambut panjang sang istri nampak berantakan membuat Gavin tersenyum bahagia karena sudah membuat Diandra sampai se berantakan itu. Terkadang masih tidak menyangka Diandra sekarang sudah menjadi istrinya.
"Mas please! udah dulu cukup buat hari ini," desis Diandra di sela-sela nafasnya yang belum teratur, Diandra heran pada suaminya itu yang sepertinya tidak capek, padahal Diandra sudah sangat kelelahan.
Mendengar itu Gavin langsung mencebik, dia meraih pinggang Diandra, memeluk tubuh bersimbah peluh itu, lalu menjatuhkan kecupan di pipi Diandra berulang kali.
"Kenapa udah? kalau aku masih pengen?" ucap Gavin sambil melihat istrinya.
Tangan Diandra langsung mencubit lengan kekar yang memeluknya, membuat tawa Gavin lantas pecah, tangan Gavin semakin mempererat pelukannya, tidak peduli tubuh mereka begitu lengket dan panas saat ini.
"Aku masih pengen, Dian" bisik Gavin dengan begitu mesra di telinga Diandra.
__ADS_1
"No... No," Diandra langsung berteriak, sebuah teriakan yang membuat Gavin meloncat kaget.
"Sakit Mas ishhh, langsung terasa perih kalau udah beres begini," ucap Diandra.
Gavin kembali mempererat pelukannya, seulas senyum tergambar di wajah itu, puas? jangan ditanya bagaimana Gavin begitu puas hari ini, akhirnya setelah gagal berkali-kali menyentuh sang istri, kini Gavin bahkan terhitung sudah dua kali meneguk nikmat dari tubuh mungil istrinya, hal yang seumur hidup baru Gavin dapatkan dari Diandra.
"Oke deh, tapi besok aku nggak janji loh, ya?" kembali Gavin berbisik pada Diandra, tentu dia tidak bisa memaksakan kehendaknya pada sang istri bukan?
"Sayang," panggil Gavin lirih, sebuah panggilan dengan bonus kecupan membabi-buta yang Gavin daratkan di pipi sang istri, sebuah kecupan yang lantas memaksa Diandra membuka mata.
"Apaan lagi sih Mas? please jangan coba-coba deh yah!" ucap Diandra.
__ADS_1
"Galak amat sih?" Gavin terkekeh, kenapa rasanya begitu nyaman memeluk tumbuh mungil itu seperti ini?
"Ngantuk, Mas! serius," bibir itu mencebik, hal yang sebenarnya membuat Gavin ingin kembali mencium bibir itu dan menikmatinya, tapi mengingat efek apa yang akan ditimbulkan jika Gavin benar-benar mencium bibir sang istri membuat dia lantas mengurungkan niatnya.
"Ya udah bobok aja, biar Mas peluk begini," sebenarnya Gavin hendak protes. Ngantuk Diandra bilang? sepanjang perjalanan Madiun-Solo tadi Diandra tidur begitu nyenyak dan sekarang dia bilang kalau mengantuk?
Padahal Gavin yang menyetir saja sampai sekarang belum ngantuk! padahal kata orang lelaki kalau habis begituan pasti mengantuk bukan? tapi kenapa Gavin tidak? Ah! agaknya Gavin lupa, dia masih ingin mencoba merayu sang istri hingga melupakan rasa kantuk yang menyerangnya.
Diandra tidak menjawab, kembali memejamkan mata dan mencoba tertidur, Gavin tersenyum mengecup bahu Diandra yang masih telanjang itu sambil menikmati aroma tubuh sang istri, bagaimana parfum miliknya, milik Diandra dan tentu saja peluh mereka berdua berpadu dan menempel dengan begitu sempurna di tubuh mereka berdua, kenapa aromanya begitu nikmat di indra penciuman Gavin? sebuah aroma sensual yang kembali membangkitkan gairahnya seketika.
"Jangan, Vin! tahan... daripada akses mu diblokir nanti, lebih baik tahan dulu," ucap Gavin di dalam hatinya.
__ADS_1