
"Vin!"
Gavin yang baru saja melangkah keluar dari ruang nomor tiga itu sontak menoleh, dia bahkan masih dengan gown dan perintilan lainnya ketika lelaki dengan snelli lengan panjang itu sontak membantunya melepaskan gown dengan wajah tampak begitu panik.
"Udah kelar, kan Vin?" Tanya sosok itu sambil melemparkan gown itu ke atas meja. Hal yang sebenarnya sangat tidak boleh dilakukan kalau tidak ingin para perawat OK mengamuk tempat mereka di buat berantakan.
"Kalau aku udah keluar begini tentu kau tahu apa artinya, kan?" Gavin tersenyum, melepas handscoon yang dia kenakan.
"Bagus! Buruan ke IGD, Vin!"
Gavin menoleh, padahal dia belum mengambil napas untuk sekedar melepaskan penat dan stress yang dia rasakan dan sekarang saja sudah harus kembali menerima pasien? Hebat sekali!
"Kasus apa?" Tanya Gavin dengan alis berkerut.
"Istrimu di IGD, Vin! Lagi ditangani Dokter Rizky!"
Bagai disambar petir, Gavin langsung melonjak mendengar kabar itu. Rizky adalah sejawat obsgyn dan itu artinya.....
Gavin segera berlari menerjang pintu OK, tidak peduli dia belum cuci tangan dan nurse cap itu masih bertengger membungkus kepalanya, Gavin hanya khawatir dan panik pada Diandra dan tentu saja calon bayi mereka!
Apa yang terjadi? Kenapa mereka bisa sampai IGD? Mereka baik-baik saja, bukan? Bayangan bagaimana Diandra marah tadi terlintas di dalam benak Gavin, membuat air mata Gavin mengambang membayangi pelupuk mata. Dada Gavin mendadak sesak, harapannya tentu anak dan istrinya baik-baik saja! Hanya itu!
Gavin segera menerjang masuk OK dengan wajah tegang. Koas yang paham langsung membawa Gavin menuju bed paling ujung, membuka tirai dan nampak Diandra tengah berbaring dengan wajah pucat. Di sisinya ada gadis dengan seragam batik dan rok span putih. Melihat wajahnya yang sama pucat dengan lelehan air mata, Gavin tertegun sejenak.
Kenapa wajah anak itu begitu mirip dengan Rachel sebelum dia mempermak total penampilannya?
__ADS_1
Namun Gavin tidak punya banyak waktu memikirkan itu, dia langsung meraih tangan Diandra, menggenggam erat tangan itu dan menoleh ke arah Rizky.
"Ky, Diandra kenapa, Ky?" Gavin begitu panik, dia tidak melihat ada darah di sana, hanya siku tangan kiri Diandra nampak tengah di bersihkan lukanya.
"Jatuh tadi katanya. Tapi tenang, Vin, janinnya baik-baik saja kok, semua baik." Jelas Rizky sambil tersenyum.
"Aku tinggal dulu ya, kalau ada apa-apa aku di belakang, Vin. Kau tau harus mencariku kemana."
"Iya terima kasih Ky." Gavin menatap sejawatnya itu, Rizky hanya mengangguk sambil tersenyum, lalu menghilang dari balik tirai meninggalkan mereka bertiga.
Rasanya hati Gavin lega luar biasa, dia langsung mengecup puncak kepala Diandra tanpa melepaskan genggaman tangan mereka.
"Syukurlah. Rasanya aku kayak mau mati, Dian! Serius." Desis Gavin yang membiarkan air matanya menitik.
"Om eh Kak, aku minta maaf. Karena aku Kak Dian jadi kayak gini."
Kini Gavin menoleh, gadis itu menundukkan wajah sambil terisak. Gavin menatap istrinya, seolah mempertanyakan siapa gadis itu pada Diandra.
"Ini Aliya yang dulu aku cerita, Mas." Jawab Diandra sambil menyeka air mata.
"Tadi ada yang berniat nggak baik sama dia, jadi aku berusaha nolong."
"Sekali lagi maafin aku ya, Om eh Kak maksudnya,"
Gavin menghela napas panjang, dia lantas menepuk bahu gadis itu, membuat wajahnya terangkat dan untuk kedua kalinya, Gavin seperti melihat diri Rachel ada di sana. Sebenarnya apa hubungan gadis ini dengan Rachel?
__ADS_1
Belum sempat Gavin menjawab, tirai itu tersingkap. Sosok itu muncul dan membuat Gavin terkejut luar biasa. Bukan hanya Gavin, lelaki itu juga nampak terkejut bukan main. Belum habis rasa terkejut yang menyergap Gavin, gadis yang memperkenalkan diri sebagai Aliya itu sontak melompat ke dalam pelukan lelaki itu.
"PAPA?" Teriaknya lalu menjatuhkan diri ke dalam pelukan lelaki yang Gavin masih kenal betul siapa dia.
"Aku kangen banget sama Papa! Mama sama sekali nggak kasih izin buat aku ketemu Papa, atau bahkan telepon Papa!" Desis gadis itu sambil terisak hebat.
Gavin sontak tertegun. Papa? Aliya memanggil Sony yang tak lain dan tak bukan adalah lelaki yang dulu merebut dan menikahi Rachel, jadi itu artinya....
"Apaan sih, lepas nggak!" Gavin masih memikirkan kemungkinan itu ketika suara itu melengking dan nampak menarik Aliya dari pelukan Sony.
Diandra hendak bangkit, namun Gavin mencegahnya. Dia menggeleng dan memaksa istrinya kembali berbaring. Hal yang kemudian membuat Diandra menurut dan kembali berbaring di atas brankar.
"Aku hanya ingin ketemu anakku, Hel! Aku kangen sama mereka!" suara itu terdengar pilu, menatap nanar Aliya yang sudah ditarik menjauh darinya.
"Aku sudah katakan berkali-kali bahwa aku tidak akan izinkan anak-anak ketemu kamu!" Tegas Rachel sengit.
"Oh! Kau takut anak-anak tahu perselingkuhan kamu yang bikin kamu harus menyingkir jauh sampai sini, iya?"
Bukan hanya Gavin, nampak semua yang di sana terkejut bukan main. Apa maksudnya ini?
"Kau takut aku cerita ke anak-anak apa alasan aku menceraikan kamu, iya?" Suara Sony bergetar hebat, nampak dia begitu emosi.
"TUNGGU!" Aliya berteriak, nampak bahunya naik turun.
"Apa maksudnya Ini? Siapa yang sebenarnya selingkuh? Mama atau Papa?"
__ADS_1