Musuhku Suamiku

Musuhku Suamiku
Sorry yah Vin!


__ADS_3

"Om Gavin,"


Teriakan riang dan manja itu sontak melenyapkan segala kesal yang tadi menguasai Gavin, senyum Gavin merekah ketika gadis itu sudah duduk di sebelah Diandra, mereka nampak tengah asik mengobrol membuat Gavin melangkah mendekati mereka berdua.


"Loh Sisil belum bobok?" tangan Gavin mengelus lembut kepala Sisil dan duduk tepat di sisinya, hingga kini Sisil berada di tengah-tengah mereka.


"Sisil mau bobok sini, kelonin kayak biasa ya Om," sebuah permintaan polos yang tidak mampu Gavin tolak.


"Udah pakai pampers nggak? nggak ngompol kan?" goda Gavin sambil mencolek hidung pesek milik Sisil.


"Sisil udah pakai pampers nggak akan ngompol," jawabnya dengan logat menggemaskan.


Tawa Gavin pecah, dia mengangguk lalu menatap Diandra yang nampak ikut tertawa itu, sorot mata Gavin seperti tengah meminta persetujuan dari Diandra sebuah kode yang langsung dibalas anggukan kepala dari Diandra.


"Oke bobok sekarang ya udah malam loh, nggak baik anak seusia Sisil bobok terlalu malam," Gavin segera naik memposisikan diri di atas kasur dan merentangkan dua tangan.


Hal yang langsung membuat mata Sisil berbinar dan melompat ke dalam pelukan Gavin, tawa Gavin pecah, dijatuhkannya kecupan di puncak kepala Sisil lalu di dekapnya tubuh mungil itu erat-erat, jarak mereka begitu jauh sebenarnya, Gavin di Solo, Sisil di Sulawesi tapi entah mengapa dari semua anak Kakak nya hanya Sisil yang paling lengket dengan Gavin, dia selalu minta tidur dikelonin Om nya ini daripada orang tuanya sendiri ketika kebetulan mereka sedang kumpul bersama seperti ini dan berlanjut sampai sekarang, Gavin hanya perlu memeluk dan mengusap punggung Sisil dan tidak perlu waktu lama gadis kecil cerewet ini akan langsung terlelap begitu damai dalam pelukan Gavin.


"Nggak cemburu kan?" tanya Gavin sambil melirik Diandra yang sudah berbaring di sisi Sisil.


Diandra tersenyum tangannya mengelus kepala Sisil yang sudah lelap itu.


"Masa iya sama Sisil cemburu sih? nggak lah!" kalian manis banget dilihatnya," senyum Diandra belum mau hilang membuat Gavin ikut tersenyum sambil menikmati betapa cantik wajah sang istri.


"Dian, boleh minta sesuatu?" tanya Gavin yang membuat Diandra mengangkat wajah dan menatap wajah sang suami.

__ADS_1


"Apa Mas? haus? mau aku ambilin minum?" sebuah pertanyaan yang entah mengapa terdengar begitu manis sekali di telinga Gavin, seorang Diandra yang biasanya menyebalkan setengah mati bisa semanis itu, sungguh Gavin baru tahu senyum Gavin merekah, dia menggeleng perlahan karena saat ini dia tidak sedang haus.


"Aku pengen punya kayak gini sendiri, Dian. Perpaduan dari aku dan kamu jadi satu," ucap Gavin.


Nampak Diandra tertegun, senyumnya lenyap. Gavin paham jika Diandra terkejut dengan permintaannya! unboxing aja belum eh pikiran Gavin sudah sampai sana, tapi bukankah hal yang paling diidamkan pasangan suami istri adalah anak kecuali kalau mereka menganut konsep free child, tapi Gavin tidak menganut konsep itu dan dari pernikahannya dengan Diandra, tentu dia mengharapkan adanya anak.


"Se... sekarang?" tanya Diandra dengan wajah yang masih terkejut.


Gavin tersenyum.


"Nggak! sesiap kamu sayang! sesiap kamu!" ucap Gavin.


Diandra tersenyum, mengangguk pelan dengan senyum yang begitu manis, mata mereka bertemu, hasrat itu kembali muncul tapi Gavin sudah kapok, dia tidak ingin kembali sakit kepala karena sudah terlanjur on dan harus off karena situasi, cukup tiga kali dan kapok, dia lebih memilih sabar menunggu karena sakit kepala karena gagal nganu itu sangat sakit dan cukup tiga kali Gavin merasakannya, jangan lagi-lagi!


#############


Kenapa rasanya sangat damai dan bahagia sekali? jadi seperti ini rasanya punya istri? keluarga kecilnya sendiri? Ah, agaknya Gavin Kevin salah sudah mengabaikan permintaan ibunya agar dia mau menikah, tapi ada hikmahnya juga dia baru mau menurutinya sekarang, partner hidup yang Gavin dapatkan tidak sembarangan!


"Mimpi apa aku semalam bisa nikahin kamu Dian?" desis Gavin lirik lirih menikmati wajah itu.


"Nggak nyangka yah, dulu aku yang kesal setengah mati sama kamu sekarang bisa klepek-klepek sampai mohon-mohon supaya kamu jangan pergi," Gavin pelan-pelan melepaskan pelukan dan membiarkan Sisil terbaring bebas tanpa dekapan apapun.


Ingin sebenarnya Gavin pindah tidur di sisi Diandra memeluk tubuh itu dari belakang, tapi Gavin takut, takut dia kembali meledak gairahnya dan berujung dengan sakit kepala, sudah cukup rasanya dia tertolak hari ini bahkan sakit kepalanya saja belum hilang.


Gavin baru saja akan memejamkan mata ketika kembali pintu kamarnya di ketuk membuat Gavin rasanya ingin ngamuk, apakah memang sudah di setting pintunya yang biasanya sepi itu selalu diketuk malam ini? di saat momen sedang bagus-bagusnya! saat Gavin dalam kondisi turn on? siapa yang menyeting semua ini? tidak mungkin Ibu atau Bapaknya bukan? pasti antara saudara-saudaranya! sungguh jadi anak bungsu itu benar-benar tidak enak selalu dikerjai oleh kakaknya terlebih kalau kakak mereka modelnya macam kakak-kakak Gavin ini.

__ADS_1


Gavin segera bangkit, ketukan itu tidak berhenti jika tadi Ibunya lalu Sisil, kini siapa lagi? Gavin bergegas membuka pintu dan nampak kakaknya sudah berdiri di depan pintu kamarnya.


"Sisil mana Vin? sama kalian nggak? dia hilang dari tadi nggak kelihatan!" nampak wajah itu panik sementara Gavin geleng-geleng kepala.


"Noh, di kelonin, Dian," jawab Gavin.


Wajah panik itu berubah cerah, senyumnya merekah sempurna nampak melirik sang adik sambil menaikkan kedua alis dengan jahil.


"Wah gangguin dong?" kakaknya nyengir lebar sementara Gavin hanya menghela nafas pasrah.


"Udah nganu belum tadi Vin? apa malah baru mulai terus di gangguin Sisil?"


"Udahlah sana minggir aja Mbak, aku mau tidur!" Gavin segera mendorong tubuh tambun sang kakak, membalikkan badannya setengah mengusir, dia malas menanggapi ledekan sang kakak.


"Eh... mau ambil Sisil nih biar kalian bisa lanjut gas bereproduksi Vin," kakaknya belum mau pergi, dia malah membalikkan badan dan hendak masuk ke dalam kamar Gavin.


"Udah nggak usah biar Sisil tidur sama aku malam ini, sana Mbak ngulang lagi aja malam pertama sama suami Mbak, kalau perlu sampai pagi," Gavin bersikeras tidak mengizinkan kakaknya masuk, segera menutup pintu dan mengunci pintu rapat-rapat.


Kakak Gavin melongo di depan pintu kamar itu, sedetik kemudian dia menoleh, nampak para Kakak dan pasangan masing-masing mereka muncul, kompak terkekeh sambil menahan gelak tawanya agar tidak pecah.


Rencana berhasil!


Bukan apa-apa Gavin dulu juga sering iseng mengerjain mereka, ya meskipun tidak di malam spesial mereka, tetapi khusus malam ini mereka kompak mengerjai si bungsu yang akhirnya melepas masa lajang, bungsu yang sempat bikin kedua orang tua mereka pusing dan khawatir karena sampai usia yang begitu matang, belum juga ada tanda-tanda mau menikah!


Jempol mereka terangkat kembali kompak terkekeh, sambil perlahan-lahan menyingkir dari sana.

__ADS_1


"Sorry yah Vin! lanjut kapan-kapan deh ya!"


__ADS_2