
Gavin kembali meraih bibir itu, menciumnya dengan penuh gairah dan sama sekali tidak memberi ampun Diandra yang nampak melawan, entah kenapa gairah Gavin begitu meledak saat ini terlebih bagaimana tadi Diandra nampak menggodanya dengan segala macam pembahasan konyol mereka.
"Mas jangan di sini," Diandra mendorong wajah itu ketika dia berhasil melepaskan bibir.
Gavin bangkit menarik tubuh itu bangun lalu menyeretnya masuk ke toilet yang ada khusus untuknya di ruangan itu.
"Mas ngapain?" Diandra berteriak panik, dia tahu betul kalau suaminya ini tidak pernah main-main dengan apa yang dia katakan.
Benar saja Gavin menutup pintu kamar mandi, bergegas menghimpit tubuh itu hingga terhimpit antara tubuhnya dan tembok kamar mandi, mendadak Diandra seperti kehabisan nafas, dadanya sesak apalagi sedetik kemudian Gavin kembali mencium bibirnya, menyesap bibir itu tanpa ampun.
"Mas please jangan di sini," Diandra mendadak begitu takut, matanya memerah sehingga siap meledakkan air mata, hal yang membuat Gavin lantas menyerah dan iba dengan pemandangan yang ada di depan matanya.
Gavin paling tidak bisa melihat Diandra menangis, mata memerah dan air mata itu sungguh benar-benar mampu memporak-porandakan hatinya, seketika membuat semua gairah yang meletup-letup itu kontan padam dan lenyap begitu saja.
"Loh jangan nangis dong," desis Gavin mulai menarik tubuhnya sedikit berjarak.
"Aku takut Mas, jangan di sini kalau mau anu, Mas. Aku nggak berani," suara Diandra bergetar, wajah itu memucat membuat Gavin lantas menarik tubuh itu jatuh dalam pelukan.
Tangis Diandra pecah, membuat Gavin menghela nafas panjang dan menghirup udara sebanyak-banyaknya, dia lupa kalau istrinya ini masih cukup muda dan Gavin harus ingat betul Diandra meskipun barbar dan suka membangkang terlebih kepadanya, dia paling tidak suka diajak melanggar batas.
"Mas minta maaf kalau gitu," desis Gavin lirih, kepalanya mulai terasa sakit.
"Kita lanjut makan saja yah, gimana?" bisiknya lembut sambil mengelus kepala Diandra dengan penuh kasih sayang.
Diandra melepaskan pelukan itu, mengangguk pelan sambil menyeka air mata, Gavin tersenyum ikut menyeka air mata sang istri lalu membuka pintu toilet.
"Nanti pulang pakai mobil kamu biar mobil Mas di sini," jelas Gavin sambil membimbing istrinya melangkah keluar.
"Terus besok Mas berangkat kerjanya gimana?" tanya Diandra.
Gavin tersenyum menarik kursi dan mempersilahkan istrinya duduk, dia kemudian kembali duduk di kursinya meraih botol air mineral dan meneguk isinya.
"Mas bisa naik g*jek, jangan terlalu risau!" Gavin menatap wajah itu matanya masih merah, namun sudah tidak lagi mengeluarkan air mata.
"Kalau aku antar Mas kerja besok gimana?" tawar Diandra dengan senyum begitu manis.
Gavin ikut tersenyum tangannya terulur menyingkirkan rambut Diandra dan membawanya ke belakang telinga, kini wajah itu begitu bersih dan tanpa gangguan apapun.
__ADS_1
Membuat Gavin makin puas menatap wajah sang istri dari tempatnya duduk.
"Tapi Mas harus ngajar dulu besok, beneran mau antar?" tanya Gavin dengan tangan yang sudah kembali meraih sendok.
"Nggak apa-apa, aku kangen pengen ke kampus," gumam Diandra sambil tersenyum.
Gavin tidak menjawab mulutnya penuh nasi hanya senyum manis yang tersungging di wajah itu, senyum manis yang membuat Diandra ikut tersenyum dan fokus pada makannya. Mereka fokus pada makanan masing-masing tanpa suara hingga kemudian dering handphone Gavin memecah keheningan, dengan sigap Gavin meraih ponsel mengangkat panggilan itu dengan wajah datar dan sedikit masam.
"Gimana? oke siap?"
Diandra membisu, dia hanya menatap dan memperhatikan sang suami dari tempatnya duduk.
"Tunggu sepuluh menit lagi bisa? masih makan begitu selesai saya langsung ke sana," ucap Gavin.
Wajah itu masih nampak datar dan kaku persis seperti Gavin yang dulu Diandra kenal sebagai seorang dosen yang menyebalkan setengah mati, sebuah ingatan yang membuat Diandra lantas tersenyum karena merasa beruntung bisa melihat sisi lain Gavin yang begitu romantis dan manis.
"Oke makasih," Gavin menutup panggilan, meletakkan ponselnya di meja, dia sadar diperhatikan dengan begitu serius oleh sang istri, hal yang kemudian membuat Gavin menoleh dan menatap sang istri dengan seksama.
"Kenapa?" alis Gavin terangkat, kenapa Diandra menatapnya seperti itu?
"Nggak apa-apa cuma..." Diandra sengaja tidak melanjutkan kalimatnya, membuat alis Gavin berkerut penasaran.
"Cuma apa?" tanya Gavin.
"Cuma... cuma lagi sadar kalau suamiku tercinta itu ternyata ganteng banget,"
#########
Diandra melangkah dengan santai menyusuri koridor rumah sakit seperti tujuan awal, tempat yang hendak dia kunjungi sekarang adalah cafetaria yang ada di bagian depan rumah sakit, dekat lobi sebuah tempat yang membuat rumah sakit jadi macam Mall, tapi tidak ada salahnya juga sih.
Lokasinya berdekatan dengan poli rawat jalan jadi bisalah membantu memecah kebosanan para pasien atau pengantar pasien yang menunggu giliran.
Diandra mendorong pintu itu, suasana cukup sepi karena poli rawat jalan sudah tutup, beberapa meja namun terisi barang satu, dua orang, diantara mereka nampak mengenakan scrub, snelli dan seragam pegawai administrasi rumah sakit.
Diandra melangkah menuju bar, menatap deretan menu yang ada di sana
"Silahkan mau pesan apa Kak?"
__ADS_1
Diandra menoleh, nampak gadis yang mungkin seumuran dengannya itu tersenyum begitu manis, Diandra mengangguk matanya kembali meneliti deretan menu yang ada di sana.
"Ada milkshake juga ya ternyata?" tanya Diandra yang nampaknya sudah menemukan menu pilihannya sembari menunggu Gavin selesai berperang.
"Kebetulan hari ini strawberry milkshake nya kosong," jelas gadis itu dengan ramah.
Kembali Diandra mengangguk, dia sudah menemukan apa-apa saja yang hendak dia pesan.
"Chocolate milkshake nya satu, donat dua sama mau croissant satu," ucap Diandra.
Memang perut Diandra sudah kenyang, hanya saja untuk menemani novel yang tadi dia beli, dia butuh cemilan dan pilihan Diandra jatuh pada dua menu itu.
"Donatnya mau topping apa Kak?" dengan sigap gadis itu meraih tongs berbahan silikon, membuka kaca etalase yang memajang deretan donat dengan beragam toping di sana.
Sungguh! duduk di sini tidak merasa seperti sedang berada di rumah sakit kecuali ketika kamu menyadari sebagian pengunjung adalah makhluk dengan snelli, setelan scrub dan bahkan beberapa masih mengantongi stetoskop di saku mereka.
"Mau yang ada Lady Almond sama Choco Creamy Lotus," liur Diandra rasanya seperti henti menetes melihat deretan donat yang teramat menggoda itu.
Kenapa Gavin tidak bilang kalau cafetaria rumah sakit punya menu donat selengkap dan semenggoda ini sih? tahu begitu sejak dulu Diandra sudah sering nongkrong di sini, siapa tahu dapat jodoh Dokter ya kan?
Ah! tanpa nongkrong di sini pun jodoh Diandra juga Dokter, mana sudah spesialis lagi memang benar-benar rezeki nomplok.
"Croissant nya, kak?"
Kini pandangan Diandra beralih pada deretan croissant, ini benar-benar seperti lagi nongkrong di Mall bukan rumah sakit! keren!
"Morning sunshine!" tunjuk Diandra pada croissant dengan telur mata sapi yang nampak menggoda.
Diandra bergegas merogoh dompet dan melangkah ke kasir ketika tiba-tiba tubuh itu menghalangi langkahnya dan menimbulkan tubrukan yang cukup mengejutkan.
"Aduh," Diandra mengadu, dompetnya jatuh ke lantai membuat Diandra segera menunduk meraih dompetnya.
Dia terkejut ketika yang dia sentuh bukan dompet pemberian Gavin melainkan tangan seseorang yang entah milik siapa.
"Maaf saya nggak sengaja Mbak," suara itu begitu tegas dan lembut membuat Diandra lantas mengangkat kepala.
Mata Diandra membulat melihat siapa pemilik tangan, dia kan...
__ADS_1