Musuhku Suamiku

Musuhku Suamiku
Anak orang jangan diapa-apain,,,


__ADS_3

"Dok serius!!!" Diandra kini merengek, memohon agar Gavin mau berbaik hati menceritakan kepadanya perihal apa-apa saja yang akan dia lakukan bersama sang Papa.


"Iya saya juga serius,, Dian," Gavin tersenyum dia membawa mobil milik kakak nomor dua Diandra itu kembali menuju rumah.


Diandra mencebik, kenapa sulit sekali mengajak lelaki ini bekerja sama,, apa susahnya sih menceritakan kemana mereka akan pergi? apa yang hendak mereka lakukan? tinggal mengirim pesan pada Diandra semua beres bukan?


Gavin nampak begitu tenang, masih sangat tenang setelah mengantarkan Ayah Diandra kembali ke rumah sakit,, setelah mereka selesai bicara panjang lebar dan makan siang sementara Diandra sendiri risau dan sangat penasaran dengan apa yang hendak Papanya lakukan.


"Pengen banget sih tahu, saya dapat kompensasi apa kalau mau bekerjasama dengan kamu?" tanya Gavin ketika Diandra hanya diam membisu.


Diandra melotot, kompensasi? bisa-bisanya Gavin mencari kesempatan di tengah kerisauan hatinya! sungguh keterlaluan sekali! Diandra melipat dua tangannya di dada, enak saja minta kompensasi, tidak! Diandra tidak mau kembali masuk ke dalam jerat tipu buaya yang selama ini berkamuflase menjadi lelaki jutek dan judes macam Gavin. Diam-diam ternyata Gavin ini centil, genit dan tukang modus.


"Eh! diam aja," Gavin menoleh, tersenyum masam ketika mendapati wajah itu makin ditekuk dengan tangan dilipat di depan dada.


Kalau tadi kata Darmawan wajah gadis ini jelek jika di tekuk macam ini, tetapi di mata Gavin Diandra nampak sangat menggemaskan sekali, Gavin tersenyum simpul kembali fokus pada kemudinya, dan membiarkan Diandra sibuk memanyunkan bibir di tempatnya duduk.


Rumah mewah dengan dua lantai itu sudah terlihat, Gavin hanya perlu menekan klakson dan pintu gerbang itu otomatis terbuka sosok lelaki paruh baya nampak membuka pintu gerbang memberi akses mobil itu masuk ke dalam.


"Saya numpang istirahat yah Dian," Gavin mematikan mesin mobil melepas seat belt dan melangkah turun setelah menjejalkan kunci mobil ke dalam tangan Diandra.


Diandra tersentak menerima kunci itu dengan mulut setengah terbuka, dia buru-buru melepas seat belt dan turun mengikuti langkah Gavin, memburu langkah lelaki itu sebelum dia menghilang di balik pintu.


"Dok tunggu," Diandra segera mandiri di depan pintu kamar tamu yang tadi sudah disiapkan Mbok Lastri untuk Gavin gunakan berganti baju dan beristirahat.

__ADS_1


Diandra merentangkan tangan menghalangi langkah kaki yang hendak masuk ke dalam kamar membuat mata Gavin menatap langsung ke dalam mata Diandra, hal yang membuat mereka berdua kompak tertegun di tempat masing-masing.


"Mau ikut masuk ke dalam kamar? nggak boleh sama Papamu, Dian," goda Gavin ketika Diandra tidak kunjung pergi dari depan pintu kamar.


Tangan Diandra sontak terulur menimpuk keras-keras punggung Gavin, matanya melotot tajam dengan ekspresi wajah kesal, apa yang tadi Gavin katakan? mau ikut masuk ke dalam kamar, kenapa pikiran Gavin bisa sampai sana?


"Enak aja! siapa juga yang mau ikut masuk ke dalam Dok? pikiran kenapa ngeres amat sih?" Diandra membelalak, kesal sekali dengan lelaki yang mengacaukan hidupnya dalam waktu yang begitu singkat.


"Wajarlah udah matang juga! udah waktunya kawin, Dian," kini tangan Gavin dia lipat di dada, menatap Diandra dengan senyuman menggoda.


Mendengar kata kawin, Diandra mendadak meremang, niatnya hendak memohon pada Gavin agar mau memberinya informasi perihal apa-apa saja yang hendak Gavin lakukan bersama sang Papa, dia lebih memilih segera kabur daripada Gavin melakukan sesuatu yang tidak-tidak terhadapnya.


Gavin tertawa lirih, dia segera masuk ke dalam kamar setelah Diandra pergi dari depan kamar,, untungnya Diandra segera pergi dari depan kamar, kalau tidak... Gavin tidak bisa memastikan bahwa Diandra akan aman, dia lelaki normal dan sejak kemarin Diandra begitu menggodanya dengan begitu luar biasa, jadi jangan salahkan Gavin kalau nanti dia bisa kelepasan melakukan hal yang tidak-tidak terhadap gadis itu.


##############


Diandra membanting pintu kamarnya dengan kesal. Astaga! damage sekali efek yang Gavin timbulkan dalam kehidupannya, Gavin mampu menjungkir-balikkan hidupnya dengan begitu luar biasa, mengacaukan semuanya sampai-sampai Diandra sama sekali tidak bisa berkutik lagi.


"Bujang lapuk nyebelin!!!" Diandra berteriak rasanya dia sudah tidak sanggup lagi.


Kini rasa penasaran mendera Diandra dengan begitu luar biasa, ingin dia ikut ke mana mereka akan pergi, tapi Darmawan sudah mengatakan bahwa dia hanya memesan dua tiket dan mati-matian tidak mengizinkan Diandra ikut bersama mereka.


"Papa ngapain sih pakai rahasia-rahasiaan?" Diandra kesal setengah mati tidak biasanya sang Papa seperti ini.

__ADS_1


Kemana Darmawan hendak membawa Gavin pergi? kenapa hanya berdua saja? apa yang hendak mereka lakukan dan bicarakan? apakah itu akan membuat sang Papa lantas menolak pinangan Gavin? membebaskan dia dari jalan bujang lapuk itu?


"Tapi kalau dilihat dari gerak-gerik Papa, rasanya nggak mungkin kalau Papa akan menolak pinangan bujang lapuk itu,," Diandra mencoba menerka-nerka.


"Bukankah tadi sang Papa begitu bangga memperkenalkan Gavin pada Profesor Roy?"


Diandra merebahkan tubuhnya di atas kasur,, menatap langit-langit kamar sambil mencoba memikirkan kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi di balik rencana kepergian mereka berdua.


"Kok kayaknya nggak bakalan ada yang berpihak pada aku ya Tuhan," desis Diandra yang menyadari bahwa semua orang di sekitarnya pro dan mendukung pernikahan gila itu terjadi.


Diandra mengusap wajahnya dengan tangan, meratapi nasibnya yang entah mengapa jadi begitu kasihan karena oleh seorang Gavin Narendra Putra, bayangan dia harus hidup satu rumah dengan Gavin membuat Diandra kembali bergidik ngeri.


Memang perjanjian itu sudah mereka buat, tetapi apakah benar Gavin akan menepati janji yang sudah dia buat atau nanti... di tengah jalan Gavin akan memaksanya melakukan apa yang tidak dia mau? status Diandra sudah sah menjadi istri Gavin baik secara agama maupun negara. Bagaimana kalau semua itu terjadi?


"Ya ampun kenapa jadi begini, ngeri banget bayangin dia," wajah Diandra sontak memerah.


Tidak!!!


Bayangan tidak senonoh itu tidak boleh kembali hadir di dalam pikiran dan otak Diandra, kalau tidak bisa dipastikan Diandra tidak akan bisa tidur nyenyak! Diandra sibuk menggeleng-gelengkan berusaha mengusir bayangan mesum itu! sementara di salah satu ruang praktik rumah sakit milik pemerintah itu, seorang wanita paruh baya dengan snelli lengan panjang tampak sibuk menelepon seseorang.


"Hah? Papa yakin?" teriaknya sambil membelalakkan mata.


"Pa, anak orang jangan diapa-apain," wajah itu nampak tegang, apa yang hendak suaminya itu lakukan?

__ADS_1


__ADS_2