
Gavin benar-benar tidak bisa mengungkapkan perasaannya hari ini, moment di mana Diandra lantas melangkah masuk ke ballroom guna mengikuti proses ijab qobul dan duduk di sampingnya adalah momen paling luar biasa indah dalam hidupnya, itu yang pertama! bagaimana gadis menyebalkan dan bawel yang biasanya nampak udik dan selalu bikin Gavin murka muncul dengan begitu anggun dan nampak dewasa dalam balutan kebaya lace putih panjang menyentuh tanah.
Entah Diandranya yang mungil atau memang modelnya seperti itu, jujur Gavin tidak tahu.
Riasan wajah Diandra pun membuat rasa kagum Gavin pada gadis yang sudah sah dan resmi menjadi istrinya per hari ini makin menjadi-jadi,, riasannya yang soft tapi tidak meninggalkan pakem ala riasan Solo meskipun keduanya bukan dari Solo, tapi kota ini merupakan tempat mereka bertemu bukan? jadi itulah filosofi mengapa riasan khas Solo yang entah mengapa antara Gavin dan Diandra bisa kompak dalam memutuskan hal ini, dipilih untuk dipakai dalam prosesi akad nikah mereka.
Lantas yang kedua tentu ketika dia bisa sekali tarikan menjawab qobul yang mana Ayah Diandra sendiri kebetulan yang mengucap ijabnya, menggenggam tangan kanan Gavin erat-erat sambil menatap dalam ke dalam mata Gavin. Itu momen paling luar biasa indah dalam hidup Gavin.
"Apaan sih Dok," ucap Diandra.
Gavin tersentak l ketika Diandra nampak mencebik menatap dirinya, wajah yang sudah merah akibat blush on itu di mata Gavin makin terlihat memerah, membuat Gavin rasanya ingin... Ah! jangan, tidak boleh!
"Nggak... Nggak apa-apa kok. Heran aja kamu bisa kelihatan kalem dan anggun, biasanya kan..."
__ADS_1
"Hiiih! bilang aja terpesona kan? ngaku deh!" potong Diandra yang sontak membuat Gavin gelagapan.
"Eh apa?" Gavin hampir saja berteriak kalau saja dia tidak ingat banyak orang penting hadir di sini dan nampak tengah menikmati acara ramah tamah selepas prosesi ijab qobul.
"Iya kan? ngaku? awas naksir saya nanti tahu rasa," ejek Diandra sambil menyuapkan puding dengan saus vla ke dalam mulut.
Untung saja di meja itu hanya mereka berdua yang duduk kalau tidak bisa dipastikan siapapun yang mendengar obrolan mereka pasti akan syok dan geleng-geleng kepala.
Sejenak Gavin tertegun, perlukah dia katakan bahwa sebenarnya sejak beberapa waktu yang lalu tepat setelah Gavin pulang dari gunung Lawu, Gavin sudah mulai merasakan indikasi bahwa dia jatuh hati pada Diandra? perasaan yang pagi ini terasa makin kuat menguasai hati Gavin.
Tidak!
Itu tidak boleh terjadi!
__ADS_1
Kalau sampai Diandra menjaga jarak itu artinya Gavin akan masih sulit menaklukkan gadis ini! padahal Gavin ingin selamanya Diandra bersama dengan dirinya dan oleh karena itu Gavin ingin secara perlahan-lahan meluluhkan hati Diandra, menyembunyikan dulu sejatinya perasaan yang Gavin miliki untuk Diandra.
"Dok? ngelamun? nggak lagi kesurupan, kan?" tanya Diandra asal yang sontak membuat Gavin terbelalak kesal.
"Kalau ngomong jangan sembarangan, kenapa sih Dian?" nampak Gavin mendengus kesal, tapi ada untungnya juga sih Diandra suka asal kalau ngomong, buktinya omongan asal Diandra membuat Gavin bisa menikahi Diandra, bukan?
"Lagian Dokter kenapa mendadak diam macam ayam kena pilek sih? kan saya takut kalau-kalau kesurupan terus hilang kesadaran," sebuah jawaban khas Diandra yang selalu sukses membuat Gavin sakit kepala dan naik darah.
Hilang kesadaran?
Mendadak Gavin punya ide mengerjai sang istri, dia mendekatkan wajahnya berbisik dengan begitu lirih tepat di telinga Diandra.
"Kalau saya kesurupan dan hilang kesadaran, berarti saya bisa melakukan apapun dong, Dian? termaksuk buat..."
__ADS_1
"Nggak! pokoknya nggak!!!"