Musuhku Suamiku

Musuhku Suamiku
Gercep amat Om,


__ADS_3

Gavin tertegun ketika keluar dari kamar mandi dan mendapati sudah tersedia satu style baju di atas ranjang, kamar pun sudah rapi tidak mungkin kalau Mbok yang melakukan, asisten Gavin itu belum kembali dan jangan lupa bukan kebiasaan Mbok nya membersihkan kamarnya ketika dia belum pergi bekerja.


Gavin bergegas meraih satu steel kemeja dan celana bahan ketika kemudian pintu kamar terbuka, nampak Diandra muncul dengan kondisi yang sudah rapi dan cantik membuat senyum Gavin merekah sempurna.


"Makasih sayangku," gumam Gavin sambil memulai memakai celananya.


"Makasih buat?" mata itu membulat menampilkan wajah yang begitu menggemaskan di mata Gavin.


"Udah disiapin baju ganti," jawab Gavin.


Diandra kontan nyengir, dia duduk di tepi ranjang sambil garuk-garuk kepala, Gavin hanya melirik sekilas fokus memakai baju dinasnya dan bersiap berangkat setelah ini.


"Ya cuma itu yang bisa aku lakuin Mas, mau masak nggak bisa," desis Diandra sambil nyengir lebar.


Gavin tersenyum melangkah mendekati sang istri lalu mencium puncak kepala istrinya dengan begitu lembut penuh cinta.


"Ini saja sudah cukup banget buat aku sayang," Gavin menatap manik mata sang istri, tangannya mengelus pipi itu dengan begitu lembut.


Gavin segera memalingkan wajah, entah mengapa wajah dan sorot mata itu di mata Gavin seperti memiliki magnet yang luar biasa kuat, sebuah tarikan yang rasanya seperti menarik Gavin untuk merengkuhnya dan...


Ah! tidak Vin!


Kamu harus segera pergi bekerja bukan? sekarang ada anak orang yang kamu tanggung penuh hidupnya, kebahagiaannya dan tentu saja masa depan dia, semua berpindah ke pundak Gavin secara otomatis ketika ijab qobul dilakukan berpindah dari pundak Darmawan ke pundak Gavin. Gavin tentu ingat itu, bukankah dia juga sudah berjanji di depan Ayah mertuanya di puncak gunung beribu-ribu meter di atas permukaan laut bahwa semua tanggung jawab akan Diandra, akan dia tanggung sepenuhnya.


"Mas ibu kapan ke sini?" tanya Diandra.


Gavin sontak membelalak, kenapa Diandra menanyakan hal itu dia mungkin belum tahu bagaimana cerewet dan sedikit menyebalkan Mama mertuanya, jadi dia bisa dengan santai menanyakan hal tersebut, kalau sudah tahu agaknya Diandra lebih nyaman ketika Mama mertuanya anteng di Madiun sana.

__ADS_1


"Kenapa?" Gavin kembali merapikan pakaiannya, mematut diri di depan cermin.


"Mau aku suruh ngajarin masak Mas, sedih juga kalau nggak bisa apa-apa di dapur," jawab Diandra lesu, mendadak dia teringat Tati gadis tujuh belas tahun itu malah sudah pintar masak apa saja kan? agaknya Tati memang benar perempuan memang harus bisa memiliki dua sampai tiga menu lah, kalau nol besar macam Diandra ini repot juga!


"Ini bukan karena ke trigger omongan Tati kan?" Gavin mengancingkan kancing di pergelangan tangan menatap Diandra dari pantulan cermin yang ada di depannya.


Diandra kembali tersenyum masam, entah apakah dia sudah ke trigger ucapan gadis itu atau tidak yang jelas suami mau pergi kerja dan dia tidak bisa membuat satu jenis makanan pun membuat Diandra merasa dia memang harus punya skill lain di luar bidang yang dia geluti terutama memasak.


"Ya nggak juga sih, cuma kayaknya memang perlu deh bisa masak dikit-dikit," ucap Diandra.


Gavin membalikkan badan, menatap Diandra yang masih duduk di tepi ranjang.


"Nanti sore paling Mbok udah balik, suruh aja ngajarin, dia pintar masak juga kok sama kayak ibu," ucap Gavin lagi.


Gavin melangkah mendekati sang istri, berdiri tepat di depan istrinya membuat dua tangan Diandra melingkar memeluk kakinya, menyandarkan kepala tepat di... Gavin segera membantu tubuh itu bangkit menjatuhkan ciuman di dahi Diandra lalu memeluk erat tubuh mungil itu di dalam pelukan.


"Apapun itu Mas sayang kamu Dian," bisik Gavin lirih.


###########


Mobil Gavin sudah pergi sejak beberapa saat yang lalu, Diandra duduk di depan televisi sambil memanyunkan bibirnya, rumah segede ini dan dia hanya sendiri kenapa rasanya bosan sekali!


Diandra menelungkup di atas sofa dengan remote TV di tangan, sejak tadi tidak ada cara yang menarik, dia seperti kehilangan sesuatu dalam dirinya, sesuatu yang kini baru dia sadari dulu menjadi hal yang sedikit menjemukan dan terkadang membuatnya mengeluh.


Ya kuliah!


Diandra rindu kuliah!

__ADS_1


Diandra bangkit, bersandar sambil masih memencet remote TV mencoba mencari acara yang menarik, namun sayangnya nihil, dia menyerah, meletakkan remote di sisinya dan kini meraih ponsel yang tergeletak di sisi lain sofa, Diandra sudah menggenggam benda itu mendadak dia blank! tidak tahu apa yang hendak dia lakukan dengan ponselnya.


Diandra nampak berpikir siapa memang yang hendak dia hubungi, Kiki? ah jangan bisa-bisa dia di interogasi perihal momennya bersama Gavin nanti, entah mengapa Kiki begitu antusias sekali dengan hal-hal berbau mesum sesuatu yang baru Diandra sadari akhir-akhir ini.


Mamanya?


Jam segini baik Mamanya ataupun sang Papa pasti sedang sibuk dengan antrian pasien di rumah sakit, tentu tidak etis jika Diandra menghubungi mereka hanya karena gabut dan mencari teman ngobrol kan?


******? ah mereka Dokter juga pasti tengah bergelut dengan status-status dan tentu saja antrian pasien.


Baru Diandra sadari punya keluarga semuanya Dokter itu tidak enak juga, dia begitu kesepian sekarang bosan dan tidak tahu apa yang harus dia lakukan.


"Ke toko buku aja gimana? cari novel? atau apa?" Diandra masih nampak berpikir sedetik kemudian dia melompat dari sofa.


Ya pergi ke sana agaknya menjadi tujuan yang bagus mumpung dia masih free dan santai, setidaknya dia bisa menikmati waktu yang mungkin akan menjadi sesuatu yang sangat langka ketika dia sudah koas nanti.


Sambil melangkah menuju kamar Diandra mengetikkan pesan ke nomor suamiku tercintanya, benar-benar suamiku tercintanya sekarang kalau tidak mana mau Diandra disentuh Gavin bahkan sampai berkali-kali dalam satu hari.


Cinta itu memang penuh misteri kan?


( Sayang izin ke toko buku ya? gabut di rumah )


Diandra baru saja hendak membuka lemari baju guna mengganti pakaian ketika ponselnya berdering, benda yang tadi dia letakkan di meja kembali diraih, matanya membulat mendapati nomor Gavin nampak menghubungi dirinya hanya selang beberapa detik pesan Diandra terkirim tadi.


"Wussh, gercep amat Om, nggak ngajar apa?" gumam Diandra sambil melihat ponselnya.


Om? agaknya akan menjadi panggilan rahasia dan spesial dari Diandra untuk sang suami, dia buru-buru mengangkat panggilan itu sebelum Gavin mengomel seperti biasanya.

__ADS_1


"Ha..."


"Pakai baju sopan jangan yang ketat, belahan dada terbuka, jangan yang kurang bahan dan pendek, itu dilarang! bawa mobil hubungi kalau ada apa-apa, kirim nomor rekening biar Mas bisa transfer kamu buat jajan sama belanja, oke?"


__ADS_2