Musuhku Suamiku

Musuhku Suamiku
Apa benar yang Diandra katakan?


__ADS_3

Gavin meraih ranselnya,, segera melangkah keluar kamar begitu semua barang-barang bawaannya siap,, setelah pulang nanti dia perlu berterima kasih banyak-banyak pada sejawatnya yang dengan sukarela mau menggantikan jadwalnya tiga hari ini, kalau tidak mana mungkin dia bisa mampir? Rio memang sejawat paling the best dalam sepanjang karir Gavin sebagai Dokter!


"Bu Gavin pamit nggak balik yah," dia menemui sang ibu yang sibuk di dapur membantu asisten rumah tangganya memasak.


Mira Sontak terbelalak,, dia membalikkan badan dan menatap Gavin yang tampak santai dengan celana jeans hitam dan kaos polos warna hitam. Mata Mira menyorot,, menatap Gavin dari ujung kaki sampai ujung kepala.


"Vin,, mau ke mana?" tentu itu yang Mira tanyakan ketika dia mendapati tas ransel itu sudah bertengger di pundak anak lelakinya, bukan apa-apa tas itu lebih besar dari yang biasa Gavin bawa mengajar.


"Aku mau nyusul Diandra, Bu," jawab Gavin apa adanya,, berharap ibunya tidak akan banyak bertanya kalau dia membawa nama Diandra.


"Loh,, bisa dadakan? biasanya kamu sulit banget loh minta libur?" tanya Mira.


Gavin sontak garuk-garuk kepala,, demi masa depannya Gavin akan melakukan apapun termasuk memberi Rio kompensasi untuk semua tanggung jawab Gavin yang dia limpahkan pada Dokter slengean itu, untung jadwal operasi Gavin tidak terlalu banyak dan untungnya lagi Rio oke-oke saja dimintai bantuan, kalau tidak... entah jadi apa Gavin ini!


"Penting Bu,, intinya Gavin pamit dulu," ucap Gavin.


Nampak wajah itu belum puas dengan jawaban yang keluar dari mulut Gavin,, membuat Gavin menghela nafas panjang lalu meraih tangan Mira dan memegang tangan itu dengan lembut.


"Jadi kemarin,, Papanya Diandra nelpon aku, suruh aku ke sana Bu,," jika hanya Diandra tidak lantas membuat ibunya ikhlas membiarkan dia pergi semoga Profesor Darmawan bisa membuat ibunya auto luluh dan membiarkan dia pergi.


Benar saja,, mata Mira yang sejak tadi terkesan menyelidik langsung berubah cerah. Senyum itu mengembang di wajah Mira membuat hati Gavin lega seketika, berhasil juga akhirnya.


"Sudah disuruh ngelamar Diandra, Gavin? atau bagaimana? kalau iya biar nanti ibu telepon bapakmu," ucap Mira.


Mata Gavin membelalak,, kenapa bisa sampai sana pikiran ibunya, tidak tahu saja Mira kalau kemungkinan besar Profesor Darmawan menolak semua niat baiknya yang hendak menikahi Diandra,, bukankah kemarin Diandra bilang Gavin hendak dikenalkan dengan salah satu mahasiswi guru besar? itu artinya keinginan Gavin untuk menikahi Diandra ditolak, bukan?

__ADS_1


"Jangan dulu Bu," cegah Gavin sebelum semua makin kacau.


"Keputusannya nanti tunggu Gavin balik deh, yang penting untuk sekarang Gavin minta doa ibu," ucap Gavin.


Kembali Mira tersenyum, kali ini dengan anggukan kepala,, dia lantas meraih Gavin ke dalam pelukan,, memeluk anak bungsu yang sedang menjadi kebanggaan Mira,, bagaimana tidak? Gavin paling kecil tapi tidak pernah manja dan selalu berprestasi, tidak heran kalau dia bisa begitu sayang pada anak bungsunya ini.


"Tanpa kamu minta,, Vin... ibu sudah selalu mendoakan kamu," desis suara itu lirih.


"Hati-hati di jalan, semoga semuanya lancar. Ibu tunggu kabar baiknya, yah," ucap Mira.


###############


"KAMU HAMIL BERAPA MINGGU DIAN,"


"YANG BILANG AKU HAMIL SIAPA SIH BANG? SIAPA?" Diandra balas berteriak,, emosinya membuncah, entah kenapa tiap berurusan dengan Gavin,, Diandra selalu ketiban sial macam ini, sih?


"MAMA BILANG KAMU MAU NIKAH," suara itu masih berteriak membuat Diandra dongkol dan ikut membalas teriakan itu.


"EMANG ORANG NIKAH ITU PASTI KARENA DIA UDAH BUNTING DULUAN APA?" tentu Diandra tidak terima sejak kemarin dituduh hamil, padahal dia masih perawan belum tersentuh sama sekali.


"Lantas kenapa buru-buru mau nikah? sekolah saja belum benar, ingat masih kudu koas, internship! kamu pikir anak kedokteran macam lulusan sarjana lain yang begitu wisuda bisa langsung kerja, heh?" suara itu akhirnya melembut,, namun tetap saja membuat Diandra naik pitam.


Tidak perlu Drian jelaskan,, Diandra sudah paham jalan terjal apa saja yang harus dilalui untuk bisa menjadi seperti Drian, kedua orang tua mereka dan tentu saja seperti Dino, Kakak tertua Diandra yang sudah sukses menjadi seorang pediatri dan prakter di Sumatera sana. Jalan Diandra masih panjang dan terjal,, tapi kembali lagi semuanya adalah kesialan buah sumpah sembarangan yang keluar dari mulut Diandra menjelang dia sidang skripsi.


"Nasib aja, Bang" jawab Diandra asal,, tidak mungkin dia menjelaskan apa alasan sebenarnya,, dia sudah lelah dicecar banyak pertanyaan yang selalu sukses membuat dia sakit kepala dan overthinking perihal rencana dadakan Diandra yang meminta izin menikah.

__ADS_1


"Abang kau ini masih berjuang praktik biar dapat rekomendasi buat lanjut PPDS,, kau yang baru lulus S. Ked malah udah mau nikah? nggak ada akhlak emang!!!" omel Drian yang sontak membuat Diandra menepuk jidat.


Bujang lapuk itu yang nggak ada akhlak! ngajak nikah anak orang, ya walaupun itu karena sumpah dia sendiri sih tetapi Gavin juga tidak boleh terlalu memaksa macam itu bukan? pakai ngancam mau dihamili dulu lagi! benar-benar tidak waras!!!


"Abang pagi-pagi buta nelpon cuma buat ngomel nggak jelas macam ini? leren Bang! hipertensi naik!!!" ucap Diandra asal,, dia sudah lelah meladeni pertanyaan-pertanyaan yang secara langsung membuat Diandra teringat pada sosok menyebalkan itu.


"YA KAN SEMUA GARA-GARA KAMU, DIAN," kembali suara Drian melengking,, membuat Diandra hendak mengakhiri telepon ini.


"Dah lah males bahas, sono mandi, praktik! kasihan teman jaga kalau terlalu bau, ngundang banyak pasien!" ucap Diandra.


Tutttttt...


Diandra memutuskan sambungan telepon secara sepihak, menggenggam ponselnya sambil memejamkan mata erat-erat,, Diandra berkali-kali menghirup udara dalam-dalam,, menghembuskan perlahan-lahan guna merilekskan pikiran dan saraf-saraf yang sulit menegang sepagi ini, semua gara-gara bujang lapuk itu!!!


"Dokter Gavin,, awas nanti pokoknya," ucap Diandra gemas,, rasanya ingin dia memukuli pria itu sampai babak belur, tapi tidak bisa, malah nanti Diandra yang kena batunya,, ini tidak boleh terjadi.


Diandra hendak meletakkan ponsel di atas kasur,, ketika dering ponsel itu kembali mengejutkan dirinya,, dengan malas dia mengangkat ponsel hingga berada tepat di depan wajahnya,, menghela nafas ketika menemukan nama yang terpampang di layar ponsel.


"Dino is calling...."


#################


Gavin sudah duduk di dalam bangku pesawat,, dia tidak mau membuang waktu dengan naik transportasi lain yang akan memakan waktu yang lumayan, entah mengapa semesta seperti mendukung semua perjalanannya pagi ini, izin libur yang entah mengapa bisa semudah itu ACC,, kebaikan Rio yang makin mempermudah langkahnya dan satu lagi tiket pesawat yang bisa dengan mudah dia dapatkan pada waktu sudah cukup mepet, semua ini seperti sudah diatur, tapi diatur untuk apa? untuk dia akhirnya menikahi mahasiswi guru besar itu? mendadak Gavin lemas,, dia benar-benar ingin menikahi Diandra,, entah mengapa!


"Apa benar yang Diandra katakan? Papanya nolak aku?" ucap Gavin.

__ADS_1


__ADS_2