Musuhku Suamiku

Musuhku Suamiku
Waktu berdua!


__ADS_3

"Kenapa nggak kuliah di Jakarta? koneksi Mama sama Papa tentu banyak dan mudah buat kamu masuk FK di sana kan?" Gavin mengaduk choco caramel pesanannya.


Kin pengantin baru itu tengah duduk di sebuah resto yang berada di jalan alternatif yang sering digunakan untuk perjalanan menuju kaki gunung Lawu, ya semenjak ospek yang harus Gavin jalani demi surat izin menikahi wanita di depannya ini Gavin begitu menyukai gunung, suasana dingin dan hamparan hijau yang terbentang di mana-mana.


Diandra mengelap mulutnya dengan tisu, meneguk mojito strawberry yang dia pilih kali ini.


"Mama sama Papa nggak ngasih izin kuliah di Jakarta, kalau mau beneran masuk FK dan jadi Dokter harus mau keluar dari zona Mama dan Papa praktek, begitu pula ****** berdua itu," jawab Diandra lalu kembali menyedot mojito miliknya.


"Hush!" Gavin hampir saja tersedak.


"Panggilannya diganti kenapa sayang?" panggilan itu terdengar menggelikan di telinga Gavin, membuat dia kadang tidak tahan untuk tidak tertawa.


"Udah paten, Mas, itu panggilan sayangku buat mereka," Diandra nyengir, tidak terima dan tidak mau kalah harus mengganti panggilan itu.

__ADS_1


Gavin menghela nafas panjang.


"Terus kamu pilih Solo gitu?" tentu Gavin akan berterima kasih pada pilihan Diandra, karena hal itu yang mempertemukan mereka dan membuat mereka bisa menikah.


"Ya baca-baca testimoni sih Solo selain biaya hidup murah juga masih nggak cukup padat," nampak ramen itu memenuhi mulut Diandra.


"Dan Mama sama Papa lebih setuju aku di sini daripada di Jogja, ya udah kebetulan juga lulus kemarin," ucap Diandra.


Gavin tersenyum, apakah ini yang dinamakan takdir? takdir yang mengantarkan mereka bertemu dan bersatu? Gavin lebih tertarik menatap dan menikmati wajah sang istri daripada segala macam hidangan dan kudapan yang terhidang di depan matanya, kenapa manis sekali sih? dan kenapa Gavin baru sadar?


Ya Gavin benarkan ini! Gavin sendiri sampai tidak sadar dan tidak tahu kalau Papa gadis yang selalu bersitegang dengan dirinya ini adalah anak dari seorang guru besar, kalau saja kemarin Gavin tidak hendak melamarnya, Diandra memang tidak pernah koar-koar kalau kedua orang tuanya bahkan dua Kakak Diandra adalah seorang Dokter, dia nampak biasa saja tidak pernah meninggikan diri di antara teman-temannya yang lain, hal yang membuat Gavin makin kagum dengan istri mungilnya ini.


"Pengennya sih aku mandiri sampai keluar STR, SIP dan lain-lain, tapi kayaknya sekarang nggak mungkin," ucap Diandra lagi sambil tersenyum.

__ADS_1


Alis Gavin terangkat.


"Kenapa begitu?" tanya Gavin.


"Ada Mas, bagaimanapun nanti pasti Mas bakalan turun tangan kan kalau ada apa-apa?" ucap Diandra.


Gavin mengangguk pelan.


"Tentu! apalagi kalau ada anak koas, DU atau residen macam-macam sama kamu, awas saja!" Gavin menyuapkan risol mayo yang dia pilih sebagai kudapan.


"Aku nggak bakalan tinggal diam kalau ada yang sampai macam-macam sama kamu," ucap Gavin lagi.


Diandra menatap wajah di hadapannya itu dengan seksama, senyum merekah di wajahnya, kenapa kalimat itu terdengar begitu indah di telinga Diandra?

__ADS_1


Gavin menikmati kudapannya begitu serius sampai mayonais itu nampak belepotan di sudut bibir, membuat Diandra tergelak lalu meraih tisu dan membersihkan sudut bibir suaminya.


__ADS_2