Musuhku Suamiku

Musuhku Suamiku
Kiki cantik kok!


__ADS_3

"Aku kenal dia, Ki!" Desis Diandra perlahan.


Kini Kiki yang terkejut, dia menoleh dan menatap Diandra dengan saksama. Kenal? Bagaimana bisa?


"Hah? Kenal di mana?" Kejar Kiki yang terkejut mengetahui Diandra ternyata kenal dengan lelaki somplak yang dia maksud.


"Dia sohib Bang Drian. Dari SMA." Jelas Diandra lirih.


Kiki sontak menepuk jidatnya, menggelengkan kepala perlahan sambil menghela napas panjang. Jadi begitu? Apakah abangnya Diandra ini sama somplaknya dengan Derren sampai mau berteman bahkan bersahabat dengan lelaki macam Derren begini?


"Dah, kalo begini, Dian, aku pilih hamil dan melahirkan lima kali daripada harus berjodoh sama dia!" Tentu Kiki ingat betul taruhan mereka.


Tidak masalah Kiki harus lima kali hamil dan melahirkan, asal bukan dengan lelaki macam dia Kiki menikah dan menyerahkan diri untuk ditiduri! Setengah hari bersama Derren saja Kiki sudah sakit kepala dan frustasi, apalagi harus menikah dengan lelaki seperti itu? Yang benar saja!


Diandra sontak nyengir lebar. Dia mencolek lengan Kiki yang tampak cemberut itu.


"Jodoh pun nggak apa-apa, Ki! Dia bersih kok! Ya walaupun dia sama abangku sama somplaknya. Tapi dia lelaki baik, Ki. Aku jamin!"


Kembali Kiki membelalak. Menatap Diandra yang masih nyengir pamer giginya yang selalu rutin dia scaling dan bleaching


"Apa-apaan? No way, Dian! No way!" Kalau saja mereka tidak tengah berada di kantin rumah sakit sekarang, rasanya Kiki sudah pasti berteriak histeris sambil menghentak-hentakkan kaki di tanah.


Tapi mereka di kantin sekarang dan jangan lupa, banyak sekali senior dan para Dokter yang juga tengah bersantap siang di sini.


"Jangan begitu, Ki. Belajarlah dari kasus ku sama Mas Gavin." Kembali Diandra memperingatkan, bukankah dulu Diandra juga begini?


Kiki mencebik, menarik gelas es cokelat milik Diandra dan meneguk isinya tanpa sedotan. Nampak terlihat wajah Kiki begitu jelek, membuat Diandra tidak henti tertawa.

__ADS_1


"Impianku koas PDKT sama babang residen ganteng nan single rusak sudah! Di IGD dia sama sekali nggak kasih aku waktu buat rehat! Heran juga, baru pertama koas kenapa IGD udah sesak begitu sih?" Rutuk Kiki meratapi nasib.


Diandra hanya terkikik. Mendadak dia membayangkan sesuatu, agaknya tidak masalah jika memang Kiki dan Derren berjodoh. Mereka nampak serasi dan Diandra yakin mereka cukup cocok jika bersanding.


"Dapat DU pun nggak masalah, kan, Ki? Kalian cocok kok, serius." Bisikan Diandra sambil mengedipkan sebelah mata.


Kiki kembali menatap nanar Diandra yang masih nyengir lebar itu. Tangannya sontak menonyor kepala Diandra. Tidak peduli suami Diandra adalah dosen yang paling disegani. Mereka hendak kembali beradu mulut ketika suara itu mengejutkan mereka.


"Jadi dia ini temen kamu, Dian?"


***


Derren sama sekali tidak menyangka bahwa gadis yang secara tidak sengaja dia serempet pagi buta itu ternyata membohongi dirinya! Ngomongnya anak fakultas seni tari semester terakhir, eh nyatanya pagi ini nongkrong di IGD sebagai Dokter koas! Benar-benar penipu!


Derren bertekad bahwa selama Kiki menjalani kepaniteraan klinik di sini, maka Derren akan selalu menekan dan mengerjai gadis itu. Biar saja! Siapa suruh dia membohongi Derren?


"Cantik juga!" Desis Derren tanpa sadar, sebuah gumaman yang lantas membuatnya terkejut setengah mati. Apa tadi dia bilang? Kiki cantik?


Derren menghela napas panjang, dia duduk santan sambil memperhatikan gadis itu.


Kiki memang cantik kok. Tinggi tubuhnya mungkin sekitar 165cm. Kulitnya kuning langsat. Begitu bersih dan khas Indonesia. Hidungnya tidak terlalu mancung tapi juga tidak terlalu pesek. Dan jangan lupakan, bibirnya tipis merona kemerahan. Sungguh di mata Derren, Kiki menarik sekali!


"Ren, kau kenal sama Kiki di mana sih?" Una mendekati Derren, ibu hamil itu tampak kesulitan menarik kursi, membuat Derren sigap menarik kursi untuk sejawatnya jaga IGD itu.


"Ah, kemarin beberapa hari yang lalu aku nggak sengaja nyerempet dia, Na." Jelas Derren yang masih mengawasi Kiki dengan saksama. Dia ingin mencari celah untuk mengomeli atau bahkan bisa kembali menjitak kepalanya.


"Astaga! Itu yang bikin tangan dia sampai berparut-parut macam itu?" Tentu Una bisa melihat dengan jelas bekas parut yang mulai mengering itu.

__ADS_1


"Iya, itu gara-gara aku serempet. Nggak sengaja sih, dianya mendadak nongol dari gang, gimana nggak panik? Mana agak ngantuk pas jaga malam. Yaudah dia aku tubruk!" Jelas Derren apa adanya.


Masih lekat dalam ingatan Derren bagaimana dia kemudian membawa tubuh Kiki dalam gendongan untuk dia bawa ke rumah sakit. Menungguinya terbaring di atas brankar. Hal yang lantas membuat Derren merasakan ada sesuatu yang aneh timbul dalam hatinya.


Kiki cantik, Derren akui. Walaupun sikapnya kadang agak menyebalkan, namun Derren merasa klop dan cocok mengobrol dengannya. Dia bisa membuat suasana menjadi begitu asyik. Entah mengapa Derren merasa satu frekuensi dengan Kiki.


"Ngawur kamu Ren. Untung anak orang nggak kenapa-kenapa!" Desis Una sambil geleng-geleng kepala.


"Aku udah tanggung jawab, Na! Aku bawa ke rumah sakit, aku bayarin biayanya, aku ajak makan, aku antar pulang. Terus aku harus tanggung jawab yang gimana lagi? Kau suruh aku nikahin dia sekalian gitu?"


Tawa Una pecah, dia terbahak sambil mengelus perut. "Itu kalau kau buntingin dia, kau wajib nikahin dia, Ren." Goda Una sambil terkekeh.


"Tapi nggak perlu kamu buntingin duluan, kalo kau naksir lamar dan nikahin aja sekalian, Ren! Cantik juga kok!"


Derren terkekeh, untung Una sedang hamil. Kalau tidak? Sudah bisa Derren pastikan tangannya akan menampol lengan Una dengan gemas.


Dia tidak semesum itu kok! Dia tidak diajari ibunya untuk menghamili anak gadis orang sebelum sah dia nikahi. Itu perbuatan terlarang dan tidak boleh!


"Terus soal anak seni tari tadi, dia ngaku ke kamu dia anak seni tari gitu?" Una membolak-balikan status pasien yang tertumpuk di meja.


Derren mengangguk mantap.


"Entah apa maksud dan tujuannya, yang jelas waktu aku tanya dia ngaku kalau mahasiswi semester akhir fakultas seni tari. Kampret, kan?" Entah mengapa rasanya Derren masih tidak terima dibohongi macam itu.


Kembali tawa Una pecah, ibu hamil itu perlahan-lahan mencoba bangkit. Mengelus perutnya sejenak. Membuat Derren menoleh dan mendadak terenyuh melihat perut membukit itu.


"Ren, izin goleran di belakang bentar, ya? Pinggang sama punggung rasanya nano-nano."

__ADS_1


Derren hanya mengangguk dan tersenyum, membiarkan Una melangkah ke kamar jaga untuk istirahat. Pandangan dan fokus Derren kembali pada sosok itu. Kenapa makin lama gadis menyebalkan itu jadi terlihat begitu menarik dan membuat Derren penasaran?


__ADS_2