
"Orang kok kalau ngibul sukanya nggak nanggung-nanggung," gerutu Diandra ketika dia dan Gavin kembali masuk ke dalam kamar.
Pesawat akan take off beberapa jam lagi jadi mereka harus kejar waktu agar bisa datang tepat waktu, sungguh bermain kejar-kejaran dengan waktu itu sama sekali tidak enak.
"Astaga yang ngibul siapa sih, Dian?" Gavin membelalak gemas, dia ngibul apa memangnya?
Diandra menghela nafas panjang menatap Gavin dengan tetapan gemas, hal yang makin membuat Gavin tidak mengerti dia salah apalagi memangnya?
"Tadi itu loh Dok, pakai di depan Papa sama ****** lagi ngomongnya," wajah itu nampak bersungut-sungut, wajah yang jujur malah membuat Gavin gemas setengah mati.
Gavin mengerutkan kening mencoba berpikir dan mengingat apakah ada kebohongan yang dia ucapkan ketika sedang bersama Papa mertua dan Kakak iparnya tadi, sekian detik membongkar memori, Gavin tidak menemukan kebohongan yang dia katakan tadi, dia memang bohong soal apa sih?
"Yang mana tanya?" tanya Gavin akhirnya menyerah.
Diandra memutar bola matanya dengan gemas, menghela nafas panjang sambil mengelus dada.
"Tadi pas bilang soal yang katanya Dokter cinta sama saya!" wajah Diandra memanas entah mengapa Diandra sebenarnya agak canggung mengatakan ini, namun dia harus membahas ini, harus!
Gavin membulatkan bibir, menganggukan kepala lalu melangkah mendekati Diandra, matanya menatap dalam ke mata Diandra, terus melangkah tidak peduli Diandra nampak menghindar, dirinya dengan terus mundur tiap langkah Gavin mendekatinya.
Tubuh itu terantuk ranjang, terkunci di sana sementara Gavin terus melangkah mendekat.
"kamu pikir soal itu saya bohong, Dian?" desis suara itu begitu lirih.
"Kalau itu adalah perasaan saya yang sebenarnya bagaimana?" ucap Gavin.
Mata Diandra membulat menatap Gavin dengan tetapan tidak percaya, apa yang tadi bujang lapuk itu katakan? dia bilang kalau dia mencintai Diandra yang benar saja, Diandra tersenyum sinis membalas tatapan mata itu dengan sedikit tajam.
__ADS_1
"Dokter tidak sedang mencoba menipu dan merayu saya agar mau diapa-apakan dengan mengatasnamakan cinta kan?" ucap Diandra.
Kini mata Gavin yang membelalak, menatap Diandra dengan tatapan nanar dan wajah terkejut, sama sekali tidak ada dalam pikiran Gavin, Diandra akan mempunyai pikiran sampai sana! dia bilang Gavin hendak menipu dan memperdaya Diandra agar mau disentuh! Oh bukan model Gavin mencurang macam itu!
"Saya harus gimana supaya kamu percaya?" tanya Gavin sambil menatap gemas ke arah sang istri.
Diandra kembali tersenyum sinis
"Tidak ada! hanya cukup pegang teguh saja apa yang sudah Dokter janjikan untuk saya, itu sudah cukup," Diandra sedikit mendorong tubuh Gavin menjauh, melangkah masuk ke kamar mandi tanpa menoleh ataupun berkata-kata lagi, meninggalkan Gavin yang nampak menepuk jidatnya sambil geleng-geleng kepala.
"Astaga! Dian,"
############
Diandra menutup pintu kamar mandi dengan segera begitu dia masuk ke dalam. Hal gila apalagi ini setelah semua hal gila yang dia alami, apakah dia harus kembali mengalami hal-hal gila yang lain? salah satunya tiba-tiba mendengarkan pernyataan cinta dari dosen rese menyebalkan yang terpaksa harus Diandra nikahi karena sudah terikat sumpah?
Cinta secepat itu? dia kira perasaan ini macam bikin mie instan apa? cukup tiga menit jadi,, Diandra menggerutu, tentu dia tidak bisa begitu saja percaya dengan pernyataan cinta yang baru saja Gavin lontarkan padanya.
"Palingan cuma jebakan biar aku mau diapa-apain kan? biar dia bisa macam-macam dan melanggar janjinya sendiri! dasar lelaki yang ada di otak cuma ************ aja," ucap Diandra.
Diandra melepas pakaiannya, menghidupkan shower dan membiarkan guyuran air itu membasahi tubuhnya, otaknya mulai kembali berpikir memikirkan Gavin tentunya dan jangan lupa pernyataan cinta Gavin yang Diandra begitu mendadak dan tiba-tiba.
Benarkah lelaki itu mencintai dia? dilihat dari sejarah mereka berdua, bukankah mereka sebenarnya saling benci satu sama lain? bukankah Gavin sendiri yang mengakui bahwa Diandra adalah mahasiswi paling menjengkelkan dan menyebalkan sepanjang karirnya sebagai dosen? dan di mata Diandra sendiri pun sama jadi atas dasar apa Gavin lantas mengatakan bahwa dia jatuh cinta pada Diandra? bukan salah Diandra kalau Diandra tidak bisa langsung mempercayai pernyataan cinta yang Gavin lontarkan bukan?
"Cinta? cinta macam apa?" Diandra menekan tembok dengan satu tangan, menggunakan tangan itu untuk tumpuan tubuhnya.
Diandra mencoba berpikir jernih memikirkan kemungkinan-kemungkinan yang terjadi di balik kata cinta yang Gavin nyatakan padanya, benarkah memang demikian atau hanya tipu muslihat lelaki itu agar bisa menyentuhnya?
__ADS_1
Diandra tengah berperang dengan pikirannya ketika mendadak ingatan Diandra akan perasaan itu kembali muncul, tentang bagaimana hangat dan nyaman pelukan Gavin yang dirasakan, apakah semua pelukan lelaki itu memang hangat dan nyaman atau hanya lelaki tertentu saja yang punya pelukan itu? lelaki tertentu yang spesial mungkin?
"Astaga!"
Diandra tercekat, dia baru menyadari bahwa dia tidak lagi merasa kesal ketika tengah bersama Gavin seperti apa yang dulu dia rasakan sewaktu masih jadi mahasiswi Gavin, Diandra mulai terbiasa dengan kehadiran Gavin di sisinya, apakah itu artinya dia...
"Ah tidak mungkin! masa iya sih...?
###########
Gavin duduk di tepi pembaringan sambil memijit pelipisnya perlahan, kenapa ketika dia berani menyatakan cinta pada Diandra,, gadis itu tidak lantas percaya dengan apa yang Gavin katakan?
"Astaga ternyata membuat wanita percaya itu sangat sulit sekali," ucap Gavin.
Bagaimana caranya Diandra percaya dengan perasaan aneh dan tiba-tiba muncul dalam hati Gavin perihal cinta yang dia punya untuk Diandra? Gavin bersungguh-sungguh, dia tidak berdusta tentang perasaan ini, agaknya Gavin memang harus melakukan sesuatu hal yang bisa membuat Diandra yakin bahwa dia tidak hanya membual dan hendak mengambil keuntungan dengan pernyataan cinta yang telah diungkapkan.
"Beliin boba tiap hari? jangan bisa diabetes dia nanti," susah ternyata jatuh cinta di usianya yang sudah hampir kepada empat macam ini, mana gadis yang Gavin cintai masih begitu belia!
Lantas harus dengan apa?
Gavin merebahkan tubuh di kasur empuk milik Diandra, memikirkan apa-apa saja yang harus dilakukan agar Diandra percaya, sesuatu hal yang biasa saja namun tidak lebay, bisa kabur nanti Diandra kalau Gavin terlalu lebay dan alay!
Ah! mendadak kepala Gavin jadi makin sakit!
"Dokter nggak mandi?" suara itu mendadak terdengar mengejutkan Gavin dan membuat Gavin lantas terbangun dan duduk di atas tepi ranjang.
"Harus mandi?" tanya Gavin secara tidak sengaja membuat Diandra gemas setengah mati.
__ADS_1
Mata Diandra membelalak dia sontak menarik tangan Gavin, memaksanya bangkit dari tempatnya duduk, tubuh itu terhuyung hampir jatuh kalau saja tidak menabrak tubuh Diandra, membuat jarak mereka menjadi kembali begitu dekat dan mata mereka saling bertaut.
Diandra tercekat menatap mata itu, kenapa mata itu bersorot lain sekarang, kenapa seperti ada sesuatu di mata itu, benarkah bahwa sebenarnya sekarang dia pun juga jatuh hati pada sosok ini?