Musuhku Suamiku

Musuhku Suamiku
Susah fokus!


__ADS_3

Diandra melirik arloji yang juga merupakan pemberian Gavin, kenapa lama sekali? Diandra meletakkan novel yang sejak tadi dia baca, lama-lama jenuh juga menanti seperti ini, Diandra merogoh ponselnya berusaha menghubungi sang suami meskipun dia tahu kalau benar Gavin masih berperang di dalam sana, panggilannya ini tidak akan direspon.


Diandra masih menanti menikmati bunyi tut... tut itu seraya bersandar di kursi. Apakah benar Gavin masih sibuk di dalam sana? akan sangat egois sekali kalau Diandra mengganggu Gavin yang tengah bekerja.


"Kemana sih, Mas? kok lama?" Diandra mendesah perlahan.


Dia hampir saja memutuskan untuk mengakhiri panggilan ketika ternyata panggilannya terjawab.


"Dian, aku lupa bilang kamu balik sendiri dulu ya? maaf tadi nggak ngabarin kamu," jelas suara itu yang kontan membuat Diandra membelalak terkejut.


"Bentar," Diandra mendadak merasa hatinya hampa.


"Mas di mana?" tentu itu yang Diandra tanyakan, dia standby di depan OK saat ini menanti Gavin beres kerja.


Terdengar helaan nafas panjang dari seberang, sebuah hal yang otomatis membuat kening Diandra berkerut menantikan jawaban atas pertanyaannya perihal di mana keberadaan sang suami saat ini.


"Mas di luar, maaf tadi nggak ngasih kabar kamu, hati-hati pulangnya yah," ucap Gavin.


Diandra sontak melotot.


Apa Gavin bilang? dia sudah di luar? luar OK atau luar rumah sakit? lalu untuk apa dia menyuruh Diandra menunggunya kelar operasi dan pulang sama-sama? buat apa? Diandra menghirup udara banyak-banyak, matanya memanas, dadanya mendadak sesak, dia merasa lama waktunya terbuang di kursi ini sama sekali tidak ada artinya di mata sang suami.


"Oh oke," ucap Diandra.


Diandra segera menutup panggilan itu, takut sesak dada dan suara seraknya terdengar oleh lelaki itu, dia tidak mau Gavin tahu bagaimana kecewanya Diandra sekarang, ditatapnya layar ponsel di tangan, tidak ada panggilan balik, tidak ada pesan yang Gavin kirimkan untuknya, membuat air mata Diandra benar-benar menitik.


Diandra mendesah, buru-buru menyeka air matanya dan bangkit dari kursi, dia harus segera pulang, dia ingin pulang untuk itu dia mempercepat langkahnya.


Kenapa mendadak Gavin seperti ini? kemana sebenarnya Gavin sekarang? kenapa tidak memberi kabar Diandra lebih dulu? kenapa harus Diandra hubungi dulu baru menjelaskan? Diandra sudah cukup banyak membuang waktu untuk menunggunya selesai operasi.


Diandra menatap kaca yang menjadi pembatas kafe dari tempatnya berdiri, sedetik kemudian Diandra tertegun dan menyadari sesuatu, saat tempat di mana dia dan Derren duduk tadi terlihat begitu jelas dari tempatnya berdiri.


"Tidak! ini tidak boleh terjadi!"

__ADS_1


Diandra segera mempercepat langkahnya menuju parkiran dan untuk kedua kalinya dia menabrak orang hari ini, kali ini tidak ada yang terjatuh, dia tidak terjatuh dan Diandra mendapati semua jawabannya ada di depannya.


"Ma... maaf Dokter," desis Diandra lirih, dia menundukkan kepala tidak berani menatap lelaki dengan setelan scrub berwarna biru itu.


"Loh, Nyonya Gavin, kan? kok sampai di sini?" nampak suara itu terkejut, membuat Diandra mengangkat kepala menatap wajah itu.


"Saya cari Mas Gavin Dok. Dokter ada lihat?" tanya Diandra penuh harap.


Mata itu membulat lalu tersenyum dan tertawa lirih.


"Astaga, pengantin baru nih baru ditinggal kerja sehari aja udah kangen yah?" goda lelaki itu lantas menganggukan kepala.


"Dia ikut anak-anak main billiard hari ini, saya juga mau nyusul," ucap pria itu.


Mata Diandra membulat, kalau saja dia tidak berbuat salah tadi, rasanya dia ingin mengamuk dan memukuli Gavin begitu sampai di rumah nanti, tetapi suaminya jadi begitu karena kesalahpahaman yang dia buat, jadi Diandra tidak berhak dan tidak boleh marah.


"Saya boleh ikut, Dok?" mohon Diandra penuh harap.


"Oke mari ikut saya, Dian. Saya yang paling akhir datang nih nanti," ucap pria itu lagi.


Diandra tidak banyak berkata-kata lagi, dia mengikuti langkah Dokter itu menuju parkiran, segala kesalahpahaman yang terjadi antara dia dan Gavin harus segera dia bereskan, Diandra tidak mau Gavin kembali menjadi pribadi yang dingin dan menyeramkan lagi, Diandra sangat suka Gavin yang sekarang, romantis, manis dan begitu perhatian.


Diandra sudah masuk dan duduk di mobil, ke mana kira-kira para om-om itu bermain billiard?


########


Gavin *******-***** cue ditangannya mencoba memfokuskan pandangan dan pikirannya pada pool ball yang ada di meja, dia mengambil chalk, menggesekkan benda itu ke ujung Cue miliknya, kenapa kali ini rasanya dia susah sekali fokus sih?


"Nah, Vin lanjutlah," Leo menyesap rokok di tangannya, di antara yang lainnya dia yang kecanduan nikotin, padahal dia terkenal paling galak ketika edukasi ke pasien tentang bahaya merokok, emang somplak Dokter satu ini!


Gavin mengangguk, dia baru saja hendak memposisikan diri, ketika suara itu mengejutkan bukan hanya dirinya, tetapi semua yang bergabung di meja itu.


"Vin, dicariin Vin!!!" Toni tersenyum, memberi kode dengan mata, siapa yang ada di sisinya ini.

__ADS_1


"Loh, kenapa bisa sama kamu, Toni? jangan macam-macam sama bini orang," pekik Leo dengan rokok menyelip di sudut bibir.


"Tadi ketemu di depan lobby RS pas mau ke sini," jawab Leo santai, sementara Diandra tersenyum sambil menundukkan kepala sebagai bentuk hormat pada sejawat suaminya yang ada di sana.


Gavin menghela nafas panjang, dia meletakkan cue yang langsung diraih oleh Leo yang melangkah mendekatinya.


"Sana, nyodok yang beginian lebih asik daripada nyodok pool ball, Vin," bisik Leo sambil tersenyum jahil.


Gavin menggebuk punggung Leo, bergegas melangkah mendekati Diandra yang masih berdiri di tempatnya, tangan Gavin meraih tangan Diandra, membawanya melangkah keluar dengan segera.


"Kalau mau ma..."


Gavin terkejut ketika Diandra tanpa malu-malu melompat dalam pelukannya, memeluk dan menjatuhkan wajah di dada Gavin dengan begitu manja, Gavin menghela nafas panjang senyumnya tergambar di wajah, kemarahannya surut walau rasa kesal dan tidak terima itu masih ada dan bercokol di dalam hati Gavin.


"Mas, ayo pulang!" desisnya manja sambil sambil menengadahkan kepalanya menetap Gavin dengan puppy eyes mode on, yang sama sekali tidak bisa Gavin tolak.


Gavin menghela nafas panjang, memejamkan mata sejenak berusaha menekan semua perasaan yang sejak tadi menyiksanya.


"Ya, pulang ya?" rengek Diandra tidak mau menyerah.


"Aku nunggu Mas lama loh, tadi di depan OK," ucap Diandra lagi.


Gavin tertegun.


"Lah bukannya tadi asik di kafe ngobrol sama..." Gavin tidak melanjutkan kalimatnya, terlebih pelukan itu terasa makin erat.


"Kenapa tadi nggak langsung nyamperin? kenapa diam aja lihat aku kayak tadi?" tanya Diandra.


Jadi Diandra tahu apa yang membuat Gavin begini? dia tahu apa yang membuat Gavin lantas melarikan diri kemari?


"Kenapa nggak tanya dulu ke aku? kenapa langsung pergi? kenapa ma..."


"Pulang dulu, yuk! kita ngomong di rumah, gimana?"

__ADS_1


__ADS_2