
Aliya tercengang. Dia tidak salah dengar, kan? Mamanya pernah pacaran dengan suami Diandra? Yang benar saja! Diandra tersenyum dan mengangguk, seolah paham dengan keraguan dan kebingungan Aliya mendengar fakta barusan.
Gadis itu menyeka sisa-sisa air matanya. Terlihat jelas dia macam orang linglung. Kalau dipikir-pikir, kasihan sekali Aliya ini. Dia masih dua belas tahun, tapi harus menerima drama pelik yang terjadi di keluarganya. Belum lagi sikap otoriter Rachel yang setengah memaksa Aliya untuk jadi seperti apa yang Rachel mau.
"Kenapa Kakak nggak bilang sejak dulu?" Akhirnya Aliya bersuara.
"Kakak baru tahu kalau kamu anak Dokter Rachel kan baru aja ini, Aliya. Jadi sebelumnya mana Kakak tahu kalau kamu ternyata anak Dokter Rachel, mantan pacar suami Kakak." Senyum Diandra merekah mencoba mencairkan suasana canggung yang kini menyergap Aliya.
"Kakak nggak marah? Nggak kesel sama aku?"
Mata Diandra membulat, sedetik kemudian tawa Diandra pecah. Dia tertawa yang mana respon spontan Diandra membuat Aliya mengerutkan kening.
"Kenapa Kakak harus kesel sama kamu? Kamu salah apa?" Diandra tidak mengerti, kenapa dengan gadis ini?
"Kan aku anak mantan pacar suami Kakak." Jelas gadis itu lirih.
"Terus? Kenapa memang kalau kamu anak mantan suami Kakak?"
Nampak Aliya mengangkat wajah, menatap Diandra dengan wajah canggung.
"Ya biasanya kan pada kesel, benci sama semua hal yang berhubungan dengan mantan, Kak. Kebanyakan teman-teman aku kayak gitu."
Diandra menghela napas panjang.
"Kamu anak baik, lantas kenapa Kakak harus benci sama kamu? Toh Kakak juga tidak pernah punya masalah sama Mama kamu, kan?"
Aliya akhirnya tersenyum, dia kembali meraih tangan Diandra, mencium punggung telapak tangan itu dengan penuh hormat.
"Aku senang banget bisa kenal sama Kakak!" Gumamnya lirih.
Diandra mengangguk, tersenyum lalu mengelus lembut pipi chubby Aliya. Sedetik kemudian tawa mereka pecah. Tertawa seolah apa yang barusan terjadi di depan mereka itu cuma sinetron yang di putar oleh salah satu stasiun TV.
"Kak, berarti Kakak tahu dong kenapa dulu Mama malah nikah sama Papa? Kalau boleh aku tau, kenapa, Kak?"
Diandra tersenyum getir, dia menghela napas panjang. Menatap gadis yang tengah menatapnya dengan seksama itu.
"Janji Aliya nggak bakalan benci sama Mama kalau Kakak cerita?" Tentu itu yang Diandra pertanyakan. Persoalan masa lalu mereka cukup pelik.
__ADS_1
"Kenapa aku harus janji begitu?"
"Karena Kakak takut, Aliya akan makin membenci Mama kalau Aliya tahu jawaban dari pertanyaan Aliya barusan."
##########
"Vin!"
Gavin mendengus perlahan. Itu suara Matthew! Mau apa lagi sih Dokter satu itu? Gavin menghentikan langkahnya, membalikkan badan dan menanti sosok itu mendekat ke arahnya.
"Kenapa?" Tentu itu yang Gavin tanyakan, apa yang membuat Matthew berlari-lari mengejar dirinya yang hendak pergi ke ruangan Dokter Rizky?
"Aku udah dengar semua, Vin!" Gumam Matthew dengan wajah penuh antusias.
"Gila, ternyata si Blackpink itu mantan pacar kamu, Vin? Lama jomblo diam-diam selera kamu tinggi benar!"
Gavin menepuk punggung Matthew keras-keras. Dasar buaya buntung satu ini! Kalo masalah cewek cantik saja dia nomor satu!
"Jangan berlebihan. Dulu dia tidak secantik sekarang. Sekarang mah udah kebanyakan permak!" Desis Gavin sambil mengerucutkan bibir. Faktanya memang seperti itu kok!
Nampak wajah Matthew terkejut luar biasa. Alisnya berkerut membuat Gavin terkekeh. Kaget, kan, dia? Coba dia lihat foto zaman dulu si Rachel, pasti pangling! Ya walaupun Rachel juga nggak jelek-jelek banget, hanya saja wajahnya tentu sangat berbeda dengan wajah Rachel yang sekarang.
"Kabarnya dia pindah ke sini karena ketahuan jadi simpanan dirut RS, ya?"
Gavin menghela napas panjang. Tentu Gavin tahu perihal itu. Bukankah mereka tadi ribut dan beradu mulut di depan muka Gavin?
"Udahlah, jangan ngurusin urusan pribadi orang." Tegas Gavin yang sudah tidak mau berurusan lagi dengan masalah pribadi mantan kekasihnya.
"Aku ke ruangan Rizky dulu."
Matthew mencebik, dia hanya mengangguk dan membiarkan Gavin melangkah pergi meninggalkan dirinya. Gavin tidak lagi menoleh, langkahnya begitu mantap menyusuri koridor rumah sakit.
Gavin sudah cukup berurusan dengan Rachel dan keluarganya. Tapi agaknya setelah ini dia memang perlu bicara barang sebentar dengan Sony. Hendak menanyakan apa maksud Sony yang mengatakan bahwa Diandra bisa sampai hampir celaka karena ulahnya? Dia bahkan tidak tahu kronologi bagaimana Diandra bisa bersama Aliya kemudian berakhir di IGD dengan luka di lengan kiri tadi.
Selingkuh dengan di rektur utama rumah sakit? Karma, kah? Atau memang sebenarnya sudah begitu tabiat Rachel? Kecanduan selingkuh setelah dulu dia coba-coba selingkuh ketika masih bersama Gavin?
Gavin benar-benar merasa bersyukur, dia tidak harus berada di posisi Sony untuk saat ini. Tidak bisa dia bayangkan bagaimana perasaan Sony saat ini. Di selingkuhi, di pisahkan dengan anak-anak dan bahkan masih di fitnah oleh Rachel di depan anak mereka. Agaknya sakit yang dulu Gavin rasakan tidak seberapa di banding dengan sakit yang kini Sony rasakan.
__ADS_1
"Apapun itu, terima kasih dulu sudah menyakiti aku."
############
"Kau benar-benar keterlaluan!" Sony mengeram, nampak Rachel menundukkan wajah, tidak berani menatap langsung ke dalam mata mantan suami yang sudah memberinya dua anak itu.
"Aku tidak mau kehilangan anak-anak, Bang!" Desis Rachel lirih.
"Tidak mau kehilangan? Kau mikir nggak soal anak-anak pas kelonan sama suami orang? Setidaknya kalau kamu nggak mikir soal aku, mikirlah anak-anak, Hel!" Hati Sony masih begitu sakit.
"Salah apa aku sampai kamu setega itu sama aku?"
Rachel terisak, satu tangan menutup mulut dan hidung. Air matanya banjir. Namun itu sama sekali tidak mampu menyurutkan kemarahan Sony malam ini.
"Aku yang salah! Iya memang aku akui aku yang salah! Tapi aku benar-benar nggak mau kehilangan anak-anak! Terlebih mereka begitu pro kepadamu, bisa apa aku?"
Sony menyeringai.
"Mereka pro kepada ku karena aku tidak pernah memaksa dan menekan mereka untuk selalu jadi apa yang aku mau, Hel. Bukan macam kamu!"
Sony menekan suaranya, emosinya belum mau berkurang, namun Sony harus ingat betul bahwa dia harus menjaga sikap.
"Aku ingin mereka menjadi Dokter seperti kita, Bang! Salah? Terlebih mereka punya darah murni seorang Dokter dari aku dan kamu. Ini sebuah kelebihan dan mereka tidak boleh mensia-siakan semua ini!"
"Tapi nggak se..."
"Abang nggak ngerasain gimana beratnya perjalanan Dokter darah kotor macam aku! Berat, Bang! Harapan ku dengan darah murni yang anak-anak punya, jalan mereka bisa lebih mudah!" Rachel terisak, nampak suaranya menjadi lirih tertekan isak tangisnya.
"Itu bukan alasan! Ada peraturan yang menyebutkan kalau orang tuanya Dokter maka anak-anaknya juga harus jadi Dokter? Kau mulai ngelantur dan kemana mana pembahasan mu!" Tukas Sony sudah tidak sabar.
"Aku sudah nggak mau lagi urusan sama kamu! Terserah setelah ini kamu mau apa, aku tidak peduli! Yang jelas, anak-anak aku bawa!"
############
Mampir ke novel baru ku yah..
"Pria Pilihan Kakek"
__ADS_1
mksh sebelumnya😊🙏