
Gavin tidak peduli dengan penolakan keras Diandra dan bagaimana masamnya wajah gadis itu ketika dia menggenggam dan menarik Diandra keluar dari ruangan, yang jelas entah mengapa ketika tangannya menggenggam tangan Diandra seperti ini,, rasanya begitu lain dan damai.
Tangan itu cukup mungil sangat kecil malah jika dibandingkan dengan telapak tangannya yang besar!!! ya sepadan lah dengan postur tubuh Diandra yang mungil menggemaskan, Gavin mencengkram tangan itu dengan sedikit kuat tidak mau buruannya lepas begitu saja.
Dengan langkah santai dia melewati antrian pasien tidak dihiraukannya tatapan mereka yang nampak dia dan Diandra dengan tatapan menyelidik, langkah Gavin terus menuju sosok itu, lelaki paruh baya dengan snelli lengan panjang yang nampak tengah berbincang dengan sesama sejawatnya.
"Nah ini anak gadis ku Roy,, Alhamdulillah sudah selesai skripsi tinggal nunggu wisuda, lalu lanjut koas," ucap Darmawan.
Gavin segera melepaskan tangan Diandra,, tidak sopan saja terus menggenggam tangan gadis itu sementara sang Papa nampak tengah memperkenalkan Diandra pada lelaki dengan kacamata yang kini nampak memperhatikan mereka dengan seksama.
"Ah Diandra kan?" sosok itu tersenyum lebar nampak jelas kalau dia sudah mengenali Diandra.
"Iya Prof," Diandra mengulurkan tangannya, memberi hormat pada lelaki yang entah Gavin tidak tahu siapa namanya, guru besar apa?
"Dulu saya ke rumah pas kamu lahir, kayaknya baru kemarin yah? eh sudah segede ini, sudah Sarjana Kedokteran lagi," ucap Roy, lelaki itu lantas menoleh ke arah Gavin memberi senyuman lalu menoleh lagi ke arah Darmawan.
"Ah iya ini calonnya Diandra insya Allah,, doanya saja Roy," ucap Darmawan.
Gavin macam berbunga-bunga ketika mendengar penjelasan dari Darmawan, calon! dia sudah membahasakan Gavin dengan panggilan calon dari anaknya, ini ternyata benar! bahwa bahagia itu begitu sederhana!!!
"Oh ya? aduh Dian udah berani pacaran yah," godanya lalu mengulurkan tangan ke arah Gavin.
"Kenalkan saya ini teman seperjuangan calon Papa mertua dari pre - klinik,, Roy," gumam lelaki itu yang kembali membuat hati Gavin berbunga-bunga, calon Papa mertua!
"Saya Gavin Prof, senang bisa berjumpa dan berkenalan dengan Profesor Roy," balas Gavin sopan dengan senyum yang tidak ketinggalan dari wajahnya.
"Teman kuliah atau gimana nih?" tampak lelaki itu begitu kepo, membuat Gavin jadi besar kepala,, memang wajahnya belum nampak tua? teman kuliah katanya? tidak tahu saja bahwa Gavin ini yang sering memberi hukuman Diandra di kampus dan tentu saja rival debat di depan dekan.
__ADS_1
"Bukan Roy, Gavin ini dosen Diandra di kampus," ralat Darmawan dengan segera nampak senyuman itu tergambar di wajahnya.
"Sejawat bagian bedah umum nih," ucap Darmawan dan nampak mata Roy membulat menatap Diandra dan Gavin bergantian.
"Oh ya? duh Dian pintar sekali kamu cari jodohnya? lulus pre - klinik yang kau bidik langsung spesialis! nggak kaleng-kaleng!!!" ucap Roy dengan tawa dan Darmawan ikut tertawa sambil menoleh ke arah Diandra,,, nampak gadis itu hanya nyengir lebar dengan wajah memerah. Wajah menggemaskan yang rasanya ingin Gavin...Ah tidak Gavin!!! jangan nekat!!!
Gavin sendiri tidak mengerti kenapa sekarang semua momen ketika berdekatan dengan gadis ini terasa begitu lain? ada apa dengan dirinya? jatuh cinta pada Diandra atau hanya perasaan sesaat yang timbul karena kedekatan mereka yang masuk dalam kategori terpaksa dan punya tujuan yang berbeda.
#################
Diandra mencebik duduk di jok depan dengan Gavin di sisinya dan sang Papa yang duduk santai di belakang, kenapa sih hari ini absurd sekali kenapa kesialan demi kesialan itu tidak mau pergi dari hidup Diandra semenjak sumpah itu dia cetuskan?
Nampak wajah lelaki itu berseri-seri, pujian dari Profesor Roy tadi? huh dasar tukang cari muka... Eh tapi di bagian mana? bukankah faktanya memang demikian dia seorang dosen di fakultas kedokteran yang sudah spesialis, dan Gavin sama sekali tidak meninggikan diri atau pamer posisi di depan Prof Roy tadi, Papanya yang dengan bangga memamerkan Gavin. Ah... makin besar kepala nih si bujang lapuk.
"Kamu lagi PMS Dian? perasaan dari tadi mukanya ditekuk mulu?" tanya Darmawan yang membuat Diandra tersentak menoleh ke arah sang Papa yang nampak memperhatikan dirinya di jok belakang, PMS? kenapa jadi PMS yang hinggap di kepala Papanya, dia tidak tahu apa kalau anaknya jadi kayak gini karena lelaki yang tadi dia banggakan di depan Profesor Roy.
"Yakin? Papa perhatikan jelek banget wajah kamu dari tadi Dian," ucap Darmawan yang membuat mata Diandra kembali membulat, jelek katanya? anak gadis kesayangannya yang masuk jajaran bunga kampus fakultas kedokteran dia katakan jelek yang, benar saja!!
"Papa," Diandra mencebik, semakin menekuk wajahnya yang sontak memancing tawa Darmawan.
"Seriusan? lagian kamu ini di apelin pacar kok malah jelek terus mukanya, kalian nggak lagi berantem kan Vin?" tanya Darmawan.
Pacar?
Hampir saja Diandra berteriak memprotes sang Papa kalau saja otaknya tidak mengingatkan agar dia tidak cari gara-gara dengan bujang lapuk itu, bisa makin gila dan menjadi-jadi nanti kalau Diandra mencari masalah dengannya jadi lebih baik Diandra diam saja.
"Nggak Prof, kami baik-baik saja Prof," jawab Gavin.
__ADS_1
Diandra menoleh dengan tatapan tidak suka, baik-baik saja tolak ukur apa yang Gavin gunakan sampai bisa memberi statement bahwa mereka baik-baik saja.
"Yakin? nggak lagi ada masalah kan?" tampak sang Papa masih belum percaya membuat Diandra terus-menerus menghirup udara dalam-dalam guna menstok kesabarannya.
Terdengar suara tawa kecil dari mulut bujang lapuk itu, hal yang membuat Diandra rasanya ingin kabur saja dan pulang ke rumah, tapi jujur dia begitu penasaran dengan apa yang hendak mereka berdua bicarakan, jadi mau tidak mau, suka tidak suka, Diandra harus membuntuti mereka berdua sampai nanti pulang ke rumah.
"Ya sebenarnya ada sih Prof," ucap Gavin.
Diandra kembali terkejut, apa lagi drama yang hendak lelaki ini mainkan? apakah dia akan mengakui masalah mereka yang sebenarnya tentang sumpah yang Diandra ucapkan ini atau bagaimana?
"Nah betul kan,, insting orang tua itu tidak pernah salah Vin," gumam sang Papa menanggapi.
"Jadi apa masalah kalian? ini bukan bermaksud Papa mau ikut campur loh yah," ucap Darmawan.
Diandra sontak lemas, dia harus jawab apa? Gavin sama sekali tidak memberinya kode atau apapun kalau sampai dia salah bicara dan membuat keadaan tidak berjalan seperti apa yang bujang lapuk ini inginkan, keperawanan Diandra yang akan jadi taruhan.
Diandra bergidik ngeri dan memutuskan untuk diam saja, membiarkan Gavin yang menjawab pertanyaan demi pertanyaan itu.
"Jadi begini Prof, kemarin katanya Prof mau kenalin Gavin sama mahasiswinya Prof Darmawan, nah terus Diandra nya jadi uring-uringan sama saya Prof," ucap Gavin.
Apa?
Diandra membelalak dan hampir saja berteriak sementara Gavin hanya meliriknya sambil tersenyum simpul.
Kurang ajar! Diandra makin tidak mengerti bagaimana bisa Gavin berkata seperti itu di depan Papanya, benar-benar kurang ajar!!!
"Ah nggak ada saya bilang begitu Vin, alasannya saja itu biar ngambek dan kamunya perhatian," ucap Darmawan.
__ADS_1
"Papa," Diandra mencebik kesal,, dia menepuk jidat lalu memijitnya perlahan, hal absurd apalagi yang akan dialami hari ini? sampai kapan penderitaannya ini berakhir?