
"Eh... apaan sih?" tentu Diandra berteriak, dia baru saja masuk ke dalam kamar dan Gavin langsung menyerangnya seperti ini.
Pelukan itu begitu erat, hembusan nafas itu bahkan menyapa belakang telinga Diandra dengan begitu posesif. Diandra sebagai seorang wanita 'dewasa' tentu paham kemana arah dan maksud di balik serangan itu terhadapnya.
"Apa katamu?" bisik Gavin sensual.
"Aku mau kamu, Sayang!"
Diandra menepuk lengan kekar itu, membalikkan badan dan mencubit gemas hidung mancung Gavin. Terdengar tawa Gavin pecah, dia terbahak sementara Diandra mencebik lalu melangkah menuju kamar mandi.
"Eh, Mau kemana?" Gavin menarik tangan sang istri sebelum mencapai pintu kamar mandi.
"Mau ke kamar mandi lah, Mas! Gimana sih?" Diandra benar-benar tidak mengerti, ada apa dengan suaminya ini? Ditatapnya Gavin dengan gemas. Ingin rasanya dia menipuk kepala Gavin, namun dia sadar, itu tidak boleh! Dosa!
"Nanti aja dulu, Sayang!" dengan lembut Gavin menarik tubuh mungil Diandra, merebahkan tubuh yang menjadi candu favoritnya ke atas ranjang. Mengunci dan menindih tubuh itu tidak peduli Diandra membelalak kesal atas tindakan apa yang sudah dia lakukan.
"Mas! Aku mau mandi, gerah banget!" Diandra berteriak, sudah bisa dia pastikan kalau sudah dalam posisi seperti ini, Diandra tidak akan bisa melawan dan melepaskan diri. Yang ada dia akan terbuai, terlena dan larut dalam permainan Gavin yang sama sekali tidak bisa dia tolak.
Gavin tersenyum, ditatapnya langsung mata itu lekat-lekat. Seolah hendak menjawab sang istri dengan sorot matanya yang tajam dan penuh gairah itu. Mengunci dua tangan Diandra di atas kepala adalah hal yang sangat Gavin sukai. Wajah Diandra akan semakin dewasa dan menggoda ketika dua tangannya Gavin angkat ke atas seperti ini.
Sementara Diandra, di bawah kungkungan tubuh dan sorot mata yang begitu mengintimidasi, dia sama sekali tidak bisa berbuat apa-apa. Tubuhnya sama sekali tidak bisa menolak sentuhan apapun yang Gavin berikan kepadanya. Dia seperti kehilangan daya untuk melawan dan melepaskan diri.
"Setelah ini kita akan mandi, Mas janji!" bisik Gavin tepat di telinga Diandra. Dia menyusuri pipi dan leher sang istri dengan hembusan napas, membuat Diandra refleks menggelinjang efek sapuan napas hangat yang membuat bulu kuduknya meremang
Lidah Diandra mendadak kelu. Dia sama sekali tidak bisa melawan atau tepatnya tidak lagi ingin melawan. Gavin begitu pintar mengambil peluang, dia segera menjejalahi inci demi inci tubuh itu dengan perlahan. Membakar Diandra sampai titik darah penghabisan. Diandra memejamkan matanya erat-erat, sentuhan itu benar-benar membuatnya gila! Tubuhnya memanas, meremang dan menginginkan lebih dari apa yang Gavin lakukan sekarang.
"Dian... Mas sayang banget sama kamu, Sayang!" bisik Gavin dengan suara bergetar, sebuah tanda bahwa Gavin sudah sama 'panas' nya dengan Diandra.
__ADS_1
"Jadi?" Diandra menatap langsung ke dalam mata itu, tatapan mereka sama-sama sudah berkabut. Dan Diandra tahu, mereka sudah sangat dekat dengan apa yang mereka inginkan.
"Jadi...." Gavin tersenyum penuh arti.
"Mari kita nikmati cinta kita petang ini, oke?"
##########
"Mas, seriusan deh aku heran, kenapa sih Mas bernapsu banget pengen anter jemput aku?" Kiki sudah duduk di jok depan mobil Derren, bagaimana sih cara melepaskan diri dari segala macam kesialan yang menimpanya sekarang?
Derren menghela napas panjang, menoleh sekilas lalu kembali fokus ke jalanan yang membentang di depan mata.
"Memang kenapa sih? Aku nggak pernah ada niatan buruk sama kamu, kok!" sebuah jawaban yang sama sekali tidak sesuai dengan apa yang Kiki ingin dengar dari mulut Derren untuk menjawab pertanyaannya.
Kiki mencebik, kepalanya kembali pusing. Dia masih tidak mengerti, kenapa sih ada manusia macam Derren begini? Apa salah dan dosa Kiki sampai Tuhan menghukum dia dengan begitu menyedihkan macam ini?
Kiki tidak lagi bersuara, sia-sia rasanya dia bertanya, toh Derren tidak akan menjawab dengan jawaban yang sesuai dengan harapan Kiki. Sekarang Kiki sedang sibuk mencari alasan, mencari celah untuk melepaskan diri dan melarikan diri dari kesialan yang menimpanya semenjak kejadian pagi itu terjadi.
"Ya salah lah!" gumam Kiki kesal.
"Mas maksa mulu! Ngebet banget sih pengen antar jemput!" protes Kiki yang merasa risih dengan segala macam perlakuan Derren yang absrub ini.
"Kalau nggak dipaksa pasti kamu nggak mau,"
Kiki membelalak, melotot menatap Derren yang masih tetap stay cool di belakang kemudi.
"Memang, enakan berangkat sama Diandra apa sama babang ojol." Gumam Kiki asal.
__ADS_1
Derren mendengus.
"Aku nggak harus banting setir jadi ojol buat bikin kamu mau aku anter jemput, kan?"
Kiki menghela napas panjang.
Dihirupnya udara banyak-banyak, dihembuskan perlahan-lahan untuk mensupplai stok sabar dalam dirinya. Derren memang lelaki unik dan luar biasa aneh. Kiki sampai tidak bisa memahami, apa sebenarnya isi otak dan hati lelaki itu?
"Nggak perlu!" jawab Kiki ketus.
"Nah berarti mau kan, aku anter jemput terus meskipun bukan driver ojol?"
Kiki pilih tidak menjawab. Mensudahi obrolan tidak berfaedah dan lebih memilih menenangkan diri sejenak di joknya. Derren pun sama. Dia tidak lagi berbicara, berkata-kata atau apapun.
Mereka hanyut dalam diam masing-masing. Hingga di sepersekian menit Derren membisu, suaranya kembali keluar, kembali membuat Kiki meradang dan ingin memukul lelaki itu dengan kedua tangannya.
"Ki... kamu udah ada pacar belum sih?"
#########
Rachel mendesah, menyandarkan tubuhnya di jok dengan mata terpejam. Matanya memanas, air matanya menitik bahkan sudah sejak tadi. Hatinya bergejolak. Ada banyak sekali perasaan yang memporak-porandakan hatinya yang tadinya begitu tenang.
Mungkin keputusannya dengan segala macam pertimbangan yang sudah dia lakukan kemarin tidak selamanya menyedihkan. Buktinya, keputusan itu mengantarkan Rachel kembali berjumpa dengan pria yang dulu begitu luar biasa membuatnya terpesona.
Gavin Narendra Putra, Pemuda humble yang senang membantu sesamanya itu memang punya daya tarik tersendiri. Dia cerdas, sopan walaupun terkadang sedikit arrogant. Dan semua itu di mata Rachel benar-benar luar biasa indah, Gavin sama sekali tidak memiliki keburukan sedikitpun di mata Rachel saat itu.
"Kau benar-benar beda, Vin!" desis Rachel dengan senyum getir tersungging di wajah.
__ADS_1
Kembali bayangan gadis belia nan cantik terlintas di benak Rachel. Siapakah dia dan apa hubungan gadis itu dengan Gavin? Agaknya setelah ini Rachel harus cari tahu banyak hal perihal identitas gadis itu. Mencari tahu ada hubungan apa dia dengan Gavin. Tapi untuk apa? Apapun itu, Rachel tidak ingin mati penasaran karena gadis itu.
Rachel menghela napas panjang, ingatannya terlempar jauh hingga sampai pada masa itu. Saat di mana dulu Gavin belum segagah sekarang. Masa di mana mereka masih saling bersama, merajut dan memperjuangkan mimpi bersama. Mata Rachel kembali basah, kenapa rasanya sedikit sakit?