
"Positif"
Desis Diandra lirih. Sebenarnya dia tidak terlalu terkejut, bukankah tadi Dokter Ratna sudah memberitahunya? Dari tiga buah testpack, Diandra hanya menggunakan satu. Untuk apa dipakai semua? Toh semua sudah sangat jelas.
Diandra mendesah, dengan lunglai dia melangkah keluar dari kamar mandi. Dokter Ratna berbaik hati menyuruhnya istirahat hari ini. Dia hanya diminta visiting beberapa pasien yang akan Dokter Ihsan tindak besok pagi. Benar kata Kiki tadi, besok akan ada banyak bayi lahir dan mereka akan jadi saksi bagaimana para bayi itu kemudian harus menjalani kehidupan di dunia tipu-tipu ini.
Diandra meraih ponselnya, mencoba menghubungi sang suami. Biasanya di jam-jam seperti ini, Gavin tengah bersiap masuk ke dalam OK. Jadi sebelum dia masuk dan berperang di dalam, lebih baik Diandra temui dan hendak sampaikan dulu kabar ini.
Diandra menempelkan ponsel di telinga. Berharap Gavin segera mengangkat panggilannya dan mengatakan di mana posisinya sekarang.
"Gimana istriku, Sayang?" Sapa suara itu begitu lembut. Hal yang membuat senyum Diandra langsung merekah sempurna.
"Mas di mana? Aku pengen ngomong penting." Jelas Diandra to the point.
"Ngomong penting apa, Sayang? Mas di ruangan nih."
"Pokoknya penting. Kita harus ketemu!" Diandra tegas mengatakan bahwa mereka harus bertemu. Menyampaikan kabar seperti ini mana bisa lewat telepon?
Hening,
Kening Diandra berkerut. Kenapa suaminya tidak langsung menjawab? Ada apa?
"Mas? Keburu mau ada jadwal operasi?" Desak Diandra yang tidak sabar ingin menyampaikan kabar ini.
"Ah tidak! Kemarilah, aku tunggu, Sayang!" Jawab Gavin akhirnya.
Sebuah jawaban yang membuat Diandra bertanya-tanya. Apa yang membuat suara Gavin begitu lain? Diandra menggeleng, dia lantas bangkit. Melangkah keluar guna pergi menemui sang suami. Langkahnya sedikit berat, pikirannya sedang tidak tenang. Entah dia harus bahagia atau sedih dengan kehamilannya ini, Diandra tidak tahu.
Diandra menghela napas panjang, dia lantas mempercepat langkahnya. Dia harus segera menemui Gavin!
***
Gavin mendadak cemas dan khawatir. Dia bisa longgar kalimat istrinya begitu serius. Sebenarnya apa yang hendak Diandra bicarakan? Apakah dia tahu perihal hubungan Gavin dengan Rachel di masa lalu? Atau jangan-jangan Rachel menemui Diandra dan bilang macam-macam pada Diandra?
Ah!
__ADS_1
Mendadak kepala Gavin makin sakit! Semenjak dia tahu Rachel bergabung di rumah sakit ini, kepala Gavin selalu pusing. Hatinya tidak tenang, selalu berpikiran yang tidak-tidak. Dia selalu ketakutan.
"Ah! Aku tidak pernah melakukan hal yang salah, kenapa jadi takut begini?" Gavin memaki dirinya sendiri. Kenapa jadi Gavin yang takut?
Toh selama pacaran dengan Rachel, Gavin tidak pernah macam-macam. Tidak sampai tidur dengan wanita itu dan putus pun karena Rachel yang berulah. Bukan Gavin! Track record Gavin bersih!
"Perlukah aku cerita ke kamu, Sayang? Tapi buat apa juga sih?" Gavin menimbang niatnya menceritakan masa lalu Gavin bersama Rachel.
Untuk apa tapi diceritakan? Gavin sudah menutup masa lalunya rapat-rapat! Dan dia takut Diandra malah akan punya pikiran macam-macam dan mengira Gavin masih punya perasaan pada Rachel! Padahal jujur, jangankan bertemu dengan Rachel, melihat wajahnya saja Gavin sudah malas!
Gavin mengacak rambutnya dengan gemas, dan sedetik kemudian pintu ruang praktek Gavin terbuka. Nampak istrinya muncul dengan kondisi yang membuat Gavin terperanjat kaget dan spontan berdiri.
Mata Diandra bengkak dan sembab, kondisinya sedikit berantakan di mata Gavin. Diandra kenapa? Apa jangan-jangan...
"Sayang! Kamu kenapa?" Gavin melangkah, mendekati Diandra yang tangisnya langsung pecah begitu Gavin berjarak tidak jauh darinya.
Dengan sigap Gavin meraih tubuh istrinya dalam pelukan. Didekapnya erat-erat tubuh itu. Hati Gavin risau. Dia bersumpah tidak akan tinggal diam kalau sampai ada yang berani menyentuh atau sampai menyakiti istrinya!
"Dian... Kamu kenapa? Bilang sama Mas, Sayang!" Gavin mendekap tubuh mungil itu, mengelus punggungnya sambil berkali-kali menjatuhkan kecupan di puncak kepala Diandra.
"Cerita coba, siapa yang bikin kamu kayak gini, Sayang?" Bujuk Gavin lembut. Satu tangannya terulur menyeka bulir yang menitik dari mata sang istri.
"Kamu jahat, Mas!" Jawab Diandra yang membuat Gavin terperanjat.
Jahat? Jahat yang bagaimana? Gavin tidak mengerti apa yang sudah dia lakukan sampai Diandra mengatai dirinya jahat? Apakah ini ada hubungannya dengan Rachel dan hubungan masa lalu Gavin dengan Rachel?
"Ja-jahat?" Alis Gavin berkerut, wajahnya agak pucat. Dia ketakutan sekarang. Takut Diandra marah dan membenci dirinya atau bahkan sampai meninggalkan Gavin seorang diri.
Diandra kembali menyeka air mata, satu tangannya merogoh saku celana scrub. Meraih benda itu dan menyodorkan pada Gavin, Gavin segera meraih benda itu, dia benar-benar terkejut dan tidak menyangka Diandra menyodorkan benda itu padanya.
Tangan Gavin bergetar hebat ketika membuka tutup berwarna biru, tangannya tremor luar biasa. Dan ketika tutup itu berhasil dia lepas, rasanya Gavin seperti diterbangkan tinggi! Garis merah itu ada dua! Berjumlah dua dan Gavin tahu betul apa itu artinya!
"Ka-kamu hamil, Sayang?"
########
__ADS_1
Rachel hendak bangkit dan melangkah ke kamar mandi ketika ponselnya berdering. Dia meraih benda itu, sontak wajahnya masam mendapati nama siapa yang terpampang di layar.
Ingin rasanya Rachel me riject panggilan yang masuk ke ponselnya, tapi itu malah akan membuat si pemilik nomor terus menerornya. Dengan malas Rachel mengangkat panggilan itu, bersiap tarik urat dengan si pemilik nomor.
"Apaan lagi sih, Bang? Kenapa?" Semprot Rachel dengan nada kesal.
"Aku mau ketemu anak-anak!" Ujar suara itu dingin.
Rachel terkekeh, sengaja seperti mengejek lelaki itu.
"Ketemu anak-anak?" Tanya Rachel dengan nada mengejek.
"Sejak awal sudah aku katakan, kesempatanmu ketemu anak-anak cuma bisa terjadi pada kesempatan tertentu." Jawab Rachel sinis.
Dia menghirup udara banyak-banyak.
"Pertama tentu saat anak-anak menikah. Kau wajib datang sebagai wali mereka. Kedua ketika kamu dalam kondisi kritis dan ketiga saat aku lebih dulu mati!"
"JANGAN BERCANDA, HEL!" Teriak suara itu tidak suka.
Rachel kembali terkekeh.
"Aku serius! Jadi tolong, jangan telepon aku untuk menanyakan hal bodoh yang tadi kau tanyakan Karena jawabanku tetap sama! Mengerti?"
"Kau benar-benar...." Lelaki itu mengeram.
"Apa? Keputusan aku sudah bulat! Hak asuh anak-anak ada di tanganku dan semua tentang mereka itu berdasarkan keputusanku!" Tegas Rachel sedikit congkak.
"AKU BAPAK KANDUNG MEREKA, HEL!" Suara itu nampak begitu emosi.
"Aku tidak peduli! Aku ibunya dan aku lebih berhak atas mereka! Kau lupa bagaimana perjuangan aku selama hamil dan melahirkan mereka?"
Kembali sosok itu terdengar mengeram, membuat Rachel untuk sekian kalinya tertawa setengah mengejek.
"Aku sibuk. Dan tolong ingat baik-baik, jangan hubungi aku lagi untuk alasan apapun!"
__ADS_1