
"Udah mau kepala empat tapi kenapa makan masih kayak anak kecil sih?" desis Diandra sambil tersenyum.
Gavin tertegun senyumnya ikut merekah, tangannya meraih tangan sang istri, memegang tangan itu dengan begitu lembut.
"Bisa nggak, nggak usah bawa umur atau kalau mau bawa umur jangan bawa angka empat dong, bawa aja angka tiga gitu, kan wajah aku belum tua-tua banget kan?" ucap Gavin.
Diandra melongo, melepas genggaman tangan mereka lalu mencubit hidung mancung suaminya, kenapa dia jadi hendak mengkhianati usianya sendiri?
"Nggak sekalian angka dua aja Mas? masih tujuh belas tahun kan?" sindir Diandra pedas.
Sebuah sindiran yang kontan membuat tawa Gavin pecah, tujuh belas tahun? umur berapa dia masuk FK kalau begitu? entah mengapa kini Gavin minder dengan usianya yang sudah hampir kepala empat, sementara istrinya ini?
"Eh... lupa tanya nih kamu umur berapa sih, Dian?" tanya Gavin.
Diandra terbelalak, apa-apaan Gavin ini, jadi dia tidak tahu berapa umur istrinya sendiri? bukan main! Diandra mendengus, ini memang Gavin yang tidak tahu atau lupa sih? atau memang bagi lelaki yang hampir kepala empat ini tidaklah penting?
"Jadi umur istri sendiri Mas nggak tahu?" ucap Diandra membelalak tidak percaya.
Selama jadi dosen, apakah Gavin tidak pernah sekedar menengok data Diandra dan kemarin ketika ribut mengurus berkas pernikahan, Gavin tidak menengok ke tanda pengenal Diandra? kenapa jadi sekarang bertanya kepadanya?
__ADS_1
"Hehe... takut salah!" jawabnya santai langsung dibalas kerucutan bibir oleh Diandra.
"Tanggal lahir juga nggak tahu?" kalau sampai tidak tahu fix Diandra mau ngambek.
"Delapan belas November kan?" tentu Gavin ingat tanggal itu, kalau tahunnya sih yah mohon maaf!
Diandra menghela nafas panjang, Gavin hanya menebak atau memang ingat, tetapi kenapa tahunnya Gavin bisa tidak ingat?
"Tahun?" tanya Diandra yang masih tidak percaya Gavin bisa tidak ingat tahun berapa dia lahir.
"Dian kalau suamimu ini ingat tentu aku nggak tanya, Dian" sebuah jawaban yang lantas membuat Diandra menghela nafas guna me-restock kesabarannya.
Mampak mata Gavin membulat.
"Loh, bukan sembilan belas yah? berarti kita cuma selisih tiga belas tahun dong, bukan enam belas tahun," sebuah senyum merekah di wajah Gavin.
"Memang kenapa kalau selisihnya bukan enam belas tahu?" baru Diandra sadar lumayan juga selisih umurnya dengan sang suami.
"Ya daripada selisih enam belas tahun, selisih tiga belas tahun kan lumayan yang lebih sedikit," Gavin garuk-garuk kepala membuat Diandra terkekeh.
__ADS_1
"Nggak salah kan kalau aku bilang nikah sama om-om?" ucap Diandra.
Gavin yang semula tersenyum lebar sontak cemberut, tawa Diandra pun pecah kenapa dia suka sekali menggoda suaminya macam ini.
"Ah nggak apa-apa deh om om, ciwi-ciwi zaman sekarang kan sukanya sama om-om," ucap Gavin santai.
Kini gantian Diandra yang cemberut, dia mengaduk Mojito nya dengan sedikit kesal, menyedot minuman itu sambil melirik ke arah sang suami.
"Iya, mereka emang senang sama om-om tapi yang perutnya buncit, kalau yang model kayak Mas ini mah yang demen om-om penyuka jalur belakang," balas Diandra tidak mau kalah.
Sontak Gavin tersedak, terbatuk-batuk sambil menatap gemas ke arah Diandra dan tersenyum jahil sambil menaikkan kedua alisnya.
"Nggak semua! buktinya ada juga ciwi-ciwi yang tergila-gila sama aku," nampak Gavin tidak mau kalah, melipat kedua tangannya di meja dan membalas tatapan sang istri.
Alis Diandra berkerut, nampak wajahnya begitu penasaran dan menyiratkan rasa tidak suka.
"Siapa? mana ciwi-ciwinya?" tanya Diandra.
Tawa Gavin pecah, masih duduk menatap sang istri yang kini kembali mengerucutkan bibirnya.
__ADS_1
"Ini yang di depanku ini apa? sampai mau aku nikahi? apa namanya coba?" ucap Gavin.