Musuhku Suamiku

Musuhku Suamiku
Dia siapa?


__ADS_3

Mata Tati kembali membelalak, kini wajah itu memerah sementara Diandra menatap gadis itu dari tempatnya berdiri sambil tersenyum setengah mengejek.


"Jangan mentang-mentang calon Dokter jadi seenaknya ngatain orang," ujar gadis itu nampak tidak terima.


"Kau juga jangan mentang-mentang bisa masak terus merendahkan cewek yang nggak bisa masak, yang mulai siapa sih?" Diandra sama sekali tidak takut bodoh amat dia anak Kadus. Diandra tidak peduli!


"Loh aku ngomong ada benarnya, kamu nggak bisa masak! suami mau kasih makan apa?" ucap Tati yang masih tidak mau kalah.


Tawa Diandra pecah.


"Nggak ada ceritanya orang nggak bisa masak terus mati tsay! yang ada orang yang nggak punya duit itu baru kemungkinan mati, nggak bisa beli bahan makanan, kalau cuma nggak bisa masak, warung makan banyak di mana-mana, karena repot?" ucap Diandra.


"Lagi pula Diandra nggak bisa masak pun nggak masalah kok, toh besok dia kerjanya di rumah sakit jadi Dokter bukan jadi chef, semua waktunya habis di rumah sakit belum kalau sekolah lagi kayak Gavin ambil spesialis, kapan Diandra mau masak kalau begitu?" kembali Mira bersuara membela Diandra yang otomatis membuat Diandra merasa di atas angin melawan gadis rese itu.


"Loh tapi yang namanya wanita itu harus bisa masak Bu," Tati nampak tidak terima berpegang teguh pada prinsipnya.


"Kata siapa? hello 2022 say, emansipasi wanita nggak lagi cuma jadi pajangan di rumah, nggak cuma masak sama beres-beres rumah kerjanya, dia boleh sekolah setinggi-tingginya, kerja dalam sektor apapun jadi nggak ada undang-undang yang bilang wanita itu kudu bisa masak, yah walaupun kalau bisa juga bagus," Diandra tidak mau menampik, dia bukan tipe orang kolot yang hanya mengedepankan pikirannya sendiri.

__ADS_1


"Nah kamu mengakui juga kan?" nampak Tati hanya mendengar kalimat terakhir dari pembelaan Diandra.


"Tapi nggak ada yang mengharuskan juga kan? coba undang-undang nomor berapa, heh?" ucap Diandra.


"Ya nggak tahu! intinya wanita itu kudu bisa masak kalau nggak ya..." ucap Tati yang terpotong.


"Memang kenapa kalau nggak bisa masak?" tanpa terduga Gavin muncul nampak dia baru saja mandi, perpaduan lavender, lemon dan jeruk itu kembali memanjakan indra penciuman Diandra, mungkin bukan hanya dia tetapi semua yang ada di dapur.


"Ya masa nggak bisa masak, kan tugas istri itu mah.." ucap Tati.


"Lagian masalah banget ya? aku yang suaminya aja nggak peduli dia nggak bisa masak apa nggak, kenapa malah orang lain yang sewot sih?" ucap Gavin lagi.


Sebuah tamparan yang benar-benar menohok yang membuat Diandra rasanya ingin melompat-lompat kegirangan.


Mampus!


Siapa suruh dia cari gara-gara sama Diandra, Gavin aja dulu dia lawan sampai di depan meja Dekan apalagi cuma Tati, Diandra masih menikmati kemenangannya ketika Gavin lantas menarik tangan Diandra dan membawanya keluar dari dapur.

__ADS_1


"Packing, yuk! Profesor Rian bilang besok sore ada meeting penting tentang kebijakan baru nanti, kita sudah harus balik," ucap Gavin.


Apa?" Diandra hendak bertanya namun sayang Mira sudah lebih dulu bukan suara.


"Loh katanya balik besok, Vin. Masa iya hari ini sudah mau balik sih?" tentunya Mira protes bagaimana kalau masih ada tamu yang datang ke rumah nanti.


"Ya maaf Bu, Gavin baru aja dapat telepon, jadi ya bisa nggak bisa hari ini harus pulang," ucap Gavin.


Diandra nampak berpikir keras, bukan apa-apa, pasalnya dia tidak pernah mendengar nama yang tadi Gavin sebut, siapa itu Profesor Rian?


Dekan bukan!


Direktur utama RSUD juga bukan!


Lantas siapa?


Diandra masih sibuk mengingat jajaran dosen di kampus ketika tangan Gavin kembali menariknya pergi, kenapa dia begitu asing dengan nama itu, dia siapa?

__ADS_1


__ADS_2