Musuhku Suamiku

Musuhku Suamiku
Telepon dari siapa?


__ADS_3

Gavin kembali menguasai tubuh itu, dia kembali pada posisi awal di mana tubuhnya menindih tubuh mungil Diandra yang sudah bersimbah peluh, napasnya memburu Gavin benar-benar sudah tidak sanggup lagi rasanya kegagalan kemarin terlampau sakit dan Gavin hendak menuntaskan semua rasa sakit itu sekarang ini juga.


Setelah sudah memastikan Diandra siap, Gavin segera mengarahkan miliknya ke depan inti tubuh sang istri, dengan begitu lembut dan perlahan, hal yang membuat kedua tangan Diandra mencengkram kuat-kuat lengan Gavin yang dia gunakan untuk tumpuan itu.


"Mas pelan," Diandra merintih menahan tangis, matanya memerah, dia rasakan benda itu begitu besar merangsak masuk perlahan-lahan ke dalam tubuhnya.


Gavin bergeming, dia sudah cukup pelan kok, terus dia dorong masuk tidak peduli bahwa sebenarnya cengkraman tangan Diandra cukup sakit mencengkeram lengannya.


Gavin terus mendorong masuk sampai di mana akhirnya miliknya tidak dapat masuk lebih dalam, mata Gavin yang awalnya terpejam lantas terbuka menatap Diandra dan ternyata Diandra diam-diam sudah menangis sambil menggigit bibirnya kuat-kuat.


"Sakit dikit nggak apa-apa ya sayang?" bisik Gavin yang belum kembali melanjutkan aksinya, menantikan izin terlebih dahulu dari sang istri.


"Mas ini udah sakit," Diandra terisak, matanya balas menatap mata itu.


Gavin hanya tersenyum meraih tangan Diandra yang mencengkeram lengannya membawa tangan itu ke atas kepala dan menguncinya di sana, nampak wajah itu memerah matanya pun sama memerah dengan air mata, nampak Gavin menghela napas panjang lalu dengan sekali hentakan kuat Gavin kembali mendorong miliknya ke dalam, hal yang lantas memicu bibir itu memekik terkejut dengan ekspresi menahan sakit.


"Mas sa...."


Gavin langsung membungkam bibir sang istri dengan bibirnya menjatuhkan diri ke atas tubuh itu hingga miliknya benar-benar terbenam sempurna di dalam sana, ya meskipun tidak semua bisa masuk namun setidaknya Gavin berhasil memenuhi tubuh Diandra, itu yang menjadi tujuannya.


Gavin mengeram, mencengkram kuat tangan Diandra yang dia kunci di atas kepala, dia berdiam belum berani bergerak lebih jauh membiarkan sang istri terbiasa dengan miliknya yang terbenam di sana.


Bibir mereka terlepas, Diandra kembali terisak dengan air mata berurai, hal yang sebenarnya membuat Gavin iba, namun mau bagaimana lagi mereka harus melewati proses ini.


"Janji! sakitnya cuma sebentar oke?" Gavin berbisik, Diandra hanya mengangguk pelan, wajahnya merah padam.


Gavin tersenyum perlahan-lahan mulai menggerakkan pinggulnya, hal yang lantas membuat Gavin menyadari sesuatu, membenarkan apa yang dulu ibunya katakan.

__ADS_1


"Dian, kamu sempit banget, sayang!" ucap Gavin.


########


Diandra mengernyit, pedih itu terasa begitu menusuk bukan salahnya kalau dia merasa sakit ini yang pertama untuknya, momen pertama kali seumur hidup Diandra.


Air matanya masih menitik, dua tangan Diandra dikunci Gavin di atas kepala, membuat Diandra hanya bisa menggigit bibir bagian bawahnya untuk mengekspresikan sakit yang dia rasakan.


Gavin mulai aktif, Diandra dapat merasakan betul milik suaminya yang mengaduk miliknya di bawah sana, sementara Gavin dengan keringat mengucur nampak sangat menikmati penyatuan mereka.


Wajah itu bersimbah peluh, memerah dengan ekspresi yang entah mengapa di mata Diandra terlihat begitu seksi luar biasa, bibir tipis merona itu beberapa kali terbuka mengeluarkan lenguhan, erangan, dan pujian-pujian mesum yang terdengar begitu indah di telinga Diandra.


Sensasi perih itu lama-lama berubah, ada sebuah sensasi lain yang membuat tubuh Diandra bergetar ketika Gavin menyentuhnya di bagian itu, sensasi yang membuat Diandra spontan ikut mendesah pelan, hal yang kemudian dia rasakan membuat Gavin makin menggila di atas tubuhnya.


Diandra pasra sepasrah-pasrahnya menikmati semua rasa yang disuguhkan Gavin pertama kalinya semenjak mereka menikah, jadi rasanya kawin itu seperti ini? rasanya memadu kasih itu begini? Diandra baru tahu dan semua momen itu entah mengapa lelaki menyebalkan itu yang memberikannya pada Diandra.


Tapi Gavin sekarang bukanlah lelaki menyebalkan, judes dan rasa di mata Diandra, dia kini menjelma menjadi lelaki luar biasa indah di mata Diandra, laki-laki begitu manis, romantis, lembut dan tentu saja lelaki yang begitu sensual, sangat sensual seperti saat ini saat Gavin memacu tubuhnya yang bersimbah peluh dengan penuh gairah.


#########


Diandra memekik sekeras-kerasnya ketika Gavin kembali membawanya terbang tinggi, tubuhnya bergetar hebat dia merasakan dengan begitu jelas ada sesuatu yang tumpah dari miliknya, Diandra sudah cukup lemas, namun Gavin belum mau berhenti bahkan hentakan-hentakan itu makin terasa kasar dan memburu.


Tangan kekar itu mencengkram kuat-kuat lengan Diandra, seharusnya Diandra kesakitan namun Diandra sama sekali tidak merasakan sakit, cengkraman itu malah menambah sensasi nikmat yang suaminya suguhkan, aneh bukan?


Gavin mengerang, tubuhnya bisa Diandra rasakan bergetar, hentakan itu makin cepat dan kuat, apakah Gavin sudah hampir selesai?


"Diaaaannnn..." Gavin memekik keras, ******* nafas itu terdengar seperti melodi yang begitu indah dan syahdu di telinga Diandra.

__ADS_1


Gavin kembali menyentuh sisi miliknya yang di sana membuat Diandra terbelalak dan kembali mengerang, tangannya menjambaki rambut Gavin, ini benar-benar gila!


Mereka hanyut dalam euforia masing-masing hingga beberapa detik kemudian pekikan itu terdengar begitu kompak, Gavin kembali merasakan miliknya dipijat dengan begitu nikmat oleh Diandra, hal yang membuat Gavin makin beringas dan tidak mampu lagi menahan semuanya.


"Dian... aku nggak kuat," Gavin kembali memekik, tubuhnya bergetar bersamaan dengan keluarnya sesuatu yang sejak kemarin membuat Gavin pusing karena gagal berkali-kali.


Rasanya benar-benar plong dan lega, seperti semua beban berat yang menghimpit Gavin lenyap seketika bersamaan dengan keluarnya sesuatu itu dan tiap-tiap helaian nafasnya.


Gavin terengah, nampak Diandra juga sama, dengan peluh membanjiri tubuhnya, kenapa jadi seksi sekali istri mungilnya ini? Diandra nampak begitu dewasa dan Gavin sangat suka pemandangan ini.


Gavin tersenyum menjatuhkan tubuhnya ke atas tubuh sang istri, ketika semuanya sudah selesai dipeluknya erat-erat tubuh itu, begitu erat seolah-olah Gavin sama sekali tidak ingin Diandra pergi dari sisinya, ingin Diandra selalu berada di sisinya, Gavin tengah menikmati sisa-sisa gelombang dahsyat yang baru saja dia buat bersama sang istri ketika tepukan itu mendarat di bahunya.


"Mas, berat nih serius," Diandra terengah, nampak nafasnya belum stabil.


"Susah nafas Mas, kamu pengen aku pingsan?" ucap Diandra.


Gavin terkekeh, walau dalam hati dia hendak protes karena Diandra mengganggu momen dia menikmati sisa surga dunia yang baru saja dia teguk, namun melihat postur Diandra dan tubuhnya, bukan salah Diandra kalau dia protes Gavin terus menindihnya macam itu.


Gavin segera bangkit menarik perlahan miliknya dari dalam sana, bercak darah itu masih terlihat menempel sedikit di ujung membuat senyum Gavin merekah dan dia kembali menjatuhkan sebuah kecupan penuh cinta di puncak kepala sang istri.


"Makasih, sa..."


Suara dering ponsel milik Gavin membuyarkan segala momen romantis keduanya, membuat Gavin mendelik kesal menatap benda yang bergetar dengan layar berkedip-kedip di atas nakas.


"Siapa lagi sih?" ucap Gavin.


"Mas bunyi tuh, angkat dulu gih," Diandra meringkuk memiringkan badan dan masih berusaha menetralkan nafasnya.

__ADS_1


Sementara Gavin dengan wajah kesal meraih benda itu, matanya terbelalak ketika membaca nama itu muncul di layar ponselnya, hal yang langsung disadari oleh Diandra dan turut membuatnya penasaran.


"Kenapa Mas? telepon dari siapa?" tanya Diandra penasaran.


__ADS_2