Musuhku Suamiku

Musuhku Suamiku
Saya tidak suka pakai barang bekas orang,,,


__ADS_3

"Dian..."


Diandra mengangkat wajah mendengar panggilan itu. Memaksakan diri tersenyum sambil menatap Kiki yang melangkah masuk mendekatinya.


"Kamu kenapa? Kok nangis?" Tanya Kiki yang kembali membuat Diandra memaksakan diri tersenyum.


"Aku nggak nangis kok!" Jawabnya berdusta.


Kiki menghela napas panjang, satu tangannya terulur menyingkap rambut Diandra yang menutupi sebagian wajah, membawa rambut itu kebelakang telinga.


"Kita temenan berapa tahun sih, Dian? Aku tahu betul, kamu habis nangis!" Kiki tidak mau dibohongi, meskipun kini sebenarnya dia lah yang membohongi Diandra.


Ah... Bukan bermaksud berbohong, tetapi Kiki tahu betul dia tidak seharusnya masuk ke sana. Dia orang lain dalam masalah ini, tidak peduli dia begitu dekat dengan Diandra. Mungkin nanti ada saatnya memang Kiki harus bicara, tapi tidak saat ini.


Diandra menghela napas panjang, dia memejamkan mata barang sejenak lalu menatap Kiki dengan mata memerah.


"Tadi Dokter Ratna periksa, agaknya emang sudah fix, Ki. Aku hamil."


Kiki tertegun, jika tadinya dia begitu penasaran dan begitu ingin Diandra positif hamil, kenapa sekarang tidak? Kiki tersenyum getir, menyodorkan plastik yang sejak tadi dia genggam.


"Berarti ini sudah tidak perlu?"


Diandra menatap Kiki dengan saksama. Alisnya nampak berkerut. Hal yang membuat Kiki berkeringat dingin. Apakah Diandra curiga? Tahu apa yang sedang Kiki sembunyikan perihal suami Diandra?


"Kamu kenapa, Ki? Mata kamu juga merah, sedang ada masalah?"


Kini Kiki yang mati kutu. Apa yang harus dia jawab? Diandra tidak akan diam kalau dia tidak menjawab dan Diandra itu tipe orang yang tidak mudah diperdaya!


"Kesel sama Mas Derren, Dian." Entah ide dari mana, itu lah yang jadi jawaban Kiki. Berharap Diandra percaya.


Alis Diandra berkerut. Bibirnya menyunggingkan senyum tipis, membuat Kiki lega luar biasa. Jadi Diandra percaya?


"Kamu diapain? Coba bilang! Jangan katakan kamu cemburu." Wajah itu memerah, membuat Kiki ikut tersenyum simpul. Berhasil!


"Entah, mungkin aku yang terlalu baper!" Kiki harus segera pergi dari sini, dia harus menemani Dokter Lina visiting sepuluh menit lagi!


"Makanya jadian aja, lah! Biar dia nggak macam-macam." Diandra menyikut lengan Kiki, kedua alisnya naik ke atas. Terlihat sangat kalau dia tengah menggoda Kiki!


"Ah apaan sih, Dian!" Kiki mengerucutkan bibir.

__ADS_1


"Aku pamit nemenin Dokter Lina visiting dulu." Kiki turun dari ranjang, sebelum mencapai pintu Kiki menoleh kembali.


"Siap-siap, besok banyak antrian OK. Kita akan jadi saksi bagaimana bayi-bayi tidak berdosa itu tergelincir dalam dunia tipu-tipu macam kita ini!"


Diandra terkekeh, dia menatap kepergian Kiki. Sedetik kemudian dia teringat sesuatu. Diandra meraih plastik itu, bangkit guna melangkah masuk ke dalam toilet. Meskipun tadi Dokter Ratna sudah memberi isyarat bahwa dia benar hamil, tapi Diandra harus pastikan betul kondisinya dengan alat ini!


Diandra menghela napas panjang, apapun hasilnya, dia siap! Dan sesegera mungkin dia harus memberi tahu suaminya. Harus!


########


Rachel gusar, Gavin masih sama seperti ketika terakhir kali mereka bertemu. Dingin, ketus, jutek dan antipati terhadap dirinya. Nampak sangat terlihat Gavin jijik kepadanya. Itu semua bukan salah Gavin, semua itu salah Rachel!


Sepertinya baru kemarin rasanya, Gavin tiba-tiba datang ke tempat dia internship menyeberangi pulau dengan pesawat dan masih harus naik kapal untuk bisa sampai di tempat Rachel internship.


Tidak ada senyuman di wajah itu. Wajahnya datar, dingin dan jangan lupa wajah itu nampak begitu marah! Rachel sampai menggigil melihat wajah Gavin saat itu. Dan benar saja, ada alasan yang membuat kenapa Gavin mendadak mengunjungi dirinya dengan wajah sebegitu horor.


"Kapan datang?" Hanya itu yang keluar dari mulut Rachel saat itu dengan nada begitu terkejut, tidak ada lagi kalimat lain yang bisa diucapkan olehnya. Dia terlampau gugup, terlebih dengan Sony yang...


"Bisa jelaskan padaku kemana kamu beberapa hari ini, Hel? Aku menunggu kabar darimu!"


Rachel merasakan tangan dan kakinya dingin dan berkeringat. Wajahnya berubah pias dan pucat. Sementara Gavin masih membeku di tempatnya berdiri. Tanpa mendekat atau sekedar memeluknya seperti biasa. Padahal sudah hampir dua tahun mereka tidak bertemu, bukan?


"A-aku... Aku...." Rachel bingung hendak menjawab apa. Dan dengan tiba-tiba, sosok itu melangkah keluar dari dalam mess tempat tinggal para Dokter internship selama ini. Macam rumah dinas yang rumah sakit sediakan.


Rachel panik setengah mati. Refleks dia menghela napas panjang, menepuk jidatnya sambil memerankan mata. Wajahnya menunduk sama sekali tidak berani mengangkat wajah.


"Eh, Dokter internship baru?"


Bisa Rachel dengar dengan jelas Sony bertanya dengan begitu santai pada Gavin. Membuat Rachel merasa bahwa dunianya akan tamat hari ini. Rachel segera mengangkat wajah, nampak Gavin melangkah mendekati Sony yang masih berdiri di depan pintu dengan rambut setengah basah.


"Bukan, Dokter. Kebetulan saya bukan Dokter internship baru." Jawab Gavin sopan.


Jantung Rachel berdegup kencang, apa yang akan terjadi? Gavin mengulurkan tangan pada Sony. Hal yang langsung membuat kening Sony berkerut. Namun Sony tetap menjabat tangan itu, dengan wajah yang tidak lepas dari mata Gavin.


"Saya titip Rachel, Dok." Desis Gavin perlahan.


Rachel terkejut bukan main. Apa maksud Gavin? Apakah dia sudah tahu? Tapi dari siapa? Selama ini dia selalu bermain aman. Sony baru dia izinkan ke mess kalau anak-anak kebetulan tidak ada alias mereka ada jadwal jaga dan lain-lain. Dan teman-temannya selama ini nampak biasa saja, tidak terlihat kalau mereka tahu rahasia apa yang Rachel simpan selama ini! Dia dan Sony pun sudah sepakat tidak mempublikasikan kedekatan mereka di depan yang lain. Apalagi mereka memang tidak pacaran! Sony hanya bilang kalau ingin langung melamar Rachel begitu dia beres internship nanti!


"Titip? Maksudnya bagaimana?" Nampak Sony bingung dan tidak mengerti, membuat Rachel lantas memberanikan diri mendekat ke arah mereka.

__ADS_1


"Aku bisa jel..."


"Tidak perlu!" Potong Gavin cepat.


"Aku sudah tahu semuanya. Aku kesini hanya untuk menyelesaikan masalah kita. Supaya aku bisa tidur dengan tenang."


"Tunggu!" Sony tampak menyela.


"Apa maksudnya? Sebenarnya apa yang terjadi?" Wajahnya nampak bingung.


Gavin menghela napas panjang.


"Sebelum berangkat kemari, dia berjanji pada saya untuk bisa jaga komitmen bersama, Dok. Tapi nyatanya dia tidak bisa menjaga apa yang sudah kami sepakati bersama," Jelas Gavin singkat.


"Ja-jadi maksudnya kalian ini...."


Rachel makin mati kutu. Rasanya dunia Rachel berhenti seketika. Keringat dingin mengucur membasahi tubuhnya macam beberapa saat yang lalu ketika dia dan Sony bergumul di dalam kamarnya.


"Itu dulu, Dok. Sekarang sudah tidak lagi. Jangan sungkan."


Rachel terkejut, dia pikir Gavin akan baku hantam dengan Sony, tapi nyatanya? Astaga! Gavin ini benar-benar tidak bisa dia tebak!


"Tapi kata Rachel, di-dia...,"


"Sudah, Semua sudah terjadi dan saya sama sekali tidak mempermasalahkannya, Dok. Saya malah berterima kasih, Dokter menjauhkan saya seseorang yang tidak tepat untuk saya." Gavin kembali mengulurkan tangannya.


"Sekali lagi selamat, Dok. Semoga bahagia selalu."


Rachel membeku, lidahnya mendadak kelu. Bahkan ketika Gavin membalikkan badan dan melangkah pergi, Rachel sama sekali tidak bisa berkata apapun. Matanya memanas, harus bagaimana sekarang?


"Mas, tunggu!" Seru Sony ketika Gavin hendak kembali masuk ke dalam taxi.


Langkah Gavin terhenti, dia menoleh dan menatap Sony yang melangkah mendekatinya. Mengabaikan Rachel yang nampak gelisah dan kebingungan di tempatnya berdiri.


"Saya sama sekali tidak tahu kalau selama ini Rachel sudah punya kamu. Jujur saya ti..."


"Jangan sungkan, Dok. Bukankan tadi sudah saya katakan bahwa saya tidak mempermasalahkannya?" Gavin tersenyum, dia nampak sangat tenang. Hal yang sejak tadi membuat Rachel terheran-heran.


"Saya bisa kembalikan lagi apa yang sudah saya ambil dari kamu, Mas!" Gumam Sony dengan wajah memerah.

__ADS_1


Gavin tersenyum, dia nampak menggeleng dengan mantab.


"Tidak perlu, Dok. Saya tidak suka pakai barang bekas orang,"


__ADS_2