
Gavin tersenyum lebar sambil menutup pintu kamarnya. Dia menang banyak malam ini dan Diandra sama sekali tidak punya kesempatan untuk lolos darinya. Gavin melangkah turun dari lantai dua rumahnya. Jika ibunya tidak menonton siaran televisi di lantai atas, maka sudah bisa dipastikan Mira menonton siaran televisi bersama Mbok di lantai bawah.
Ada hal yang ingin Gavin bicarakan dengan ibunya malam ini juga. Apalagi kalau bukan keinginan sang ibu yang berbanding terbalik dengan keinginan sang istri. Lalu bagaimana dengan keinginan Gavin? Dia sih ikut istrinya, bagaimanapun yang akan mengalami dan menjalani semua proses menakjubkan itu adalah Diandra, bukan Gavin. Diandra yang akan banyak berkorban, mulai dari perubahan fisik, emosional dan segala macam perubahan yang mungkin dia belum benar-benar siap untuk mengalami hal dan progres itu terjadi begitu cepat kepadanya.
Benar saja, senyum Gavin merekah ketika mendapati Mira sedang asyik menyimak sinetron kesayangan emak- emak se - Indonesia bersama asisten rumah tangganya itu. Gavin mempercepat langkahkah, bukan karena ingin gabung nonton sinetron, tapi ingin segera mengobrol bersama sang ibu.
"Nah kan, yang jahat itu si Elsa! Kan aku udah nebak!" desis ibunya yang sontak membuat Gavin menghela napas panjang, dasar emak-emak korban sinetron!
"Emang jahat tuh, Bu. Sutradaranya juga pinter, milih artisnya yang judes wajahnya. Jadi gemes banget sama si Elsa," Mbok menimpali, membuat nyali Gavin ciut.
Rasanya kalau itu sinteron belum bubar, maka keinginannya untuk membicarakan perihal cucu kembar yang Mira request akan sia-sia belaka. Gavin terus melangkah, menjatuhkan diri di karpet tepat di bawah kaki ibunya, bersandar di kaki itu dan nampak menyimak dua emak -emak itu asyik ghibah sinetron yang di mata Gavin sama sekali tidak ada menarik -menariknya ini.
"Kenapa turun, Vin?" Mira menatap Gavin yang dengan manja duduk dibawah sambil memeluk kakinya itu.
"Emang nggak boleh, Bu, Gavin di sini?" Gavin mengerucutkan bibir, sebuah pertanyaan yang sebenarnya membuat Gavin sedikit gemas.
"Nggak ngelonin Dian?" sebuah pertanyaan yang begitu santai terlontar dari mulut Mira, membuat Gavin mendelik karena ada Mbok di sana.
"Udah, dia udah tidur, Bu." Jawab Gavin menahan malu. Kenapa harus tanya hal sensitif itu di depan Mbok sih?
"Lah? Cepet amat? Berapa ronde tadi, Vin?" kembali pertanyaan polos nan sepontan dan memalukan keluar dari mulut ibunya, membuat Gavin menghela napas panjang menahan sabar. Sudah watak ibunya seperti ini, bukan?
__ADS_1
Gavin mendengus, "Masa iya aku harus lapor Ibu juga sih tadi dapat berapa ronde?" sekalian saja, bukan? Pasti dalam hati Mbok tengah tertawa terbahak- bahak mendengar obrolan absurb nya bersama sang ibu ini.
"Nggak perlu juga sih." Jawab Mira dengan mata yang tidak lepas dari televisi.
"Yang jelas nanti kalau sudah jadi, kamu wajib lapor ke Ibu, Vin." Titah Mira tegas.
Gavin memejamkan mata. Astaga, punya ibu satu seumur hidup aja kenapa harus se absurb ini sih jatah ibu Gavin?
"Kalian udah ketemu Dokter kandungan, Vin? Udah program?" Mira melirik sekilas anak bungsunya, pandangannya lalu terfokus kembali pada televisi di depan.
"Belum, Bu." Jawab Gavin jujur.
"Lah, kenapa begitu?" Mira kini serius menatap Gavin, mengabaikan televisi. Acara ke break iklan. Jadi membuat Mira beralih fokus.
Gavin menghela napas panjang, ia harus ingat betul untuk selalu sabar menghadapi ibunya. Tidak boleh keluar suara yang menyakiti hati sang ibu. Itu yang dia pegang teguh dari dulu. Terlebih sejak masuk dunia Kedokteran, koas di bagian obgyn dan melihat langsung dengan mata kepala sendiri bagaimana perjuangan seorang ibu melahirkan, kasih dan cinta yang Gavin miliki untuk ibunya makin besar. Tidak peduli ibunya kadang begitu absurb dan menyebalkan, Gavin tetap sayang dan mencintai wanita paruh baya ini.
"Koas itu berat, Bu. Apalagi stase mayor. Stase bedah, stase obgyn, interna, anak... aku sudah ngalami, jadi aku tahu betul, Bu." Jelas Gavin yang sangat berharap ibunya mau mengerti.
Terdengar helaan napas panjang, tangan Mira terulur menyugar rambut anak bungsunya itu. Membuat Gavin makin posesif memeluk kaki ibunya. Senyum Mira tersunging. Tidak peduli anak bungsunya itu sudah menjelma menjadi dosen sekaligus Dokter bedah, dia tetap Gavin nya yang jika berhadapan dengan Mira akan berubah menjadi sangat manja, Kalau di luar rumah? Jangan tanya! Mira sampai capek bolak-balik dipanggil ke kantor BP karena Gavin terlibat baku hantam dengan teman- temannya di sekolah.
Untung dia cerdas, rajin masuk dan mengumpulkan tugas. Nilainya selalu sempurna, jadi Gavin tidak sampai di DO karena sering berkelahi di sekolah. Hal yang dulu sempat dia takutkan akan terbawa sampai bangku kuliah. Mana Gavin kuliah jauh dari orang tua, tetapi kekhawatiran Mira tidak terbukti. Semenjak kos dan mandiri, Gavin nya yang arrogant di luar rumah berubah total. Tidak lagi membuat ibunya pusing karena hobby baku hantam, namun membuat Mira pusing karena kemarin tidak ada tanda-tanda dia ingin menikah meskipun sudah cukup matang dan mapan.
__ADS_1
"Ibu memang nggak paham dan nggak ngalamin apa yang kalian alami demi untuk jadi Dokter, Vin. Seberat dan sesulit apa, Ibu tidak tahu. Dulu kamu berjuang sendiri, jauh dari Ibu. Jadi mana Ibu tahu?" dari nada suaranya yang lembut, Gavin tahu ibunya tidak marah.
Hati Gavin lega seketika, senyumnya mengembang. Sejak dulu memang cara mentreat ibunya harus seperti ini. Bicara dari hati ke hati dan dengan lembut serta suasana yang bagus. Terbukti banyak kejadian Mira bisa luluh kecuali satu, ketika minta Gavin menikah. Sama sekali tidak mau dibantah!
"Kalau itu memang jadi keputusan kalian, Ibu bisa apa? Toh kalian yang menjalani. Kalian yang merasakan, bukan? Tapi sekali lagi, tolong jadikan umurmu juga sebagai pertimbangan, Vin. Kalian bisa bicara lagi baik-baik." ucap Mira.
Gavin tersenyum masam. Memang dari dulu umurnya yang selalu jadi masalah, bukan?
"Diandra memang masih muda, tapi kamu? Kamu sudah mendekati angka empat puluh. Koas nanti berapa lama? Kamu dulu dua tahun, kan? Nah kamu sudah tiga puluh tujuh, hamil dan lain- lain kita buat satu tahun, itu artinya anak pertama kamu lahir, kamu sudah tiga puluh delapan, mau empat puluh, Vin." Tampak wajah Mira berubah khawatir.
Gavin kembali mempererat pelukan kaki ibunya yang tadi agak kendor. Kenapa sih orang Asia, apalagi Indonesia selalu khawatir berlebihan pada umur? Pada pesimis berumur pendek? Atau bagaimana?
"Aku paham, Bu" hanya itu yang keluar dari mulut Gavin, tidak berniat mendebat atau membantah.
"Syukur kalau kamu ngerti maksud Ibu, Vin. Tapi apapun keputusan kalian nanti, Ibu tidak bisa memaksa juga. Yang penting satu, Vin...."
Gavin mendongak, menatap ibunya yang masih terus menyugar rambutnya dengan lembut.
"Apa itu, Bu?"
"Kalian rukun, akur dan bahagia selalu ya, Vin. Itu yang selalu Ibu minta sama Allah buat kalian, Vin. Sehat terus, banyak rejekinya dan berkah rumah tangganya."
__ADS_1