
Tawa Diandra kontan pecah, dia terbahak dengan jawaban sang suamiz masih ingat juga Gavin tentang hal itu saat di mana Diandra masih begitu kesal dan membenci Gavin.
"Masih ingat aja," komentar Diandra sambil kembali menyuapkan bubur ke dalam mulut.
Gavin mencubit jempol kaki Diandra membuat Diandra berteriak kesakitan sambil tertawa, tentu dia sendiri juga ingat momen itu satu dari banyak momen absurd yang mereka lewati sebelum kemudian mereka saling mesra seperti ini.
"Tentulah masih ingat! kamu berteriak cukup keras untuk sepi kedainya, kalau tidak, bisa habis aku dikira Dokter mesum yang suka ngapa-ngapain pasien atau mahasiswi ku," gerutu Gavin yang kesal setengah mati jika ingat momen itu.
Kembali Diandra terbahak, bukan salah dia juga kan siapa suruh Gavin begitu menyebalkan? bukan salah Diandra kalau begitu.
"Ya maaf! siapa suruh jadi orang ngeselin," ucap Diandra.
Gavin mencebik.
"Memang kamu nggak ngeselin?" balas Gavin sambil mengerucutkan bibir.
__ADS_1
"Halah ngeselin begini yang enakin Mas kemarin siapa? heh?" bibir Diandra mengerucut sebuah jawaban yang membuat Gavin lantas lemas dan tidak lagi bisa berkutik.
Gavin mendesah panjang, dia kembali memijat lembut kaki itu membiarkan Diandra menikmati sarapannya, kalau saja apa yang Diandra katakan tadi tidak benar, tentu Gavin masih akan mengomeli Diandra atas insiden itu, tapi apa yang Diandra katakan tadi itu ada benarnya bahkan dia tidak hanya sekali memberikan nikmat itu pada Gavin membuat Gavin tidak bisa berkutik sama sekali.
"Dian,, pengennya besok sama obsgyn siapa sayang?" tanya Gavin.
Mendadak Diandra tersedak, dia terbatuk-batuk, hal yang lantas membuat Gavin menyodorkan segelas air putih pada sang istri.
"Hati-hati, Dian sampai keselek gitu," Gavin tersenyum kecut menatap sang istri yang tengah meneguk air dari dalam gelas.
"Mas hamilnya aku beres koas aja, gimana Mas?" gumam Diandra to the point.
Gavin tersenyum simpul, mengelus lembut pipi itu dan menatap ke dalam matanya, sorot mata itu begitu lembut membuat Diandra begitu nyaman menatap mata itu.
"Sesiap kamu, sayang kan aku sudah bilang kemarin sesiap kamu," Gavin membelai lembut kepala itu membuat Diandra lantas tersenyum dan meraih tangan Gavin menurunkan tangan itu dari wajahnya.
__ADS_1
"Benar? kalau ibu protes gimana?" tentu itu yang Diandra takutkan terlebih umur suaminya itu sudah tidak muda lagi.
"Bisa diatur itu, jangan khawatir!" kembali Gavin meyakinkan membuat senyum itu kembali merekah di wajah Diandra.
Diandra merasa begitu tenang, sekarang wajah itu masih tersenyum begitu manis, tangan besar itu masih meremas lembut tangan Diandra, membuat suasana pagi mereka makin manis dan romantis.
Gavin melepaskan genggaman tangan, bangkit dan meraih Diandra dalam pelukan, mendekap erat tubuh mungil itu dan menjatuhkan kecupan di puncak kepala Diandra.
"Mas sayang banget sama kamu, Dian. Nggak nyangka ya bener kata orang kalau benci sama cinta itu beda tipis," bisik Gavin sambil mendekap erat-erat tubuh sang istri.
"Iya tipis banget saking tipisnya sampai kadang nggak disadari," balas Diandra yang kini bersandar begitu manja di dada itu, melupakan sejenak semangkuk bubur yang dibelikan sang suami untuknya.
Tawa Gavin pecah, dia melepaskan pelukan meraup wajah itu lalu menatap matanya dalam-dalam, Diandra mendekat senyumnya lenyap, sebelum wajah itu mendekat, Diandra lebih dulu bersuara.
"Please, agenda kita jalan-jalan kan? nggak balik peluk-peluk kan?" ucap Diandra.
__ADS_1