
"Pulang?" tanya Gavin ketika mereka melangkah keluar dari resto, agaknya setelah ini dia harus menyesuaikan style pakaian dengan sang istri, Diandra nampak belia sekali dengan gaya berpakaiannya, sementara Gavin? jangan ditanya!
"Boleh, langsung ke kos ya, ambil barang-barang aku," ucap Diandra.
Gavin hanya tersenyum dan mengangguk pelan, ternyata Diandra tidak semenyebalkan yang selama ini terlihat olehnya, apa karena Gavin tidak mengenalnya lebih jauh? beda dengan sekarang jangankan sikap dan sifat asli Diandra, bagian dalam dari Diandra pun Gavin sudah lihat dan cicipi semua.
"Apa aja sih? ngebet banget mau dibawa? kos masih akhir bulan kan masa kontraknya?" Diandra hendak membuka pintu mobil namun Gavin lebih dulu melakukan hal itu untuk sang istri, sebuah hal kecil yang mampu membuat Diandra tertegun sesaat dan tersenyum simpul.
Dia segera naik membiarkan Gavin kembali menutup pintu mobil dan memakai seat belt nya, Diandra menatap lelaki yang kini melangkah ke sisi lain mobil terus menatapnya sampai Gavin masuk dan duduk di belakang kemudi.
__ADS_1
"Kenapa?" tanya Gavin yang sadar istrinya terus memandanginya sejak tadi.
"Nggak apa-apa sih! cuma sekarang entah kenapa jadi suka aja lihat wajah Mas," jawab Diandra apa adanya, sebuah jawaban yang membuat Gavin yang tersenyum penuh arti.
"Hampir semua teman-teman kamu, adik tingkat bahkan kakak tingkat, semua betah loh lihat suamimu ini dari dulu dan kamu malah baru saja menyadarinya," Gavin membawa mobil itu menyusuri jalanan menurun, hendak kembali pulang dari jalan-jalan singkat mereka ini.
Diandra mencebik, tentu tanpa Gavin harus pamerkan Diandra sudah tahu, banyak mahasiswi yang tergila-gila pada sosok ini sejak dulu, hal yang dulu sempat membuat Diandra heran, apa sih bagusnya lelaki ini? udah ngeselin, rese, judes mana galak lagi, ya itu penilaian Diandra yang dulu, sekarang? jangan tanya.
"Masalahnya dulu di mata aku Mas itu sama sekali nggak ada bagus-bagusnya, isinya kesal aja tiap lihat muka Mas lewat di depan muka aku," akui Diandra jujur sejujur-jujurnya sebuah pengakuan yang langsung membuat Gavin mendelik kesal.
__ADS_1
Terdengar helaan nafas keluar, membuat Diandra melirik sekilas sosok itu yang kini mengerucutkan bibirnya.
"Nggak apa-apa deh ikhlas kok toh sekarang buktinya kamu juga klepek-klepek kan? jadi nggak masalah dulu mau benci, mau kesel, aku ikhlas pokoknya!" ucap Gavin.
Diandra hendak kembali buka suara, namun pegangan tangan itu mengejutkannya, nampak tangan yang terlihat begitu besar jika dibandingkan dengan tangan Diandra sendiri sedang memegang tangannya dengan sangat lembut, mata itu fokus lurus ke depan sesekali melirik Diandra dan tersenyum simpul.
"Tolong berjanji lah lagi bahwa kamu tidak akan meninggalkan Mas, Dian. Kamu nggak akan jadi minta cerai kan? kita bakalan sama-sama teruskan?" sebuah kalimat yang lebih terdengar seperti permohonannya daripada pertanyaan.
Diandra tertegun, pegangan itu terasa begitu hangat menjalar hingga ke dalam relung hatinya, hati yang paling dalam.
__ADS_1
"Iya Mas aku janji," jawab Diandra sambil tersenyum mantap, tangannya meraih tangan yang tengah memegang tangannya, menggenggam tangan itu dengan lembut.
"Segalak dan semenyebalkan apapun aku dulu tolong ingat baik-baik bahwa aku berjanji akan mengusahakan segala cara untuk membahagiakan kamu, Dian. Itu janji Mas!" ucap Gavin.