Musuhku Suamiku

Musuhku Suamiku
Apa yang harus dia lakukan sekarang?


__ADS_3

"Heh!" Derren kini menimpuk bahu Kiki keras-keras.


"Aku panik setengah mati lihat kamu nangis kayak gini dan ternyata kamu nangis kayak gini cuma karena nonton drakor?" Hampir saja Derren berteriak keras-keras, matanya melotot tajam. Sungguh dia tidak mengerti kalau wanita bisa se absurd ini!


"Mas nggak tahu, tadi itu..."


"Dah-dah! Sana deh! Kesel aku sama kamu!" Derren bangkit melangkah hendak kembali ke IGD. Baru beberapa langkah dia kembali menoleh, menatap tajam ke arah Kiki yang melongo menatap kepergiannya.


"Nanti pulang bareng, awas pulang sendiri!" Ancam Derren lalu kembali melangkah pergi meninggalkan Kiki.


Kiki tersenyum geli. Dia menghela napas lega ketika sosok itu lenyap di belokan. Satu tangan Kiki menyeka air mata. Hampir saja dia bablas bicara apa yang tadi dia dengar dan lihat dengan mata kepalanya sendiri. Derren sahabat kakak Diandra, bisa heboh nanti kalan Kiki menceritakan semua itu pada Derren.


Kiki menyandarkan tubuh di kursi itu. Dia seorang diri sekarang. Semua obrolan itu kembali terngiang-ngiang. Bahkan ketika dua orang itu tampak mengobrol dan tangan mereka......


"Astaga! Kenapa aku yang sakit hati sih!" Desis Kiki kembali mewek.


"Bagaimana nggak sakit kalo Diandra itu udah kayak saudara sendiri."


Kembali air mata Kiki menitik. Jujur dia baper setengah mati. Rasanya dia begitu down dan tentu saja masih tidak percaya dengan semua fakta yang dia temui hari ini.


Benarkah Dokter Gavin masih mencintai Dokter Rachel? Mereka akan balikan? Lantas bagaimana dengan Diandra? Dia kemungkinan hamil dan dia harus menerima kenyataan bahwa...


Mendadak Kiki merasa menyesal setengah mati sudah mendorong dan memaksa Diandra membatalkan perjanjian gila mereka. Memaksa Diandra menjalani pernikahan itu sepenuh hati dan melupakan rencana Diandra yang hendak meminta cerai. Kalau begini akhirnya... Kiki tidak akan memaksa Diandra melakukan itu semua!


Hamil?


Kiki membelalak, dia segera bangkit guna menyerahkan testpack itu pada Diandra. Dia sangat butuh benda ini untuk memastikan apakah benar dia tengah hamil?


Langkah Kiki terasa begitu berat, kenapa dia jadi sungkan bertemu Diandra? Dia takut, risau. Apakah ini termasuk dalam kategori pengkhianatan?


#########


Gavin meremas rambutnya dengan kesal. Kenapa harus di rumah sakit ini wanita itu dinas? Kenapa baru beberapa bulan Gavin bahagia dengan Diandra, dia harus datang dan berpotensi mengacaukan semua kebahagiaan Gavin?


"Ya Allah!" Desis Gavin frustasi.

__ADS_1


"Kenapa harus rumah sakit ini?"


Gavin masih ingat betul semuanya, sangat ingat. Apalagi saat itu. Di mana Gavin harus jaga malam dan kemudian mendapatkan kabar mengerikan yang menghancurkan hatinya berkeping-keping!


Sudah beberapa hari mereka jarang sekali saling berkirim SMS. Zaman dulu belum ada aplikasi hijau, satu-satunya komunikasi mereka tentu lewat pesan singkat. Dan mereka sudah beberapa minggu sudah tidak seintens biasanya. Bahkan beberapa hari ini SMS dari Gavin tidak terbalas. Ketika Gavin telepon, selalu terabaikan. Ada apa sebenarnya?


Gavin masih mencoba berpikiran positif. Kesibukan mereka mungkin yang menjadi alasan kenapa komunikasi mereka terhambat. Dia percaya betul pada Rachel, walaupun Gavin sendiri ragu, diakhir masa internship mereka, masa iya Rachel malah makin sibuk dari biasanya?


Gavin tengah duduk merenung di kursi jaga IGD, ketika ponselnya bergetar. Ada notifikasi pesan masuk. Wajah Gavin sumringah. Harapannya tentu pesan itu dari Rachel. Namun agaknya Gavin harus menelan kekecewaan karena bukan dari Rachel pesan yang masuk ke ponselnya.


"Mila?" Alis Gavin berkerut, dia segera membuka pesan dari teman seangkatan mereka yang kebetulan satu wahana Rachel.


( Bisa kau telepon aku, Vin? Aku sama anak-anak pengen ngobrol sama kamu! )


Anak-anak? Alis Gavin berkerut. Selain Rachel dan Mila, ada Ben dan Yosi yang ada dalam kelompok itu. Apa yang hendak mereka bicarakan? Apakah Rachel juga ada bersama mereka?


Gavin melongok ke kanan dan ke kiri. Aman! Jadi dia bisa sejenak menelepon mereka. Gavin segera menghubungi nomor Mila tanpa membalas pesan itu.


"Akhirnya, sorry kalo ganggu kamu, Vin!" Bukan 'halo' atau salam yang Gavin dapatkan, dia malah mendapatkan kalimat itu di awal telepon itu terjawab.


"Rachel kemana? Sama kalian nggak?"


Hening!!!


Mereka tidak menjawab, membuat Gavin makin tidak mengerti.


"Sebelumnya mohon maaf, Vin. Agaknya kita bakalan bawa kabar buruk buat kamu!" Suara itu milik Ben, Gavin hafal betul!


Gavin tersenyum getir, mendadak perasaannya tidak enak.


"Kabar apa sih? Ngomong aja, Kawan!" Gavin berharap-harap cemas.


"Rachel baik- baik saja, kan?"


"Baik. Tapi sebelumnya kita minta maaf ya, Vin!" Terdengar helaan napas dari seberang.

__ADS_1


"Kamu masih jalan sama Rachel? Masih sering SMS an sama dia?"


Jantung Gavin berdegup dua kali lebih cepat. Kenapa teman-temannya menanyakan hal ini? Dia masih sama Rachel, kok! Mereka masih sepasang kekasih. Dan soal SMS... Gavin mendadak lemas, jangan bilang kalau .....


"Aku sering lihat Rachel diam-diam dari kita jalan sama salah satu residen, Vin!" Itu suara Mila. Suara yang entah mengapa bisa menusuk Gavin dengan begitu dalam.


"Kita pikir kalian udahan makanya dia terus jalan sama Dokter Sony." Desis suara yang lain.


Gavin membeku di tempatnya duduk.


Hatinya mendadak perih luar biasa. Rachel nya jalan dengan lelaki lain? Bagaimana bisa? Bukankah dulu Rachel yang mewanti-wanti Gavin agar tetap setia dan menjaga betul komitmen mereka? Kenapa sekarang malah....


"Satu lagi, sorry kalau pertanyaan aku sedikit kurang ajar, Vin!" Kali ini suara Yosi yang Gavin dengar.


"Hampir empat tahun pacaran, kalian apa sudah sejauh itu, Vin?"


Gavin tersentak, matanya memanas. Bukan hanya mata, hatinya pun terasa terbakar. Ini cuma mimpi, kan? Atau teman-temannya ini sengaja mengerjai dia? Kompakan dengan Rachel?


"Sumpah, aku belum pernah ngapa-ngapain Rachel! Demi Allah, demi apapun!"Jawab Gavin tegas. Dia menjaga betul Rachel! Dia masih utuh belum pernah Gavin sentuh!


Hening!


Kini kepala Gavin mendadak pusing. Dadanya sesak luar biasa. Air matanya sudah membayang di pelupuk mata. Ini seperti mimpi buruk!


"Aku nemu ****** di tas Rachel, Vin!" Suara itu sangat lirih, namun seperti sambaran petir di telinga Gavin. Mendadak Gavin lemas. Air matanya benar-benar menitik. Gavin menangis! Hatinya hancur, sakit. Dia benar-benar kecewa! Rachel berani sejauh itu? Padahal setengah mati Gavin menjaganya selama. Dia malah jatuh pada pelukan lelaki lain sampai menyerahkan dirinya pada lelaki itu?


"Setelah itu, malamnya aku iseng buka ponsel Rachel. Kau tau, Vin?" Yosi terdiam, membuat dada Gavin makin sesak.


"Mereka sering check in, Vin! Pesan-pesan dari Dokter Sony masih tersimpan di ponselnya."


#########


Kiki menghentikan langkahnya, dia sudah hampir masuk ke dalam ruangan ketika dia melihat Diandra duduk di atas ranjang. Bersandar di tembok sambil memeluk bantal. Nampak mata itu basah, apa Diandra juga sudah mendengar semua itu? Kabar bahwa Dokter baru itu ternyata adalah mantan kekasih suaminya. Mantan yang membuat Dokter Gavin betah sendiri sebelum bertemu Diandra, apa Diandra sudah tahu?


Hati Kiki mencelos, apa yang harus dia lakukan sekarang?

__ADS_1


__ADS_2