Musuhku Suamiku

Musuhku Suamiku
Nguping!


__ADS_3

"Kamu juga beruntung, Aliya." Gumam Diandra kemudian.


Terdengar tawa sumbang keluar dari mulut Aliya, Diandra tahu, pasti dia hendak memprotes apa yang tadi Diandra katakan bahwa dia juga beruntung.


"Apakah punya Mama yang drama dan tidak setia itu masuk dalam daftar keberuntungan, Kak?"


"Tidak! Tapi jangan lupa bahwa kau punya Papa yang begitu luar biasa, Aliya."


Aliya tersenyum, kepalanya terangguk pelan.


"Papa memang lelaki luar biasa, Kak. Sudah tahu sejak awal Mama berbohong, dia masih mau menerima Mama. Mencintai Mama, walaupun kini semua itu tidak ada artinya lagi."


##########


"Kamu akan bawa mereka balik ke Bali, Mas?"


Sony mengangguk, tentu dia akan bawa anak-anaknya kembali ke sana. Di sana lebih aman dan nyaman untuk anak-anaknya. Aman dalam artian Sony tidak pernah bersikap seperti Rachel. Dia selalu membebaskan anak-anak memilih apa yang mereka ingini.

__ADS_1


"Ya, tempat mereka memang di sana. Bukan di sini." Jelas Sony tegas.


Rachel mendesah panjang. Tangisnya kembali pecah. Dia menunduk dan terisak membuat Sony menghela napas panjang dan menggelengkan kepala perlahan.


"Kau bisa mengunjungi mereka kapan pun!" ujar Sony tulus.


Sony mengalami betul bagaimana rasanya di pisahkan dari anak. Bagaimana rasanya menahan rindu pada anak-anak yang selama ini selalu menjadi semangat Sony dalam kesehariannya. Jadi, bagaimana pun sikap buruk yang Rachel miliki selama ini, dia tetaplah Ibu dari anak-anaknya dan Rachel berhak atas mereka.


Tangis Rachel makin keras. Membuat Sony menepuk bahu Rachel perlahan.


"Jangan khawatir, aku tidak akan setega kamu memisahkan anak-anak dari Ibunya. Kau bisa pegang janjiku."


"Kau sudah dua kali melakukan kesalahan yang sama, Hel. Apakah setelah ini kau akan melakukan kesalahan ini lagi?" kemarahan Sony tentu masih ada, namun dia ingin bicara dengan kepala dingin, dengan hati yang dingin.


Rachel menyeka air matanya. Wajahnya menunduk, tidak berani menatap Sony yang masih berdiri di depannya, meskipun sebenarnya pembicaraan mereka sudah selesai dan menemukan titik temu. Kedua anaknya akan ikut Sony atau Rachel? Entah apa yang hendak Rachel lakukan setelah ini.


"Kau boleh lakukan apapun setelah ini, tapi satu pesan ku, Hel... tolong jangan ulangi kesalahan yang sama seperti apa yang sudah kamu lakukan."

__ADS_1


Sony tersenyum, menepuk bahu itu sekali lagi lalu melangkah pergi meninggalkan Rachel yang masih terisak heboh di tempatnya berdiri. Rachel melangkah dengan begitu tenang kembali ke IGD. Ada masalah lain yang harus dia selesaikan. Ada banyak hal yang masih harus dia bicarakan bersama sosok itu. Siapa lagi kalau bukan Gavin? Sony terlampau serius dan sangat bersemangat sampai tidak sadar dua pasang mata itu sejak tadi mengawasinya bahkan sejak dia dan Rachel keluar dari IGD.


Mereka saling pandang ketika Sony sudah masuk ke dalam IGD, sedetik kemudian pandangan mereka tertuju pada Rachel yang masih terisak dan belum berpindah dari tempat dia berdiri sejak beberapa menit yang lalu.


"Mas, udah ah ngupingnya. Kamu ini lelaki kenapa kepo amat sih sama urusan orang?" Kiki berbisik tepat di telinga Derren. Sejak tadi kakinya di gigit nyamuk!


"Iya... iya." Derren mengerucutkan bibir.


"Bukan salahku lah kalau kepo! Heboh kali mereka di dalam tadi."


Kiki memutar bola matanya dengan gemas, dia lantas menarik telinga Derren, membawanya pergi dari tempat persembunyian mereka dengan sedikit tergesa.


"Aduh! Lepas, Ki, Sakit!"


############


Mampir ke novel baru ku yah..

__ADS_1


"Pria Pilihan Kakek"


mksh sebelumnya😊🙏


__ADS_2