
Senyum Diandra yang merekah sejak mereka keluar dari kamar dan turun ke lantai bawah sontak lenyap ketika mereka mendapati gadis itu ada di antara tamu yang duduk, penampilannya masih sama seperti tadi, norak dengan bedak yang terlalu putih sampai leher dan wajahnya berbeda warna, Diandra sendiri heran bedak apa yang gadis itu pakai sampai-sampai begitu jauh dari tone asli warna kulitnya? atau jangan-jangan dia pakai tepung beras punya ibunya? begitu?
Diandra langsung mengaitkan tangannya pada lengan sang suami, sengaja menempel untuk memanasi gadis itu, berharapnya sih dia pergi dan kembali pulang ke rumahnya sendiri. Tapi agaknya Diandra lupa kalau gadis ini begitu udik dan lebay setengah mati.
"Cie Pak Dokter akhirnya nikah juga, kan nikahan kamu yang kita tunggu-tunggu, Vin," sorak beberapa laki-laki yang nampak seumuran dengan Gavin.
Gavin mengamit tangan Diandra, membawa sang istri menemui teman-temannya membuat Diandra tersenyum begitu manis ketika melewati gadis itu, bisa Diandra lihat dari sudut mata, Tati nampak kesal menatap ke arahnya. Terlebih Gavin yang abai dan cuek dengan kehadiran gadis itu di antara para tamu yang memenuhi rumah.
"Yah nikah lah, masa kalah sama kamu yang udah dua kali nikah?" Gavin menjabat tangan lelaki yang menggunakan baju batik itu, senyumnya mereka begitu pula dengan tamu mereka.
"Kamu ingin nikah dua kali juga, Vin?" nampak dia memekik, melotot menatap Gavin dengan tatapan menggoda.
__ADS_1
"Nggak lah gila apa!" ucap Gavin tegas.
"Punya istri kayak begini aja udah bersyukur banget, bahagia banget! nggak mau maruk," ucap Gavin lagi.
Sebuah jawaban yang entah mengapa bisa membuat Diandra begitu bahagia. Terlebih dengan suara Gavin yang sedikit keras, Diandra bisa pastikan Tati mendengarnya tadi.
"Iya lah, kalau nggak bersyukur kebangetan kamu, Vin! mana cantik! masih muda! kurang apa coba?"
Nggak salah kalau Diandra besar kepala hari ini kan? terlebih di depan Tati! ah... rasanya begitu bahagia pokoknya.
"Bukan! bukan!" tegas Gavin cepat.
__ADS_1
"Mahasiswi aku nih kebetulan," ucap Gavin lagi.
Nampak beberapa orang itu kompak membulatkan mata.
"Calon Dokter berarti, Vin?" tanya mereka yang entah mengapa bisa begitu kompak.
Gavin tertawa, mengangguk pelan untuk menjawab sekaligus membenarkan pertanyaan teman-temannya itu, tentulah calon dokter kalau tidak buat apa Diandra susah-susah kuliah kedokteran? mana demi bisa lulus Diandra rela mengucap sumpah yang membuat dia kini resmi menjadi istrinya!
"Nggak kaleng-kaleng ternyata selera mu, Vin. Pantas saja nikah kamu lama,"
Gavin kembali terkekeh, sementara Diandra hanya tersenyum sambil sesekali melirik Tati yang nampak mencibir sambil melipat tangan di depan dada, Gavin nampak asik mengobrol dengan empat teman semasa SMP nya, Diandra hanya menyimak sambil sesekali menjawab pertanyaan dari mereka, tidak berani memulai obrolan lebih dulu. Mereka cowok semua, masa iya Diandra SKSD tanya-tanya, kecuali kalau dia Tati, yah mungkin saja berani.
__ADS_1
"Vin, kita pamit balik deh, takut gangguin kalian," lelaki berkacamata itu menjabat tangan Gavin, tersenyum jahil sambil satu tangannya mencubit perut Gavin.
"Udah curi start belum, Vin?" goda yang lain sambil bergantian menimpuki bahu dan juga punggung Gavin.