Musuhku Suamiku

Musuhku Suamiku
Setuju kalau begitu!


__ADS_3

Gavin tertegun menatap Diandra yang melangkah turun dari lantai atas padahal Gavin baru saja hendak menyusul sang istri naik ke lantai atas lama sekali sih dandannya, namun kini Gavin tidak berani protes karena hasilnya benar-benar memukau dirinya dengan luar biasa.


Dress santai semata kaki warna merah itu memiliki lengan dari bahan tile dot sampai siku, meskipun panjang perpaduan dengan chunky heels warna hitam mampu membuat Diandra terlihat lebih tinggi dan tidak tenggelam dalam balutan dress, wajahnya dipulas sederhana, alisnya dibingkai rapi dengan bibir bersalut pink nude, begitu natural dan cantik tidak macam Tati yang tiap dandan malah jadi mirip memedi sawah.


Gavin masih tidak mampu berkata-kata lagi dia berdiri tertegun menatap sang istri yang melangkah turun mendekatinya, tas yang dibawa Diandra itu adalah isi dari seserahan yang Gavin bawa, tas pertama yang Gavin beli dan hadiahkan untuk Diandra.


"Mas kenapa?" tanya Diandra.


Gavin terkejut ketika Diandra mengibaskan tangan di depan wajahnya, dia sontak tersenyum dan menatap mata yang mendadak berubah menjadi kecoklatan, bukankah mata Diandra hitam legam?


"Pakai softlens?" Gavin mengelus bawah mata istrinya masih menatap Diandra dengan seksama.


Diandra mengangguk menatap Gavin dengan tatapan cemas, bukankah suaminya ini begitu cerewet dan memperhatikan betul-betul dirinya bahkan sampai hal-hal kecil?

__ADS_1


"Bagus! tapi jangan terlalu sering pakai yah, mata nggak minus kan?" tanya Gavin.


Sebuah kalimat yang membuat Diandra lega, dia kira Gavin akan dengan kaku melarangnya pakai softlens ternyata tidak.


"Iya aku mengerti Mas," ucap Diandra.


Gavin mengangguk meraih tangannya lalu membawanya melangkah keluar, satu tangannya memegang kunci mobil dan kunci rumah, rumah mereka masih kosong asisten rumah tangga Gavin izin cuti satu minggu, nggak masalah sih untuk Gavin, bukankah mereka malah bisa berduaan tanpa ada yang mengganggu?


"Udah kok, cuma tinggal beberapa. Nggak banyak," mereka kembali melangkah menuju mobil putih yang terparkir di halaman rumah.


Ada tiga mobil sekarang terparkir di halaman rumah itu, dua mobil milik Gavin sendiri dan satu mobil milik Diandra, dari sekian mobil hanya Pajero putih yang selalu Gavin bawa kemana-mana, sampai Diandra kadang bertanya untuk apa Gavin membeli mobil yang satunya kalau tidak dipakai?


Diandra tersentak ketika Gavin dengan lembut membuka pintu mobil mempersilahkan dia masuk ke dalam lalu menutupnya dengan perlahan.

__ADS_1


Sambil memakai seat belt Diandra tersenyum simpul, siapa mengira lelaki judes dan galak itu bisa bersikap romantis macam ini, agaknya hanya Diandra wanita yang beruntung bisa menyaksikan dan menikmati sikap manis dan romantis lelaki ini.


"Ganti tujuan aja gimana? daripada ngemall mending naik, gimana?" tanya Gavin.


Diandra tampak berpikir tidak ada salahnya juga sih saran dan ajakan Gavin, di sana mereka bisa liburan tipis-tipis sebelum akhirnya harus kembali pada rutinitas harian mereka, tapi...


"Aku ganti baju dulu kalau gitu Mas, masa iya pakaian kayak gini?" Diandra terkejut, niatnya sih pakai dress ala Korea begini mau minta tolong Gavin fotokan di spot-spot mall untuk stok foto untuk feedback I *nstagramnya tapi kalau tujuannya ke sana...


"Udah nggak usah, udah cantik begitu paling kita di sana nanti juga cuma nongkrong ngopi nggak mau hiking naik betulan," Gavin tidak menggubris, dia segera menyalakan mobil dan membawa mobilnya keluar.


Diandra menghela napas panjang.


"Oke! setuju kalau begitu, kita naik!" ucap Diandra.

__ADS_1


__ADS_2