
"Kamu tahu nggak sih, Dian. Dia itu ngeselin banget tau nggak," ucap Kiki.
Diandra menyimak suara itu dengan seksama, wajahnya menahan geli dia sudah beres membantu Mbok dan Mira memasak, ini waktunya dia bersantai sejenak sebelum nanti dia harus ke rumah sakit untuk menemui dan mengantarkan makan siang untuk suami tercintanya.
"Ganteng kan tapi?" goda Diandra sambil menahan tawa, Kiki sendiri kok tadi yang bilang kalau cowok yang nabrak dia tadi subuh itu ganteng.
"Ya tapi kan kalau ngeselin kayak dia tuh ya, hilang deh gantengnya di mata aku, Dian" kembali Kiki menggerutu, membuat tawa Diandra akhirnya pecah.
Diandra tertawa terbahak-bahak, membayangkan wajah Kiki pasti saat ini tengah cemberut dengan bibir monyong lima centi, sayang sekali dia tidak melihat langsung wajah manyun itu, kalau iya, pasti Diandra akan tidak berhenti tertawa.
"Dian! jangan gitu ah," Kiki kembali berteriak membuat Diandra berusaha menghentikan tawanya, takut Kiki bablas ngambek.
"Ya deh iya, sorry" Diandra mengubah posisi duduknya.
"By the way, namanya siapa? dia Dokter kan katamu, praktek di mana emang?" tanya Diandra.
Hening!
Alis Diandra berkerut, Kiki masih di sana kan? dia baru saja hendak kembali buka suara guna memastikan Kiki masih berada dalam sambungan ketika kemudian suara itu bergumam lirih.
"Mmm.... aku nggak tahu namanya Dian, tadi aku nggak nanya," ucap Kiki.
Diandra sontak melotot, apaan Kiki ini bisa-bisanya dia tidak tanya nama orang yang bersamanya dari subuh sampai menjelang siang, mana mereka sempat duduk berdua, makan bareng lagi terus mereka ngapain sejak tadi?
"Hah? jangan bercanda Ki!" tegas Diandra tidak mengerti.
"Kalian tadi ngapain aja sampai nama dia kamu nggak tahu?" tentu itu yang Diandra tanyakan, sejak tadi itu yang ada di dalam pikiran Diandra.
"Ya, kita cuma makan aja sama jangan lupakan pertengkaran tidak bermutu yang terjadi sejak aku sadar dari pingsan ku," ucap Kiki.
Diandra menghela nafas panjang, satu tangannya menepuk dan memijit pelipisnya perlahan-lahan, baru tahu dia kalau kadar somplak Kiki berlipat ganda hari ini.
"Kamu lecet dan memar ditambah nyeri dan masih sempat beradu mulut dengan lelaki itu? luar biasa!" desis Diandra gemas, dia jadi penasaran lelaki mana sebenarnya yang bertemu dengan Kiki subuh tadi.
Helaan nafas panjang itu terdengar begitu keras dari seberang disusul dengan ocehan panjang lebar yang langsung memenuhi rongga telinga Diandra.
"Kamu tidak tahu sih gimana ngeselinnya cowok itu, Dian! dia itu mungkin agak tidak waras atau sebenarnya otak dia kurang seperempat tapi dia Dokter, masa iya otak dia kurang seperempat," cerocos Kiki panjang lebar.
Diandra mencebik.
"Kamu lupa Mas Gavin juga Dokter, tapi ingatkan bagaimana dia menyebalkan dulu?" Diandra meluruskan kakinya, mendadak matanya membulat dia seperti tersadar dari sesuatu ketika membawa nama suaminya dalam obrolan bersama Kiki.
Menyebalkan?
__ADS_1
Dokter?
"Ki..." panggil Diandra dengan wajah serius.
"Ya kenapa?" tanya Kiki.
"Jangan-jangan kisahku sama Mas Gavin terjadi juga di kamu Ki?" sungguh itulah yang kini ada di pikiran Diandra.
"APA? JANGAN NGADI-NGADI, DIAN" terdengar suara itu berteriak.
"AKU JODOH ATAU BAHKAN NIKAH SAMA LELAKI MODEL KAYAK DOKTER ONENG TADI? IDIH OGAH!!!" ucap Kiki lagi.
Diandra mendengus, bibirnya mengerucut.
"Jangan gitu Ki, belajarlah dari kasusku sama Mas Gavin," Diandra mencoba memperingatkan sekalian menggoda si Kiki.
"Ya tapi masa sama dia? udahlah bidikan aku besok tetap abang-abang residen jomblo di rumah sakit," ucap Kiki.
Tawa Diandra pecah.
"Siapa tahu dia salah satu Abang residen di tempat kita koas nanti," Diandra bersandar santai dengan bantal di belakang kepala.
"Kalian ketemu lagi di RS, sering dapat jatah jaga IGD bareng dan kemu..."
"Please deh Dian, jangan halu, idih jangan sampai, Dian. Jangan sampai!!!"
########
"Dian, ini Ibu bawakan sekalian buat kamu yah? biar nanti kalian makan sama-sama," ucap Mira.
Diandra mengangguk dan tersenyum, terlepas dari bagaimana menyebalkan Ibu mertuanya ini menurut testimoni anaknya sendiri, Mira memang ibu yang begitu pengertian dan perhatian.
"Terima kasih banyak Bu, aku berangkat sekarang yah," pamit Diandra.
Mira tersenyum menerima uluran tangan menantunya, Diandra memang melampaui semua harapan Mira akan sosok istri yang kelak akan mendampingi si bungsu kesayangan Mira.
"Kamu hati-hati yah, kabari Ibu kalau ada apa-apa" ucap Mira.
Diandra kembali mengangguk, dia segera meraih tas bekal yang sudah Mira siapkan, segera melangkah keluar dari rumah menuju mobil putih kesayangan suaminya.
Ini kali kedua Diandra membawa mobil sang suami bukan? agaknya lama kelamaan dia akan terbiasa membawa mobil besar seperti ini, Diandra segera membawa mobil itu keluar gerbang menyusuri jalanan guna menuju rumah sakit tempat suaminya dinas.
Diandra tidak memberi kabar suaminya, sengaja memang agar jadi kejutan, senyum Diandra mengembang. Mendadak dia teringat cerita Kiki tadi. Apakah benar tebakannya bahwa Kiki dan Dokter lelaki misterius itu akan berjodoh macam dia dan Gavin?
__ADS_1
"Lihat aja deh ntar kalau beneran jodoh bakalan aku ketawain kau, Ki,"
########
"Doa, OK sudah siap,"
Gavin menengadahkan kepalanya, menerima map dari tangan perawat itu dan membawanya dengan seksama, laporan hasil follow up terakhir pasien sebelum dia didorong masuk ke OK dan harus Gavin bedah abdomen nya.
Gavin meneliti satu persatu angka itu dengan serius kembali meletakkan map itu dan menutupnya.
"Segera bawa ya, saya langsung ke sana!" gumam Gavin sambil menatap perawat itu dengan wajah serius.
"Baik Dokter,"
Perawat itu segera undur diri menutup pintu ruang praktek Gavin dan kembali membiarkan surgeon itu sendirian, Gavin merogoh ponselnya, hendak menghubungi sang istri ketika pintu ruang praktek Gavin kembali terbuka.
Gavin mengangkat kepala, siapa memang yang datang kenapa tidak mengetuk pintu terlebih dahulu? Gavin hendak mengomel ketika sosok itu berdiri di depan pintu dengan celana jeans biru dan sweater warna pink, rambutnya di gerai dengan jepit mutiara di atas telinga kirinya.
"Pak Dokter sudah makan?" tanyanya dengan senyum manis.
Gavin meletakkan ponsel itu, kemudian melipat tangan di dada sambil bersandar di kursi.
"Bidadari dari mana yang nyasar ke ruangan praktekku ini?" desis Gavin sambil tersenyum begitu manis, rasanya dia sangat suka sekali melihat wajah cantik itu, istri kesayangannya!
"Bidadari dari kamarnya Dokter Gavin," jawab Diandra seraya melangkah dan duduk di kursi yang ada di depan meja praktek Gavin.
"Oh pantas! rasanya pengen bawa masuk kamar terus," kelakar Gavin yang langsung dapat tatapan tajam dan bibir manyun dari sang istri.
"Modus,"
Gavin tertawa, hanya sebentar karena matanya langsung tertuju pada apa yang istrinya bawa.
"Itu makan siang kita?" tanya Gavin lalu melepas snelli nya.
"Iya Mas, belum makan kan?" Diandra meletakkan tas bekal itu di meja.
Gavin lantas garuk-garuk kepala sambil nyengir membuat Diandra menatapnya dengan seksama.
"Jangan bilang kala..."
"Mas belum makan sayang, cuma ini ada jadwal ke OK," jawab Gavin sabar, mendadak wajahnya berubah cerah, dia segera bangkit dan menarik tangan sang istri.
"Eh, ke mana Mas?" Diandra terkejut jangan bilang kalau Gavin mau macam-macam di sini.
__ADS_1
"Ikut ke dalam ya? temenin operasi" Diandra membelalak.
"Apa?"