
"Terima kasih"
Tepuk tangan meriah itu menggema begitu Diandra menutup pidatonya, dia diberi kehormatan untuk mengucapkan sepatah dua patah kata diproses wisuda Sarjana Kedokterannya sebagai lulusan terbaik tahun ini, mata Diandra berkaca-kaca menatap semua teman-teman seperjuangannya dan tentu saja para dosen serta Mama, Papanya yang turut hadir hari ini.
Tiga setengah tahun mereka berjuang dan hari ini perjuangan mereka masuk dalam babak baru, tanggung jawab baru dan tentu saja kerumitan yang baru.
Siapa bilang wisuda adalah akhir dari proses belajar, bagi fakultas lain mungkin iya, tetapi bagi para anak-anak FK para calon dokter, wisuda adalah awal perjuangan mereka menjadi penyelamat sesama.
Diandra melangkah turun dari podium kembali ke tempatnya duduk untuk lanjut ke prosesi selanjutnya, prosesi sakral pemindahan kuncir toga sebagai tanda bahwa dia dan teman-teman seperjuangannya sudah sah dan resmi menyandang gelar Sarjana Kedokteran.
"Ya... dan namanya pun menjadi, Diandra Safaluna, S. Ked!
##############
"Congratulation sayang,"
Diandra sontak memeluk erat Dina yang membawakan dia boneka Teddy bear yang juga nampak mengenakan toga dan samir itu, air mata Dina tumpah, rasa bangga dan haru menyelimuti hatinya begitu pula dengan Darmawan sejak tadi dia tidak berhenti menitikkan air mata.
"Makasih buat semua doa dan support Mama selama ini, tanpa Mama, Diandra bukan apa-apa Ma," bisik Diandra di sela-sela isak tangisnya.
Dina hanya mengangguk dan tersenyum, tidak lagi mampu berkata-kata saking bangga dan terharu pada anak gadis semata wayangnya ini, Diandra melepaskan pelukan menerima boneka dari tangan sang Mama lalu beralih memeluk Papanya yang tidak berhenti menangis sejak tadi.
Darmawan nampak sesenggukan menangis mendekap erat tubuh Diandra yang tangisnya pecah dalam pelukannya.
"Kamu harus jadi Dokter yang lebih hebat dari orang tuamu, Dian. Tolong ingat betul itu!" bisik Darmawan sambil mengusap punggung Diandra dengan lembut.
Diandra hanya mengangguk, melepaskan pelukannya dan menatap sang Papa lekat-lekat, Darmawan tersenyum dengan air mata menitik, jemarinya terulur menyeka air mata Diandra yang belum mau berhenti menitik.
"Pasti Pa, Dian janji akan selalu jadi kebanggaan Papa," ucap Diandra dan Darmawan tersenyum kemudian mengangguk membiarkan jemari Diandra kini menyeka air matanya, Darmawan lantas membulatkan mata nampak bahwa dia teringat sesuatu membuat kening dan alis Diandra terangkat dan menatap wajah itu lekat-lekat.
"Oh ya! kamu ada tamu spesial," gumam Darmawan dengan wajah berbinar.
Mata Diandra ikut membulat.
__ADS_1
"Siapa Bang Dino? Kak Yuni?" tanya Diandra penuh semangat, sudah lama dia tidak berjumpa dengan Kakak tertuanya jadi dia berharap Dino dan istrinya hadir kemari dalam acara wisuda Sarjana Kedokterannya.
Darmawan tersenyum dan menggeleng pelan, membuat Diandra sedikit kecewa namun segera kembali menebak siapa tamu spesialnya di hari spesial ini.
"Bang Drian?" tebak Diandra bersemangat.
Siapa lagi kemungkinan terakhir? pasti abang tengilnya itu kan? Diandra rindu memalak Abang nomor duanya itu, kangen cari gara-gara lalu ribut besar dengan Drian yang juga tidak pernah mau mengalah kepadanya.
"No...No... dia juga tidak bisa ke sini hari ini sayang," ucap Darmawan.
Diandra terbelalak, dua Abangnya tidak datang di acara wisudanya? tapi kenapa? Diandra dulu hadir di acara wisuda mereka kenapa sekarang mereka tidak datang? Diandra mencebik kesal setengah mati pada dua kakaknya ketika kemudian Dina menepuk pundaknya dan berbisik lirih.
"Ke arah jam tiga, Dian, tamu spesialmu ada di sana," bisik Dina.
Diandra segera menoleh,, tertegun mendapati sosok menyebalkan itu nampak begitu ganteng dengan setelan jas hitam dan dasi warna merah, di tangannya terdapat buket Mawar merah yang begitu besar, dengan tenang dia melangkah membelah banyak sekali orang yang berkerumun membuat atensi beberapa orang tertuju kepada sosok itu.
Bukan hanya karena dia dosen ganteng favorit para mahasiswa FK, tetapi juga karena buket mawar yang dia bawa cukup besar dan kapan lagi bisa melihat seorang Dokter Gavin Narendra Putra tampil ganteng maksimal dengan setelan jas hitam macam eksekutif muda seperti ini.
Diandra membeku di tempatnya duduk,, berdiri diantara kedua orang tuanya dan menatap sosok itu yang makin dekat ke arahnya.
Diandra yang masih tertegun segera menerima buket berukuran jumbo dari tangan Gavin, dia benar-benar kikuk dan speechless! terlebih Diandra tahu kini dia menjadi pusat perhatian banyak orang yang ada di sini.
"Te... terima kasih banyak Dokter," Diandra tergagap dalam hati dia mengumpat kesal kenapa orang satu ini ganteng banget sih?
Diandra masih normal, matanya juga! jadi terlepas dari sikap menyebalkan Gavin kepadanya, Diandra akui memang visual lelaki ini begitu luar biasa.
"You are welcome, Dian," ucap Gavin masih dengan senyumnya.
"Sudah siap lanjut koas? siap nikah juga kan?" ucap Gavin.
Nikah?
Benarkah dia sudah siap menikah? rasanya Diandra ingin berteriak keras-keras, namun dia sadar situasi dan kondisinya tidak memungkinkan untuk itu, sementara wajah itu masih begitu sumringah tersenyum manis ke arahnya dan nampak begitu bahagia.
__ADS_1
Apa yang membuat wajah itu nampak bahagia?
##############
"Dok... Dokter serius mau..."
"Dian, demi bisa nikahin kamu, saya rela hiking taklukin gunung Lawu dan kamu masih ragu sama niat saya nikahin kamu?" potong Gavin dengan gemas.
Mereka tengah berada di mobil dalam perjalanan ke sebuah restoran untuk merayakan kelulusan Diandra malam ini, tidak hanya berdua mereka berempat hanya saja Dina dan Darmawan berada di mobil lain.
Diandra mendesah, dia duduk lemas di jok sambil memijit pelipisnya, perlahan-lahan dia begitu takut kalau nanti semua perjanjian itu hanya janji palsu belaka Gavin untuk bisa menikahinya, mereka akan sah dan resmi menikah baik di mata agama maupun negara, kalau nanti Gavin lantas memaksa Diandra tentu dia tidak akan bisa berbuat apa-apa kan?
"Dokter janji nggak akan apa-apain saya kan Dok?" kembali Diandra mencoba memastikan,, meskipun dia tahu bahwa jawaban yang keluar dari mulut Gavin tetaplah sama.
"Ya saya tidak akan pernah menyentuh kamu, memaksa kamu memenuhi tugas kamu sebagai istri kecuali memang kamu sendiri yang mau dan ingin melakukannya," ucap Gavin.
Diandra mendesah panjang, dia sudah berkali-kali tanya dan berkali-kali pula mendapatkan jawaban itu, tapi mengapa rasanya Diandra masih begitu takut, hanya dua tahun tapi tidak akan ada yang menjamin bahwa di dua tahun itu semua akan berjalan sesuai rencana dan keinginan Diandra bukan?
"Dokter emang gak nafsu hidup seatap, ketemu sama saya terus nanti?" tanya Diandra.
Sebuah pertanyaan gila terus-menerus terbayang dalam ingatan Diandra, tentu itu yang hendak Diandra pastikan! Gavin ini lelaki normal kan?
Gavin menoleh hanya sekilas, lalu kembali fokus pada jalanan yang ada di depannya.
"Kalau saya jawab iya, apa lantas kamu sukarela memenuhi apa yang saya mau, Dian?" ucap Gavin.
Diandra sontak melotot.
"NO... perjanjian tetap perjanjian!" ucapnya menegaskan.
"Lantas untuk apa kamu tanyakan hal itu? menyiksa saya tujuanmu?" tanya Gavin.
Diandra tertegun, ditatapnya Gavin dengan seksama! kenapa makin lama Diandra makin ragu perjanjian mereka? terlebih wajah itu makin lama makin...
__ADS_1
"Ah No! Dian, jangan sampai"