
"Besok Mas sudah harus kerja, nggak apa-apa kan?" Gavin melirik sang istri, mereka sudah dalam perjalanan pulang dari kos Kiki sekarang.
"Ya nggak apa-apa dong! masa iya Mas mau kerja aku larang sih?" Diandra kini duduk di samping supir setelah beberapa saat yang lalu dirinya lah yang jadi supir.
"Aktif koas baru minggu depan kan?" tanya Gavin.
Diandra mengangguk pelan.
"Iya nggak sabar mau koas," desis Diandra sambil mencoba membayangkan bagaimana nasibnya masa koas nanti.
Kata dua ****** kesayangan Diandra, koas adalah masa yang indah untuk dikenang tapi tidak untuk diulang, kalau ditanya suka duka, kata mereka banyak dukanya, sejak kapan jadi keset itu menyenangkan, begitu jawaban mereka, ketika Diandra tanya kesan mereka selama kepaniteraan klinik.
Mungkin kalau mereka kepaniteraan klinik di rumah sakit tempat orang tua mereka bekerja tekanan dan beban yang akan mereka terima tidak akan sekuat dan sekeras apa yang mereka dapatkan di RS tempat mereka koas.
"Semangat untuk koas nya nanti yah, sayang!" tangan Gavin terulur mengelus kepala sang istri dengan penuh kasih.
"Serem nggak sih Mas?" tanya Diandra sambil menatap Gavin dengan seksama.
"Serem?" Gavin terkekeh.
"Serem itu kalau nanti ada anak koas atau residen yang gatal godain kamu sayang," ucap Gavin lagi.
Diandra melongo, menepuk Gavin dengan gemas, bukan itu yang Diandra maksud, kenapa malah pikiran suaminya sampai sana sih? dasar om-om bucin!
"Bukan itu yang aku tanyakan Mas," Diandra mencebik.
"Tapi itu yang serem bagi aku, Dian! akan Mas awasi nanti," ucap Gavin.
Diandra mendelik, apakah Gavin ini kurang pekerjaan? mengawasi Diandra memang apa yang akan Diandra lakukan sampai-sampai Gavin hendak mengawasi dirinya? benar-benar over protektif sekali mantan bujang lapuk ini.
"Ah Mas," Diandra mendesah, Diandra tidak mengerti yang Diandra takutkan bukan itu dan Gavin malah fokus pada hal itu.
"Serius aku takut kalau nan..."
__ADS_1
"Nggak ada yang bakal macam-macam sama kamu Dian, sudahlah tenang," sebuah kalimat yang entah mengapa bisa membuat Diandra tenang.
Itu artinya Gavin akan menjamin bahwa tidak akan ada senior menyebalkan, residen-residen tukang suruh di luar kepentingan pendidikan bukan? atau hanya poin tadi yang akan Gavin fokuskan, Diandra tidak lagi banyak bertanya, bersandar santai di jok sambil menatap jalanan yang ada di depan, dia hendak menutup mata ketika Gavin kembali bersuara.
"Besok bawa mobil, Mas nggak izinin kamu bawa motor ke rumah sakit, apalagi kalau ada jaga malam," ucap Gavin.
Diandra sontak membelalak, bawa mobil? apakah tidak akan jadi masalah kalau Diandra pulang pergi ke rumah sakit bawa mobil sendiri? dan apakah pihak rumah sakit memberi lahan parkir untuk mobil bagi mahasiswi koas?
"Loh tapi Mas..."
"Udah! itu Mas yang atur nanti, intinya Mas nggak akan tenang dan biarin kamu bawa motor, lihat Kiki tadi serem.
"Mas nggak mau kamu sampai ada yang berani melecehkan kayak gitu," ucap Gavin lagi.
Segala protes yang tadi hendak Diandra mendadak lenyap, senyumnya merekah, dia langsung menyandarkan kepalanya di bahu Gavin dengan manja, memeluk lengan Gavin yang kini baginya merupakan tempat bersandar paling nyaman.
Gavin hanya melirik sekilas senyumnya merekah, ternyata bahagia itu sesederhana ini, tidak perlu kemana-mana hanya perlu duduk di sisi Diandra yang manja seperti ini rasanya benar-benar membuatnya bahagia.
"Hmmm, gimana Mas?" Diandra bergeming, rasanya nyaman sekali, sungguh!
"Berat Dian, pegal tangan Mas, Dian!" ucap Gavin.
Diandra lantas mengangkat wajahnya menatap kesal sang suami yang nampak nyengir lebar, seberat apa sih badan Diandra ini? orang Diandra saja tidak pernah protes ketika badan besar dan kekar Gavin menindihnya ketika mereka bercinta, kenapa hanya di senderi kepala saja Gavin protes dan bilang berat, menyebalkan!
"Eh... kenapa jadi cemberut begitu?" tawa Gavin pecah, dia terbahak sambil menatap wajah manyun sang istri.
"Bodo! aku marah," Diandra buru-buru kembali bersandar di jok melipat dua tangan di dada.
"Jangan marah dong sayang, nanti ak..."
"Nggak mau tahu! pokoknya marah jangan harap nanti aku mau Mas ajak anu-anu," sebuah ancaman yang mungkin akan selalu menjadi senjata ampuh Diandra guna melawan Gavin.
"Eh..." benar saja Gavin langsung berteriak terkejut menoleh menatap Diandra yang masih mencebik dengan tangan dilipat di dada.
__ADS_1
"Nggak bisa gitu dong, masa gitu aja hukumanku berat banget sih sayang," ucap Gavin lagi.
"Nggak mau tahu, pokoknya aku marah," Diandra bergeming nampak terlihat dia benar-benar kesal dengan suaminya ini.
Wajah Gavin berubah masam, kalau cuma diomelin Diandra mungkin Gavin tahan walaupun omelan itu akan berlangsung selama dua jam lebih, tapi kali ini hukuman Gavin begitu berat ibarat ditinggal pas lagi sayang-sayangnya, jadi mana sanggup Gavin menjalani hukumannya ini?
"Sini deh kalau gitu senderan lagi di bahu Mas, nggak apa-apa kok," rayu Gavin dengan begitu manis, masih ada banyak solusi untuk rasa pegal di lengan dan bahunya, jadi tidak masalah.
Diandra hanya melirik sekilas, kepalanya menggeleng sebuah tanda penolakan dari tawaran apa yang telah Gavin ajukan.
"Nggak! udah nggak mood senderan," desis Diandra yang membuat Gavin makin panik.
"Dibikin mood lagi dong, ayolah sayang!" ucap Gavin.
Diandra tampak berpikir, seulas senyum jahil lantas tergambar di wajah itu, Diandra kembali menyandarkan kepala di bahu Gavin, memeluk lengan itu yang otomatis membuat wajah Gavin kembali sumringah.
"Nah gini kan hati aku tenang sayang," desis Gavin yang kini mulai mengabaikan pegal di bahu dan lengan.
Diandra tidak menjawab satu tangannya yang lain malah menyusup jauh ke sana, tepat yang seharusnya tidak Diandra sentuh jika mereka berada di mobil dan di tengah jalan seperti saat ini, sesuatu yang seharusnya tidak Diandra pancing kalau dia tidak berniat menyelesaikan dengan baik akibat yang dibuatnya dengan sentuhan itu.
Gavin terbelalak, dia mulai berkeringat ketika tangan itu memijit sesuatu di dalam sana.
"Dian kita lagi di jalan sayang," bukan apa-apa, apapun yang berhubungan dengan Diandra, Gavin sama sekali tidak bisa menekan dan menahan diri untuk tidak melakukan sesuatu pada istrinya terlebih kalau Diandra yang memulai lebih dulu macam ini.
"Jadi memang kenapa kalau kita lagi di tengah jalan?" Diandra nampak tidak peduli, tangannya masih memijit dengan begitu lembut sesuatu yang kemarin berhasil membuatnya menangis ketika benda ini pertama kali merangsak masuk ke dalam tubuhnya membuatnya hampir gila ketika berhasil menyentuh bagian paling sensitif di dalam tubuh Diandra dan meledakan Diandra di udara.
"Dian, nanti aja di rumah sayang," Gavin makin kelabakan, dia sudah menegang sempurna celananya terasa begitu sesak dan Diandra nampak sangat tidak peduli akan hal itu.
"Nggak mau! aku maunya di sini," ucap Diandra.
Gavin mengeram, menambah kecepatan mobilnya sedikit, dia harus sampai rumah dan Gavin tidak akan memberi ampun pada Diandra untuk hal ini.
"Dian stop dulu, Dian! serius!!!" ucap Gavin.
__ADS_1