
Kiki tertegun, sosok itu nampak memandanginya dengan seksama, ini makhluk dari mana kenapa ganteng sekali? Kiki membeku di tempatnya sampai kemudian lelaki itu mengibaskan tangannya di depan muka Kiki.
"Dek kenapa?" tanya lelaki itu.
"Ah... ng... nggak, Mas. nggak apa-apa," desis Kiki sambil nyengir, beneran malu entah mengapa rasa pedih dan sedikit nyeri di beberapa bagian tubuhnya lenyap seketika.
"Serius nggak ada yang sakit?" mata itu membulat sebuah pemandangan luar biasa indah di mata Kiki.
"I... iya," jawab Kiki dengan wajah memerah dan hati berdesir.
"Kau itu! hati-hati dong! untung tadi aku bawa mobilnya pelan, coba kalau kencang nggak bisa bayangin aku gimana nanti nasib kamu," omel lelaki itu yang sontak melunturkan rasa kagum yang ada di hati Kiki.
Kiki membelalakkan mata, kenapa jadi dia yang disalahkan? perasaan Kiki tidak melanggar lampu, rambu apapun, dia juga dalam kecepatan stabil dan sedang, bukan salah dia dong, pasti lelaki ini yang tidak hati-hati bawa mobilnya.
"Loh, kenapa jadi nyalahin saya Mas? surat saya lengkap, nggak melanggar batas kecepatan, Mas pasti nih yang ugal-ugalan terus jadi nyalahin saya," balas Kiki yang makin mengabaikan rasa nyeri yang dia rasakan.
Lelaki itu ikut melotot.
"Aku nyalahin kamu, kau bilang?" nampak suara lelaki itu melengking.
"Kau yang tadi naik motor nggak..."
"Permisi Mas, ini data pasiennya apakah sudah bisa diisi?" perawat itu muncul membuat lelaki itu lantas fokus pada papan yang disodorkan perawat itu.
"Bisa, Sus. Kebetulan sudah sadar nih orangnya, merepotkan saja!" ucap lelaki itu.
Kiki kembali melotot, dia lantas mencoba bangkit menyingkirkan selang infus yang sedikit mengganggu dan mencoba melepaskan jarum infus dari punggung pergelangan tangannya.
"Eh kamu mau ngapain?" lelaki itu berteriak, tidak jadi duduk dan mencekal tangan Kiki yang hendak melucuti selang infusnya.
"Mau pergi!" balas Kiki sengit.
"Mas pikir saya mau gitu ngerepotin Mas? Mas yang nabrak saya, ya harusnya tanggung jawab dong, kenapa sekarang jadi Mas ngatain saya merepotkan?" ucap Kiki.
"Mau pergi? susah-susah aku bawa ke sini kau main mau pergi gitu aja," lelaki itu nampak tidak terima.
"Tahu gitu kutinggal saja kau di TKP, biarin sekalian!" ucap lelaki itu lagi.
Kiki melotot, dia melayangkan tangannya guna menggebuk punggung lelaki itu, kenapa harus lelaki model begini yang berurusan dengan Kiki? apakah tidak ada lelaki lain yang lebih waras untuk berurusan dengan dia?
__ADS_1
"Kau ini! tangan luka kayak gitu masih juga mau menganiaya orang," satu tangan lelaki itu menjewer telinga Kiki, hal yang makin membuat Kiki ilfeel setengah mati dengan lelaki asing yang sedikit tidak waras ini.
"Sakit!" Kiki berteriak kencang, membuat tirai tersingkap dan seorang perawat tampak panik muncul dari balik tirai.
"Kenapa, Mbak?" tanya perawat itu panik.
"Itu, Sus sekalian aja mending potong tangannya," jelas lelaki itu yang kontan membuat Kiki makin membabi buta memukuli punggung lelaki itu.
"Dasar nggak waras," maki Kiki kesal.
"Maaf, Sus saya nggak apa-apa," gumam Kiki sambil tersenyum masam.
"Kalau ada apa-apa bisa panggil saya yah nanti, sama untuk data pasien ditunggu dengan segera,"
Kiki dan lelaki itu kompak mengangguk, sedetik kemudian mereka saling pandang melemparkan tatapan tajam dan tidak bersahabat.
"Bisa kalem nggak?" desis lelaki itu kesal.
"Bawel!" balas Kiki sengit.
"Diam lah, aku butuh data mu," kembali lelaki itu duduk, bersiap dengan pulpen dan kertas di tangan yang ditempel di papan.
"Siapa namamu?" tanya lelaki itu.
Lelaki itu mendongakkan wajah, dia mengangkat papan itu lalu memukulkan papan itu dengan lembut ke kepala Kiki
"Hei! serius ini buat data rumah sakit dan namamu cuma Kiki doang?" ucap lelaki itu.
Kiki mengelus kepalanya, dia melotot kesal ke arah lelaki yang masih menatapnya tajam, dengan cara apa Kiki bisa melenyapkan lelaki ini?
"Ya slow dong Mas, nggak usah pakai mukul kepala, kalau sampai geger otak situ mau tanggung jawab?" ucap Kiki.
"Sejak awal aku sudah tanggung jawab kan?" lelaki itu mendengus perlahan.
"Sudah! siapa namamu cepat?" kembali lelaki itu fokus pada papan dan kertas.
Kiki merebut papan dan pulpen itu menuliskan sendiri nama dan data yang diperlukan rumah sakit akan dirinya, sementara lelaki itu dari sudut mata Kiki bisa melihat lelaki itu duduk sambil melipat tangan di dada, menatapnya dengan sorot mata menyebalkan yang seumur hidup baru Kiki temui.
Segala macam kekaguman Kiki akan ketampanan wajah lelaki itu sontak lenyap tak tersisa meninggalkan rasa kesal, benci dan gemas yang luar biasa di hati Kiki.
__ADS_1
"Nih udah semua," Kiki menyodorkan papan itu, papan yang langsung diraih dan dibawa lelaki itu pergi tanpa kata-kata lagi.
Kiki menghela nafas panjang, kenapa dia harus berjumpa dengan lelaki macam itu sih? kenapa harus lelaki menyebalkan macam itu?
Tirai kembali terbuka, kini nampak lelaki dengan snelli dan stetoskop muncul, Kiki menghilangkan sejenak rasa kesalnya dia harus ingat betul-betul bahwa ketika berhadapan dengan Dokter begini dia harus menutupi statusnya sebagai medical student, hal tidak tertulis namun wajib selalu diingat ketika tengah memeriksakan diri di rumah sakit, mereka tidak boleh mengaku atau berterus terang sebagai calon Dokter, kalau tidak mereka malah akan diberi jurnal dan disuruh mempelajari sendiri penyakitnya.
"Kiki yah?" tanya wanita berjilbab itu dengan senyum manis.
"Iya, Dok" jawab Kiki mulai kembali kalem dan tenang.
"Saya periksa sebentar yah," ucap Dokter itu lagi.
Kiki tersenyum membiarkan Dokter itu memeriksanya, satu harapan Kiki adalah Dokter itu tidak menyadari bahwa lambungnya kosong, ya walaupun itu mustahil.
#########
"Diminum obatnya, hati-hati kalau naik motor!"
Kiki mencebik, tidak perlu dijelaskan dia sudah tahu, apa-apa saja yang harus dia lakukan setelah ini.
"Sudah baik-baik saja kan? aku mau balik!" ucap lelaki itu lagi.
Kembali Kiki melotot, dia mencegah tangan lelaki itu, melotot kesal pada lelaki tidak waras yang menyebalkan ini.
"Eh! enak saja main pergi," ucap Kiki galak.
Lelaki itu ikut melotot.
"Aku udah ngantar kamu ke rumah sakit, bayar tagihannya dan sekarang apalagi?" lelaki itu berteriak melotot tajam ke dalam mata Kiki.
"Iya saya tahu Mas, tapi motor saya sama tas saya di mana?" tentu itu yang Kiki tanyakan dia mau pulang pakai apa kalau begini.
"Di bawa ke kantor polisi sama polisi, ambil sana!" lelaki itu mengibaskan tangan Kiki, hendak kembali melangkah, namun Kiki tidak membiarkan dia pergi.
"Antar ke sana dong kalau gitu, masa iya mau ditinggal gitu aja!" ucap Kiki.
Mulut lelaki itu setengah terbuka, nampak terkejut dan hendak berteriak, namun lelaki itu malah menghirup udara banyak-banyak, menghembuskan perlahan-lahan macam orang mau melahirkan.
"Oke aku antar! semoga ini terakhir aku berurusan sama kamu, merepotkan saja!" ucap lelaki itu.
__ADS_1
Kiki tersenyum penuh kemenangan, setidaknya dia tidak harus bingung dan pusing memikirkan bagaimana caranya dia bisa ke kantor polisi untuk mengambil motor dan barang-barangnya.
'Dasar lelaki menyebalkan'