
Kiki dan Diandra sedang asik saling menjulurkan lidah, menimpuk satu sama lain ketika di saat yang sama, di sisi rumah sakit yang lain sosok dengan celana bahan warna creme dan snelli lengan panjang melangkah dengan begitu anggun dan penuh percaya diri menyusuri koridor rumah sakit. Rambutnya hitam panjang, sangat kontras dengan kulitnya yang putih, seputih porselen. Tubuhnya proposional dengan hidung mancung dan bibir tipis merona. Sebuah visual yang sangat menarik dan mampu membuat orang tertegun ketika menatap wajah itu.
Di tangannya ada beberapa map plastik, jangan lupa tas selempang yang dia bawa di bahu kanan. Denting sepatu hak lima centi yang dia kenakan beradu begitu merdu, makin mencuri atensi dan membuat siapa saja langsung berpaling ketika melihat dia melintas.
Langkahnya begitu tegap dan penuh percaya diri, Bagaimana tidak?
Penampilannya begitu sempurna dengan perpaduan kulit putih, wajah jelita dan tubuh proposional. Wanita mana yang tidak percaya diri dengan penampilan macam itu? dia melangkah menuju poli kulit kelamin, sesuai dengan keahlian yang dia miliki, seorang lulusan pendidikan Dokter spesialis kulit kelamin.
Dia wajah baru di rumah sakit ini. Wajah yang tidak hanya akan menyegarkan rumah sakit ini dengan visual cantiknya, tetapi juga akan mengabdikan diri dengan keahlian yang dimilikinya. Dia akan merubah banyak hal, merubah banyak hidup orang-orang dan juga merubah sebuah kedamaian yang sudah lebih dulu tercipta dan terbentuk dengan sempurna.
#########
"Vin, ntar ikutan yuk!"
Gavin menoleh nampak Matthew tengah mencuci tangan, dia hendak bergabung dengan Gavin dalam operasi kali ini. Mau kemana lagi Dokter anestesi itu hendak mengajak dirinya pergi?
"Kemana nih?" Gavin mengangkat dua tangan yang sudah dia cuci tinggi-tinggi, melirik dan menunggu Matthew selesai mencuci tangan.
"Ngopi lah!" jawab Matthew yang masih sibuk mencuci tangan.
"Atau mau ke karaokean aja gimana? Di 1*** LC nya cantik-cantik, Vin!"
Gavin membelalak, kalau saja tangannya tidak dalam kondisi steril, sudah dia gebuk punggung lelaki tiga puluh empat tahun itu. Hanya saja Gavin tidak ingin membuang waktu sia-sia untuk mencuci kembali tangannya sampai bersih. Jadi dia lebih memilih membelalakkan mata menatap Matthew yang tampak cekikikan itu.
"Kamu mau ngajak nyanyi apa ngajak nyari masalah sama istri, Matthew?" gerutu Gavin gemas.
"Selama istri nggak tahu, kan, aman, Vin!" kilah Matthew sambil mengangkat dua tangannya ke atas.
Gavin mencebik, dia melangkah di sisi Matthew, menuju ruangan di mana operasi akan dilakukan. Kalau Matthew berani ya silahkan, yang jelas Gavin tidak akan mencari masalah dengan pergi ke tempat begituan apalagi sampai menyewa ladies escort macam ide gila Matthew barusan. Tidak berani dia melawan istrinya, tidak peduli Diandra bahkan berusia jauh di bawahnya. Apalagi kalau sampai berhadapan dengan Darmawan, bisa habis Gavin nanti!
"Nggak! Aku nggak ikutan deh, sana pergi sendiri. Sewa aja banyak-banyak!" gumam Gavin dengan bibir mengerucut. Memang Matthew ini terkenal masih suka berpetulang sana-sini. Reputasinya sedikit buruk
"Ah kau ini, cemen amat sih, Vin!"
__ADS_1
Matthew mencebik, sejenak wajahnya berubah cerah.
"Eh udah denger Dokter baru belum?"
"Dokter apa?" Gavin melirik Matthew, pasti Dokternya perempuan sampai radar Matthew bisa tahu kehadirannya di rumah sakit ini.
"Sumpah, Vin... ini Dokter macam member girlband Korea! Cakep, mulus, bening... yahud banget, Vin!"
Nah! Apa Gavin bilang? Dasar Matthew!
"Ah, lebay. Dokter kukel pasti?" tebak Gavin yang sudah paham, sejawatnya yang berpenampilan macam itu biasanya yang mengambil spesialisasi di bidang dermatovenereologi. Selain yang mereka dalami adalah masalah penyakit dan kesehatan kulit, tekanan mereka tidak seberat sejawat di bagian bedah atau yang lain. Ya meskipun bukan berarti para ahli kulit lantas santai kerjanya, tidak seperti itu konsepnya.
"Hooh! Bener, Vin! Bening banget!" kembali Matthew nampak menggebu- gebu.
"Dan berita hot nya nih, Vin, dia janda!"
Gavin menghela napas panjang, melirik Matthew yang bisa Gavin lihat sorot mata itu begitu berapi-api penuh semangat.
"Memang kenapa kalo janda, Matthew? Mau kamu bidik juga?" tanya Gavin yang sudah bisa menebak kemana arah pikiran Matthew itu.
"Ya kalau dia mau kenapa enggak sih, Vin?"
Gavin membelalak, dia sudah tidak tahan lagi untuk menggebuk punggung Matthew. Sebuah tindakan yang langsung membuat keduanya tertegun lalu berteriak sama- sama.
"ASTAGA!" Gavin menepuk jidatnya dengan gemas.
"KAU SUDAH CUCI TANGAN, VIN! BALIK CUCI TANGAN SANA!"
##########
"Ki... Kiki!"
Kiki memutar bola matanya dengan gemas. Kepalanya mendadak pusing mendengar suara teriakan itu. Dia menghentikan langkahnya, menantikan langkah kaki itu melangkah mendekatinya. Ketika suara langkah kaki itu makin dekat dia menoleh, mendapati wajah itu nyengir lebar menatapnya.
__ADS_1
"Apaan?" tanya Kiki galak.
"Heh! Nggak sopan banget sih ini keset rumah sakit!" bentak Derren sambil menjewer telinga Kiki dengan gemas.
"Aduh!" Kiki menggaduh.
"Lepasin! Sakit!" Kiki menipuki tangan Derren dengan membabi-buta, berharap jeweran tangan itu bisa terlepas dari telingannya.
"Makanya jangan ngelunjak!" Derren melotot, menatap Kiki yang nampak cemberut sambil mengusap telinga sebelah kirinya.
"Habisnya Dokter nyebelin. Apaan lagi sih, Dok, memangnya?" Kiki sontak lemas, kenapa sih dia harus berhadapan terus dengan makhluk satu ini?
Derren menghela napas panjang, matanya masih menatap ke arah Kiki. Membuat keduanya nampak saling pandang beberapa saat. Kiki masih memanyunkan bibirnya. Menantikan apa yang akan dikatakan oleh Derren sampai dia harus mengganggu dan menyetop langkah Kiki di sini.
"Aku cuma mau ngajak kamu makan, Ki. Salah?"
Kiki membulatkan matanya, dia tidak salah dengar, kan? Derren hendak mengajaknya makan? Kenapa sih dengan lelaki ini? Selain menyebalkan dan suka memaksa, Derren agak sedikit aneh dan berubah-ubah, hal yang makin membuat Kiki rasanya ingin menghilang dari muka bumi ketika harus berhadapan dengan lelaki ini.
"A-apa?" bukannya budek, Kiki hanya ingin memastikan bahwa dia tidak salah dengar atau tengah berhalusinasi.
"Aku mau ngajak kamu makan siang, Kiki!" kembali Derren menegaskan.
"Kamu nggak budek, kan? Perlu aku daftarin ke poli THT?"
Plak!
Tangan Kiki melayang, menggebuk punggung Derren dengan kesal. Tanpa banyak bicara, Kiki segera membalikkan badan. Melangkah pergi meninggalkan Derren yang nampak melotot karena terkejut akan serangan yang Kiki lancarkan.
"Eh! Mau kemana? Absurd banget sih anak satu ini!" Derren berteriak, segera dia mengejar langkah Kiki, memburu gadis itu yang nampak tergesa-gesa macam dapat panggilan dari konsulen.
Kiki tidak menjawab, terus melangkah dengan tergesa sambil beberapa kali menoleh ke belakang. Kiki makin mempercepat langkahnya ketika menyadari Derren mengejar, sampai tidak sadar bahwa tepat di depannya sosok itu tengah melangkah dengan pandangan yang tertuju pada layar ponsel dalam genggaman.
"Aduh!" Kiki berteriak ketika tubuhnya berbenturan dengan tubuh itu, mereka kompak terjatuh di lantai. Kiki hampir memaki sosok itu ketika kemudian matanya membulat dengan mulut menganga menatap siapa yang menubruknya itu.
__ADS_1
"Aduh maaf, saya nggak fokus lihat jalan. Lagi cari ruangan Dokter Sarah, bisa tolong dibantu?"