
"Jadi dia temen kamu, Dian?"
Tentu Derren terkejut ketika mendapati Kiki tengah duduk dan nampak mengobrol dengan Diandra. Gadis yang juga adik dari Drian, sahabatnya sejak SMA. Gadis yang sudah mematahkan hatinya karena mendadak menikahi lelaki lain.
"Iya, Bang. Temen dari semester satu." Jawab Diandra sambil tersenyum.
Derren mengangguk, dia duduk di bangku ada di depan dua gadis itu. Ah... Satu dari dua gadis itu sudah tidak lagi berstatus gadis! Sudah menjadi istri orang!
"Jadi Abang yang kemarin nyerempet Kiki?" Mata Diandra membulat, sementara bisa Derren lihat Kiki melengos, memalingkan muka dengan ekspresi wajah cemberut.
Derren tersenyum, "Salah dia sendiri, tau- tau nongol." Jawab Derren sambil melirik Kiki yang sontak membelalak menatapnya.
"Eh, apaan? Kau yang nyetir nggak pakai mata, Mas!" ucap Kiki galak membuat Derren melotot gemas.
Berani sekali gadis ini! Dia lupa kalau strata mereka berbeda di rumah sakit ini? Koas menempati kasta terbawah di rumah sakit. Itu faktanya! Bahkan mereka kalah posisi dengan cleaning servis rumah sakit.
"Kenapa jadi aku? Kau yang buru- buru sampai kemudian nubruk!" Derren tidak mengerti berani sekali Kiki ini!
Diandra menghela napas panjang. Dia meletakkan sendok lalu menatap kedua orang itu bergantian. Nampak mereka langsung bungkam, meskipun wajah keduanya sama-sama ditekuk.
"Masih main salah-salahan nih? Nggak mau pada makan siang? Nggak laper?" Tanya Diandra yang masih menatap keduanya dengan tatapan gemas.
Kiki mengeram, dia lantas bangkit melangkah menuju tempat penjual bakso yang sama dengan milik Diandra. Sementara Derren, masih duduk di meja, membuat Diandra harap-harap cemas suaminya melihat dan salah paham lagi. Kalau mau mengusir, rasanya canggung. Membuat Diandra didera rasa bimbang dan galau. Harapan Diandra, Kiki segera selesai memesan makanan atau Derren bangkit dan melangkah pergi dari mejanya. Namun agaknya harapan itu tinggal harapan saja.
"Kok kau mau sih, Dian, temenan sama cewek somplak kayak Kiki gitu? Bener- bener anak itu bikin hipertensi!" Gerutu Derren sambil melirik gadis yang dia maksud.
Diandra tersenyum.
"Anaknya asik kok. Ya walau kayak gitu dia teman yang baik, Bang. Nggak muka dua." Jelas Diandra yang sibuk celingak-celinguk mencari keberadaan sang suami. Untuk saat ini masih nihil.
Chat dari Diandra juga belum terbalas. Padahal rencana Diandra ingin mengajak Gavin makan di resto yang tidak jauh dari RS, tapi nihil. Tidak ada respon. Bisa dipastikan Gavin tengah berkutat di dalam OK. Ah... Semoga dia muncul ketika Derren sudah pergi.
"Hmm... Liat aja ntar, aku kerjain terus pas dia jaga bareng aku!"
Tawa Diandra sontak pecah, "Jangan gitu, Bang. Ntar naksir tau rasa!" Godanya sambil kembali menyuapkan bakso ke dalam mulut.
__ADS_1
Derren tertegun. Naksir?
Apakah perasaan penasaran yang begitu kuat pada Kiki masuk dalam kategori naksir? Dan jangan lupa perasaan itu mampu membunuh perasaan aneh yang sejak dulu Derren simpan untuk Diandra. Kenapa bisa secepat itu sih? Benar dia naksir Kiki? Atau ini cuma sebatas rasa penasarannya saja?
"Nih!"
Derren terkejut luar biasa ketika semangkuk bakso dengan kuah mengepul itu terhantar di hadapannya. Dia sontak mengangkat wajah, menatap Kiki yang kembali duduk di dekat Diandra.
"Heh! Aku nggak pesen bakso, Ki!" Desis Derren sambil melotot, sementara Kiki sudah sibuk menuang saus dan sambal ke dalam mangkok.
"Emang! Kan Mas nggak order tadi." Jawab Kiki asal yang mampu membuat Derren mengeram menahan gemas.
"Lah terus ini apaan? Kenapa ada di sini?"
Kiki yang mulai mengunyah baksonya balas menatap Derren dengan mata melotot. Dia lantas mengunyah dan menelan bakso bercampur bihun itu dengan susah payah.
"Bang, mata sehat, kan? Jelas-jelas itu semangkok bakso, kenapa masih tanya itu apa?" Suara Kiki melengking, membuat tangan Derren terulur menarik telinga gadis itu.
"Aduh... Aduh!" Kiki mengaduh, dia berusaha melepaskan jeweran tangan itu dari telinganya.
"Yang aku tanyakan itu kenapa baksonya di sini? Padahal aku nggak pesen!"
Kiki mengusap telinganya yang merah dan memanas. Dia menatap kesal Derren yang nampak juga sama kesalnya itu.
Sementara Diandra hanya geleng-geleng kepala sambil kembali makan, tidak berniat menengahi keduanya yang berselisih.
"Ya bisa ada di sini karena aku pesen lah, Mas! Gimana sih? Itu buat Mas! Gantian kan kemarin di minimarket, aku udah dibayarin beli coklat sama es krim." Jelas Kiki yang membuat mata Diandra terbelalak.
Di minimarket? Jadi setelah kejadian tabrak mesra itu mereka kembali bertemu? Nge date, kah? Atau bagaimana? Diandra melirik Kiki, nampak wajahnya masih cemberut dengan alis menekuk.
"Oh! Nggak usah kali. Aku ikhlas!" Derren menarik tempat sambal, ikut menuang cabai giling itu ke dalam mangkok.
"Lumayan kan, gratis?"
"Ya tapi aku ngerasa nggak enak." Kiki mengaduk-aduk mangkuk baksonya.
__ADS_1
"Makanya kalo mau ke minimarket dicek dulu, bawa duit kagak! Untung ketemu aku."
Kembali Kiki mendelik.
"Tadinya udah dicek, nggak tahunya ternyata duitnya jatoh di depan pintu kamar kos!" Kiki ingat betul, dia sudah memasukkan selembar uang ke dalam saku.
Diandra tidak bersuara. Agaknya mereka berdua lupa akan keberadaan Diandra di sini. Jadi mereka hanya fokus pada obrolan mereka berdua.
"Ceroboh!" Desis Derren lagi. Kini dia mulai menyantap bakso miliknya.
Kiki kembali mengangkat wajah, hendak membalas ketika Diandra mencekal tangan Kiki. Membuat gadis itu lantas menoleh dan menatap Diandra dengan saksama. Diandra tersenyum dan menggeleng perlahan. Melirik mangkok bakso milik Kiki dan memberi kode agar Kiki fokus saja pada makannya.
Sedetik kemudian mereka asik pada mangkok masing-masing. Hanya denting sendok dan mangkok yang terdengar. Jangan lupa suara orang-orang di sekitar mereka. Pertikaian absurd itu tidak lagi terdengar.
Diandra hendak kembali menyuapkan bakso ke dalam mulut, ketika ponsel Diandra berdering begitu nyaring. Dengan segera Diandra merogoh sakunya. Matanya membelalak ketika membaca nama itu muncul di layar.
"Halo... Gimana, Mas?" Tanya Diandra dengan suara begitu lembut dan manis. Membuat Kiki dan Derren kompak menatap Diandra yang tengah menelepon.
"Masih setengah jam-an sih," Desisnya dengan wajah memerah. Membuat Kiki mencebik sambil mengunyah baksonya. Pasti dari Suami tercintanya nya Diandra!
"Oke, aku kesana deh!" Ujar Diandra penuh semangat.
"Tunggu!"
Tut!!!
Diandra segera masukkan ponsel ke dalam saku. Menatap dua orang yang Diandra tahu betul mereka sejak tadi menyimak dia mengobrol.
"Duluan ya? Pak Bos nelpon. Bye!" Diandra segera bangkit. Melemparkan senyum lalu melangkah pergi dari tempat mereka bertiga duduk.
Kiki menatap nanar kepergian Diandra. Dalam hati dia mengumpat dengan kesal. Kenapa jadi dia ditinggal di sini bersama Derren? Dokter somplak yang menyebalkan ini?
"Dasar! Mentang-mentang pengantin baru," Desis Kiki bersungut-sungut.
"Nggak usah sirik gitu. Nikah sana kalo pengen juga!"
__ADS_1
Kiki mengangkat wajah, menatap kesal lelaki yang nampak tengah mengunyah baksonya. Dalam hati Kiki bertekad bahwa suatu saat nanti dia akan balas Derren dengan mengerjainya! Awas saja!