Musuhku Suamiku

Musuhku Suamiku
Gagal lagi!


__ADS_3

Ini benar-benar sakit Diandra tidak bohong, ya walaupun benda itu belum masuk lebih jauh ke dalam tubuhnya tapi ini sungguh sakit, Gavin bergeming tidak berani melanjutkan lebih jauh ketika melihat mata itu memerah, wajah sang istri sudah banjir keringat membuat Gavin sedikit iba dan menanti Diandra benar-benar siap sepenuhnya.


"Bentar doang sakitnya sayang serius deh," apakah iya hanya sebentar rasa sakit itu menguasai Diandra? Gavin sendiri tidak tahu ini juga merupakan momen pertama dalam seumur hidup Gavin, dia hanya mencoba membujuk menenangkan Diandra yang nampak sudah hendak menyerah, padahal permainan baru mereka mulai bukan?


Diandra menghirup nafas dalam-dalam menghembuskan perlahan-lahan dan dia ulangi sampai beberapa kali, hingga kemudian matanya terpejam, kepalanya mengangguk perlahan sebagai kode bahwa apapun itu dia siap jika Gavin hendak melanjutkan. Gavin tersenyum menjatuhkan sebuah kecupan di dahi sang istri sebelum dia bersiap untuk melanjutkan aksinya, Gavin baru saja hendak kembali mendorong miliknya masuk lebih dalam ketika suara ribut itu kembali membuyarkan segala momen indah yang tercipta.


"Om... om Gavin, bukain pintu dong, aku mau masuk, aku bawain hadiah nih buat Om Gavin sama Tante Dian,"


"Ya ampun!" Gavin mengeram, moodnya kembali anjlok! hilang sudah semuanya apakah memang dia dilarang menyentuh istrinya atau bagaimana?


Gedoran pintu itu terus terdengar begitu berisik siapa lagi kalau bukan Sisil Permatasari anak kakak perempuan Gavin yang memang sejak dulu begitu lengket dengan Gavin, Sisil panggilannya. Bocah itu masih belum jelas dalam mengucapkan huruf R.


"Om bukain dong, aku mau masuk," ucap Sisil lagi.


Tampak wajah ketakutan Diandra lenyap, berganti wajah geli dengan tawa yang siap pecah, sementara Gavin jangan ditanya wajah dan matanya memerah, dia bergegas bangkit memunguti bajunya dan melangkah masuk ke dalam kamar mandi.


"Kamu yang bukain sayang, aku mau mandi dulu," ucapnya sebelum pintu tertutup.


Kontan tawa Diandra pecah! dia segera memakai kembali bajunya, padahal sudah di depan dan tinggal dorong masuk selesai, tapi ada saja gangguan yang membuat niat Gavin tidak terlaksana membuat Diandra masih tetap perawan meskipun kurang beberapa sentimeter lagi miliknya dikoyak sang suami.


"Om bukain," teriak suara itu diiringi gedoran pintu yang tidak mau berhenti.


"Sebentar sayang," teriak Diandra yang masih berusaha melengkapi pakaiannya, rambut yang berantakan dia ikat naik ke atas, lalu bergegas membuka pintu menemukan gadis imut dengan piyama gambar Winnie the Pooh berdiri di balik pintu.

__ADS_1


"Halo sayang maaf ya lama bukain Sisil pintu," Diandra tersenyum jongkok di depan gadis itu, dan menerima uluran tangan kecilnya.


Dengan begitu manis dan sopan Sisil mencium punggung tangan Diandra membuat senyum merekah di wajah Diandra, dia sendiri heran, Sisil tiba di rumah ini lebih dulu dari dia dan Gavin, kenapa baru sekarang kasih kado? apakah atas inisiatif sendiri atau sengaja disuruh seseorang untuk mengerjai Gavin? entah tapi agaknya Diandra harus berterima kasih pada Sisil karena jujur sebenarnya dia belum siap, suasana rumah ini sedikit ramai dan itu membuat dia tidak nyaman sebetulnya.


"Om Gavin nya Sisil ke mana Tante? kok nggak ada?" tanya Sisil sambil melongok ke dalam kamar.


"Baru mandi sayang, tungguin dulu ya!" jawab Diandra dengan senyumnya yang begitu manis.


"Kok mandinya malam-malam nanti masuk angin loh," ucap Sisil.


Diandra tertawa kecil, agaknya dia tidak perlu menjelaskan alasan apa yang membuat Om kesayangan Sisil harus mandi malam-malam begini bukan?


"Iya tadi belum mandi," jawab Diandra singkat, sekuat tenaga dia menahan tawa membayangkan ekspresi lemas Gavin beberapa saat yang lalu, kalau di pikir-pikir sih kasihan juga, tapi mau bagaimana lagi?


Gadis itu menggeleng, melangkah masuk ke dalam kamar tanpa menunggu dipersilahkan, Diandra bergegas menutup pintu, mengekor di belakang kaki kecil itu melangkah.


"Sisil mau tidak tidur di sini biasanya kalau Sisil ke rumah nenek dan Om Gavin libul, Sisil boboknya sama Om Gavin," jelas bocah itu sambil naik dan duduk di tepi ranjang.


Hah? benarkah begitu? jadi Diandra bukan perempuan pertama yang tidur bersama Gavin! ah gila, kenapa Diandra pikirannya sampai sana sih? tentu konteksnya berbeda bukan? Diandra tidak hanya tidur berbaga kasur, tetapi juga berbagi...


"Tante!"


Diandra tersentak dia menoleh dan menatap Sisil dengan seksama.

__ADS_1


"Ya sayang kenapa?" ucap Diandra.


"Sisil titip Om Gavin boleh? jangan di nakalin ya Tante, Om Gavin itu baik sekali jangan dibuat cedih yah, nanti Sisil ikut cedih kalau Om Gavin cedih," ucap Sisil.


Hati Diandra mencelos, bahkan anak sekecil Sisil pun menasehati dan melarangnya menyakiti Gavin? Diandra tersenyum getir, dia mengangguk pelan sebagai tanda mengerti atas dua perintah yang Sisil berikan kepadanya.


"Janji yah? nanti Sisil malah kalau Tante bohong," ucap Sisil.


Diandra tertawa kecil, dia lantas menyodorkan jari kelingking ke hadapan Sisil, jari yang langsung mendapatkan respon dari Sisil.


"Janji!" gumam Diandra tegas dengan sorot mata lembut menatap Sisil, sorot polos itu lantas tersenyum menyodorkan sebuah bungkusan dengan kertas kado batik pada Diandra.


"Buat Tante," senyum Diandra merekah, gadis ini sungguh menggemaskan sekali.


"Buat om Gavin juga, hadiah dari Sisil yah,"


Diandra mengangguk tangannya mengelus lembut kepala Sisil, nampak mereka lantas mengobrol banyak hal, sementara di dalam kamar mandi Gavin duduk lemas di lantai, wajahnya tampak lesu dengan mata memerah, sudah tiga kali dia gagal menyentuh dan meneguk nikmat dari istrinya sendiri, yang ini lebih parah gagal di saat sebenarnya Gavin hanya tinggal menghentak kuat-kuat pinggulnya guna mendorong dirinya masuk sempurna ke dalam inti tubuh Diandra, Gavin memijat pelipisnya perlahan-lahan, jangan tanya bagaimana sakitnya kepala Gavin saat ini, miliknya tadi sudah menegang sempurna siap mengoyak milik Diandra kini lemas seketika! kalau begini caranya Gavin ingin segera membawa Diandra balik ke rumah, di rumahnya hanya ada asisten rumah tangga dan itu artinya agenda penting Gavin dan Diandra tidak akan ada yang berani mengganggu bukan?


Gavin segera bangkit, mandi adalah satu-satunya cara yang bisa dilakukan sekarang guna mengusir dan mendinginkan tubuhnya yang memanas, setelah ini tidak akan lagi Gavin mencoba untuk berusaha menaklukan Diandra, dia tidak mau sakit kepala macam ini!


"Tunggu sampai rumah, Dian. Aku pastikan kamu tidak akan tidur semalaman memohon pun tidak akan bisa membuatku berhenti mengerjaimu besok! lihat saja!" ucap Gavin.


Gavin buru-buru mengguyur tubuh dengan air, lebih baik segera tidur bangun esok pagi dan bergegas pulang dari sini, dia harus bisa segera menuntaskan hasrat yang sejak semalam begitu menyiksa, Gavin akan melampiaskan semuanya, sepuas dia bahkan Diandra minta ampun pun tidak akan Gavin beri sebelum dia mendapatkan bayaran atas kegagalannya hari ini!

__ADS_1


__ADS_2