
"Mas aku takut," itu yang Diandra ucapkan ketika dia merasakan betul milik suaminya sudah terbenam sempurna dalam tubuhnya.
Inilah sisi lain Gavin, sisi yang menunjukkan bagaimana Gavin menjadi begitu liar dan tidak terkendali saat mereka tengah melakukan hal ini, sisi yang mungkin hanya Diandra yang tahu dan menikmati semua sisi Gavin yang selalu berhasil membuatnya takluk dan terkulai lemas.
Gavin menempelkan telunjuknya di bibir Diandra yang memerah dan sedikit bengkak oleh perbuatannya, senyum tipis tersungging menambah kadar ganteng wajah lelaki yang biasanya terlihat seram di mata Diandra.
"Kita nikah tercatat negara, apa yang kamu takutkan," bisik suara itu begitu lirih, Gavin masih diam belum bergerak meskipun miliknya sudah terbenam sempurna di dalam sana.
"Ya tapi ini kan kos cewek," tentu itu yang Diandra takutkan, tidak ada laki-laki yang boleh masuk ke dalam kecuali tukang servis AC, servis pipa dan tukang yang membenahi bangunan rumah kos, Gavin tidak termasuk dalam lelaki yang Diandra sebutkan tadi.
"Kalau begitu kita harus cepat," Gavin sama sekali tidak mau dibantah, terlebih rasa hangat itu makin membuatnya lupa diri.
__ADS_1
Dia mulai menggerakkan pinggulnya perlahan-lahan, sebuah aksi yang lantas membuat Diandra berpegangan erat pada bantal yang ada di bawah kepalanya, matanya terpejam menikmati setiap sentuhan yang tidak pernah bisa di tolak pesonanya, terlebih ketika saat seperti ini kegantengan Gavin meningkat tajam dengan rambut berantakan, wajah penuh peluh, Diandra benar-benar berhasil dibuat terpukau oleh wajah itu, wajah yang tidak semua orang bisa melihat terlebih ketika wajah itu menampakkan ekspresi nikmat dan puas, sebuah ekspresi yang mampu membuat Diandra berkali-kali jatuh cinta.
Diandra pasrah ketika kembali bibir itu mencium bibirnya, bibir yang dulu selalu berdebat, beradu argumen kini bertaut saling menikmati satu sama lain, apakah semua kebencian akan berubah menjadi cinta seperti kasus mereka ini? atau memang hanya terjadi pada Diandra dan Gavin? entah Diandra sendiri juga tidak tahu tapi yang jelas sekarang dia begitu gila di buat lelaki yang dulu rasanya ingin sekali Diandra cekik hingga tewas.
"Dian, kamu enak banget sayang," ucap Gavin.
Sebuah kalimat yang entah mengapa terdengar begitu indah di telinga Diandra, kalimat yang bisa masuk dalam kategori pelecehan jika kalimat itu dikeluarkan oleh lelaki selain Gavin, tapi kalau Gavin yang mengucapkan kalimat itu, kenapa rasanya terdengar begitu indah dan mampu membuat Diandra begitu bahagia.
Diandra memejamkan matanya merasakan cengkraman tangan Gavin di telapak tangannya, cengkraman yang begitu kuat namun sama sekali tidak membuat Diandra merasa sakit, sentuhan itu mulai membawa Diandra pada sensasi lain, sensasi yang seolah-olah melemparkan Diandra begitu tinggi ke atas awan.
Hingga sampai lapisan ke berapa Diandra tidak bisa menghitung yang dia tahu hanyalah ketika sedang dilemparkan Gavin seperti ini, rasanya dia sama sekali tidak ingin kembali Diandra ingin terus di sini menikmati semua rasa yang memanjakan dirinya dan menjadikan dirinya begitu spesial bagi Gavin, rasa yang membuat Diandra begitu dicintai.
__ADS_1
Diandra melenguh panjang, kenapa Gavin begitu lihai membuatnya seperti ini? kenapa Diandra selalu kalah dan bertekuk lutut dengan begitu mudah?
Gavin membenamkan wajahnya di leher Diandra, deru nafas itu makin membuat tubuh Diandra yang sudah hampir mengejang itu makin tidak karuan, desah dan erangan tertahan itu begitu jelas terdengar di telinga Diandra, sebuah hal yang mungkin membuat Diandra gila dan meledak begitu saja.
Diandra terengah, sensasi itu berhasil meledakkan dirinya di udara, menggetarkan seluruh tubuh tidak terkecuali bagian intinya, sapaan cairan hangat itu begitu terasa hal yang makin membuat Gavin mengeram dan menguatkan cengkraman tangannya, Gavin mengangkat wajahnya, wajah itu seperti yang dia katakan tadi bersimbah peluh, dengan rambut berantakan kenapa penampilan berantakan seseorang bisa terlihat seindah ini?
"Giliran Mas kan, Dian? siap-siap yah, udah nggak lama lagi kok," ucap Gavin.
Diandra hanya mengangguk pelan mencoba menetralkan nafas walaupun semua itu sia-sia, Gavin pun kembali memacunya, kembali menyuguhkan sensasi luar biasa itu, hal yang membuat erangan lolos dari bibir Diandra.
Hendak saling tidak menyentuh, bohong! karena jujur, kini Diandra begitu menyukainya! begitu tergila-gila dibuatnya.
__ADS_1
"Diannnnn... ma....mau,"