
Kiki tertegun ketika masuk ke dalam mobil lelaki ini, nampak ada atasan scrub warna biru dan snelli tergantung dengan hanger di belakang jok, jadi lelaki menyebalkan ini seorang Dokter? astaga Dokter model apa kelakuannya macam itu?
"Kau pagi buta udah pecicilan mau ke mana emang?" tanya sosok itu yang sudah duduk dan nampak tengah mengenakan seat belt.
Kiki kembali mendengus.
"Kepo amat sih? mau ngapain nanya-nanya?" balas Kiki judes.
Kiki tengah memasang wajah jutek ketika mendadak kepalan tangan itu mendarat di kepalanya, menjitak kepala Kiki dengan sedikit keras.
"Kamu itu tentulah aku penasaran, kamu bikin aku hampir kena masalah hukum," desisnya sambil melirik tajam ke arah Kiki.
"Eh! kamu hampir bikin aku kehilangan nyawa, Mas! atau mungkin cacat? yang jelas nih lihat, aku lecet-lecet! pokoknya di sini bukan cuma kamu yang merasa dirugikan, aku juga!" Kiki ikut melotot, kalau saja dia tidak butuh tumpangan ke kantor polisi guna mengambil motor dan barang-barang miliknya, ogah dia nebeng lelaki menyebalkan ini!
"Kamu yang bikin gara-gara kenapa jadi aku yang kamu salahkan?" lelaki itu masih belum terima pokoknya yang salah itu Kiki, titik.
Kiki hendak mendebat, namun dia ingat bahwa rasanya semua tenaga dan nafas yang di hembuskan untuk bersuara tidak akan ada artinya dan hanya berakhir sia-sia, jadilah Kiki pilih tutup mulut melipat tangan di dada dan fokus pada jalanan yang ada di depan, Kiki benar-benar hendak mogok ngomong ketika tiba-tiba bunyi memalukan itu terdengar begitu nyaring dan juga keras efek tidak adanya obrolan di antara mereka.
KRUUKKKKKK...
Wajah Kiki merah padam, dia mengumpat di dalam hati sambil memasang wajah masam dan frustasi, harga dirinya mendadak anjlok, dia berharap lelaki itu mendadak budek namun sayang harapan Kiki tinggal harapan semata, karena sedetik kemudian terdengar suara tawa riuh dari lelaki itu.
"Kamu lapar? kencang kali bunyi perut kamu?" ucap lelaki itu.
"Kurang ajar!"
Kiki mengumpat dalam hati, rasanya dia ingin menghilang saja dari hadapan lelaki ini, sungguh ini sangat memalukan sekali.
Kiki mengusap wajahnya dengan tangan, dia hirup udara banyak-banyak dan kembali bunyi memalukan itu terdengar, kenapa sih ini ascaris lumbricoides nya tidak bisa diajak kerjasama? tengsin dong sama cowok tengil satu ini!
Kembali tawa itu terdengar, membuat Kiki makin tidak punya muka, dia memalingkan wajah menghirup udara banyak-banyak sambil berharap mereka segera sampai dan Kiki tidak harus bertemu dengan lelaki ini lagi .
Mobil itu melaju, mendadak belok ke kanan setelah pasang sein dan spontan membuat Kiki tertegun, mobil ini belok ke sebuah rumah ke rumah makan! warung ayam goreng terkenal seantero kota, untuk apa cowok rese ini membelokkan mobilnya ke sini?
"Loh, Mas ngapain ke sini?" protes Kiki ketika mobil itu berhenti setelah beres parkir.
Lelaki itu menoleh tersenyum sambil melepas seat belt, dia membuka pintu mobil sebelum beranjak turun dia menoleh dan menatap Kiki dengan seksama.
__ADS_1
"Turun kau, kita makan dulu!"
########
Diandra mengerjap, dia tidak merasakan tubuh sang suami ada di dekatnya, hal yang sontak membuat Diandra membuka matanya dan terkejut ketika mendapati hari sudah terang benderang.
"Astaga jam berapa?" Diandra memekik, dia melirik jam dan sontak menepuk dahinya ketika tahu sudah jam berapa sekarang.
Pukul setengah sepuluh, dan Diandra baru bangun. Untung dia tidak tinggal bersama mertua kalau iya? bisa habis Diandra diceramahi karena jam segini baru bangun.
Diandra memunguti bajunya yang berserakan di atas ranjang, hendak melangkah ke kamar mandi ketika mendapati ada nampan dengan secangkir teh, sepiring toast bread, dan secarik kertas ada di atas nakas.
Diandra tertegun, dia meraih secarik kertas itu, sebuah tulisan khas Dokter terukir di sana, cukup rapi sih, hanya saja ceker ayamnya tidak ketinggalan dan Diandra tahu betul itu tulisan tangan suaminya.
"Maaf aku nggak bangunin kamu sayang, kamu nyenyak banget, Mbok sudah balik nanti kalau perlu apa-apa bilang aja yah? kunci mobil aku bawa, mobil mu masih di RS kan? nanti pakai mobil Mas kalau mau ke mana-mana,"
Diandra tersenyum membaca tulisan tangan itu, niat sekali Gavin menyempatkan diri menulis pesan itu, terlebih tulisan di bagian paling bawah membuat senyum Diandra makin lebar merekah.
'Dari yang mencintaimu : suamimu'
Tawa Diandra pecah. Astaga jadul sekali suaminya ini, kan bisa kirim pesan via chat, voice note kek atau apa? kenapa Gavin lebih memilih menulis pesan? tapi bukankah itu manis sekali?
Diandra kembali menyesap teh nya, ketika ponselnya berdering, ada pesan masuk yang membuat tangan Diandra terulur, meraih ponsel itu, siapa yang mengirim pesan? apakah Gavin atau...
Diandra mencebik ketika mendapati Kiki sepagi ini sudah mengirimkan pesan padanya, ada apa lagi dengan teman satu gengnya itu?
( Dian sibuk? beberapa jam lagi mau nelpon, aku baru ketiban sial )
Alis Diandra berkerut, ketiban sial apa memangnya si Kiki ini? di usir Ibu kos? kecopetan? atau apa lagi?
Diandra buru-buru hendak membalas pesan itu, namun panggilan itu lebih dulu menyita atensi Diandra, membuat Diandra lebih mengutamakan mengangkat panggilan dari suamiku tercintanya daripada membalas pesan Kiki.
"Halo mas!" sapa Diandra dengan riang.
"Udah bangun? udah baca pesan yang Mas tinggal di nampan?" tanya suara itu dengan sangat lembut dan manis.
Wajah Diandra lantas memerah, dia tersenyum kembali bersandar di headbet dengan ponsel menempel di telinga.
__ADS_1
"Sudah... makasih banyak sayang!" bisik Diandra lirih.
"Di kampus atau udah di RS?" sebuah pertanyaan yang sebenarnya tidak perlu Gavin jawab karena biasanya jam segini Gavin sedang berdiri dengan gagah dan serius di depan kelas.
Tapi tidak menutup kemungkinan juga Gavin sudah di RS, ada cito mungkin, tidak ada yang tahu bukan?
"Ini masih di kampus! kamu udah mandi?" tanya Gavin.
Diandra tertawa kecil.
"Belum, mau dimandiin Mas," jawabnya setengah menggoda.
Terdengar helaan nafas panjang dari seberang, hal yang membuat tawa Diandra makin keras, dia sudah bisa membayangkan bagaimana masam wajah Gavin saat ini.
"Kalau jauh sukanya nantang, kalau pas di rumah mau diajak mandi bareng aja teriak-teriak protes, dasar!" omel suara itu dengan nada kesal.
Tawa Diandra kembali pecah.
"Biarin, abis kalau beneran nyuruh Mas mandiin ujungnya nggak bakalan jadi mandi," ucap Diandra.
Kembali Gavin terdengar mendengus.
"Tetap mandi, kamu bakalan tetap jadi mandi sayang, tapi ya setelah kita..."
"Mesum," potong Diandra cepat.
"Kalau masalah ginian aja semangat banget," bibir Diandra mengerucut.
"Dasar laki-laki!" ucap Diandra lagi.
"Normal, itu semua karena suamimu ini masih normal sayang," kilah Gavin yang kini tertawa terbahak-bahak.
Bibir Diandra mengerucut, dia baru saja hendak menjawab ketika ketukan pintu kamar itu mengejutkan Diandra.
"Non, Ibu datang, Non,"
Diandra kontan melotot, jangankan mandi pakai baju saja belum dan tiba-tiba mertuanya datang? celaka dua belas.
__ADS_1
"Mas, ibu datang, Mas"