
"Hai," ucap Diandra.
Kiki mencebik, ketika mendapati Diandra sudah muncul di depan pintu kamar kosnya, di tangan Diandra ada beberapa plastik salah satunya dengan logo donat favorit orang se-indonesia hal yang membuat Kiki lantas membuka pintu lebar-lebar sambil nyengir.
"Astaga, Kiki itu tangan sampai kayak gitu?" teriak Diandra terkejut mendapati bekas parut panjang di tangan Kiki.
Kiki menghela nafas panjang menarik Diandra masuk dan menutup pintu rapat-rapat.
"Iya, gila nggak tuh Dokter somplak? ini entar biaya buat ngilangin bekas luka sama bayar rumah sakitnya tadi mahalan buat ngilangin bekasnya, Dian" gerutu Kiki sambil menatap tangan kirinya.
"Kamu simpan nomor Dokter itu? minta tanggung jawab lah suruh bawa ke klinik kecantikan kalau gitu, laser kek atau apa kek," Diandra langsung duduk di karpet bulu milik Kiki meletakkan plastik-plastik yang dia bawa.
Ada donat, dua cup boba dan jangan lupa ada takoyaki juga, komplit untuk menemani mereka ghibah siang ini, Kiki yang tadi nampak manyun pun berubah cerah wajahnya, dia segera hendak mencoba donat kalau saja Diandra tidak memukuli tangan Kiki keras-keras.
"Heh! cuci tangan dulu," ucap Diandra galak, bagaimana bisa seorang calon Dokter lupa hal paling mendasar dalam gaya hidup sehat ini.
Kontan gadis itu nyengir lebar, bangkit dan melangkah ke kamar mandi dengan penuh semangat, Diandra lantas menggelengkan kepala, kapan sahabatnya itu bisa sedikit waras? agaknya bukan hanya Dokter misterius pelaku penabrak Kiki yang agak kurang waras, Kiki pun sama.
Keluar dari kamar mandi Kiki kembali menjatuhkan bokong di depan kotak donat itu mencomot donat dengan glaze coklat bertabur meses.
"Duh perhatian banget sih, tau aja stock cemilan udah tandas," mulut Kiki sudah penuh dengan donat sementara Diandra ikut mencomot donat.
Pilihan Diandra jatuh pada donat dengan glaze coklat dengan chocoball. Itu favoritnya sejak dulu mereka nampak asik mengunyah donat keheningan pecah ketika rasa kepo Diandra kembali menjadi-jadi.
"Emang tadi kronologi kejadiannya gimana Ki? kau mau ke mana sampai-sampai ketubruk? meleng?" Diandra menelan donatnya dengan susah payah, matanya memperhatikan beberapa bagian tubuh Kiki yang lain, ada beberapa memar dan lecet.
Kiki meraih satu cup boba, menusuk sedotan dan meneguk isinya, beberapa saat dia meletakkan boba itu lalu menatap Diandra yang nampak menantikan jawaban dari dirinya.
"Intinya aku memang buru-buru, Dian. Tapi aku nggak meleng tiba-tiba ada hantaman keras dan aku keseret sama motor, terus nggak ingat apa-apa lagi," jelas Kiki dengan wajah serius.
"Nah terus kebangun udah di IGD sama si Dokter somplak itu, Dian" ucap Kiki lagi.
Diandra mengangguk, dia kembali menggigit donat, menyimak Kiki yang nampak tidak berbohong, jadi begitu kronologinya?
"Terus?" Diandra tentu masih penasaran, dia akan mengorek semua informasi sampai rasa penasarannya terbayarkan.
"Ya udah dari aku bangun pingsan sampai diantar ambil motor ke kantor polisi, kita ribut terus, Dian" jelas Kiki yang nampak meletup-letup.
"Aku bilang masih kuliah ke dia semester akhir jurusan seni tari, bisa mampus kalau ngaku udah Sarjana Kedokteran, dia pasti makin menjadi bully nya, Dian" jelas Kiki masih begitu emosi.
Diandra menelan donat terakhir di tangan, menjentikkan jari ketika donat itu sudah berpindah ke mulut.
"Jodoh," gumam Diandra begitu santai yang kontan membuat Kiki mencak-mencak.
__ADS_1
"Apaan sih dari tadi jodoh terus, ogah aku dapat suami macam dia, Dian" teriak Kiki heboh, bibirnya monyong, wajahnya cemberut macam bebek ketinggalan barisan membuat Diandra terbahak seketika.
"Aku dulu juga ogah banget kalau harus nikah sama Mas Gavin, sekarang bucin setengah mati," ucap Diandra jujur.
Kiki mencebik.
"Kamu sih! aku kan udah bilang kalian serasi dan berjodoh," ucap Kiki.
"Kamu sih!" teriak Diandra spontan yang mampu membuat Kiki terkejut setengah mati.
"Aku bilang kalian juga jodoh, percaya deh!" ucap Diandra lagi.
Kiki menepuk jidatnya.
"Bagaimana bisa orang yang baru sekali ketemu terus tiba-tiba kamu bilang jodoh? aku nggak tahu siapa namanya, dinas di RS mana? alamat mana dan lulusan Universitas mana? terus kenapa kamu bisa menilai dan bilang kalau aku ini jodoh sama dia? heh?" ucap Kiki.
Diandra meraih satu cup boba yang tersisa, meneguk isinya hingga tinggal separuh, pandangannya kembali fokus ke arah Kiki yang masih kembang kempis menahan kesal.
"Jodoh itu unik, Ki. Percaya deh," ujar Diandra yang merasa sudah mengalami sendiri hal tersebut.
"Pret!" balas Kiki dengan bibir mengerucut.
"Udah gini aja, kita taruhan," Diandra menggebrak lantai, menekankan bahwa dia serius dengan ucapannya.
"Taruhan? taruhan apa, Dian?" tanya Kiki.
"Taruhan! kalau sampai kalian jodoh dan sampai nikah beneran, aku bakalan setuju buat punya lima anak kayak yang diminta Mas Gavin," ucap Diandra.
Kiki melongo.
"Kalau semisal enggak?" tanya Kiki.
"Ya kamu yang harus punya lima anak, gimana?" ucap Diandra.
"Apa punya lima anak?" pekikan itu terdengar begitu nyaring.
"Nggak sekalian enam aja biar pas setengah lusin?"
#########
"Padahal nih ya, Ki. Anu-anu itu enak banget serius," ucap Diandra.
Kiki hampir tersedak boba, dia menimpuk punggung Diandra dengan gemas.
__ADS_1
"Dulu aja nangis-nangis mau pindah ke kamar hotel aku, pas di pepet Dokter Gavin terus, eh sekarang?" Kiki memutar bola mata dengan gemas.
Tawa Diandra pecah, dia terbahak-bahak dengan wajah memerah, memang sih dulu dia begitu takut tetapi setelah merasakan sendiri nikmat itu...
"Alahh! besok kamu juga begini paling" ujar Diandra membela diri.
"Pokoknya pas ******* itu, Ki rasanya tuh kayak badan kamu di bawa terbang tinggi banget terus meledak di udara, disusul rasa anget, lemas dan pokoknya itu...
"Mesum! sana balik, kelon sana dah kelon biar melayang terus meledak di udara," wajah Kiki merah padam, membuat keinginan Diandra menggoda sahabatnya itu makin menjadi-jadi.
"Eh serius! enak banget pokoknya Ki, ya walaupun nih pas pertama masuk itu sakit dan perih," Diandra dengan begitu semangat memberi testimoni.
"Apalagi pas itu kepala nembus hymen, Ki. Rasanya tuh kayak di..."
"Please udah, Dian. Nggak usah diceritain deh," Kiki makin keki.
"Loh dulu minta diceritain kenapa sekarang jadi nolak?" Diandra belum puas sekalian balas dendam pada Kiki yang mengoloknya ketika dia harus menikah dengan Gavin dulu.
"Udah nggak minat," jawab Kiki ketus.
Diandra terkekeh, pokoknya dia belum puas.
"Bayangin Ki, kamu sama dia nih polosan saling peluk, saling..."
"Diandra," kembali Kiki berteriak sambil mengacak rambutnya.
"Videonya masih ada ya di ponsel ku, jadi nggak usah kamu ceritain nanti aku nonton sendiri," ucap Kiki.
Tawa Diandra makin keras.
"Kau nonton sambil bayangin kalian nganu, awas pikir macam-macam" ucap Diandra.
PLAKKK
Tangan Kiki terayun menimpuki lengan Diandra dengan gemas, sementara tawa Diandra kembali pecah dia menangkis tangan Kiki lalu meraih tasnya dan bangkit.
"Heh? mau ke mana?" teriak Kiki yang belum puas menganiaya Diandra.
"Mau balik lah, mau ngangkangin lakik, apa pengen? makanya cepat nikah," ejek Diandra sambil menjulurkan lidah.
"Cari si Dokter somplak tadi, ajak nikah, aku tunggu hari istimewanya!"
Kiki ikut bangkit dan hendak menimpuk istri dosennya itu, sayang Diandra lebih gesit, dia berlari menghindari serangan itu, terbahak sambil menjulurkan lidah ke arah Kiki.
__ADS_1
"DIANDRAAAAAA!!!!"