Musuhku Suamiku

Musuhku Suamiku
Kenapa sehoror ini sih?


__ADS_3

Diandra buru-buru menutup pintu tanpa menjawab pertanyaan bujang lapuk yang sudah tidak lagi bujang karena kini sudah sah menjadi suaminya, jantung Diandra berdegup dua kali lebih cepat, kenapa malam ini horor sekali sih?


Hampir saja jantung Diandra copot ketika Gavin memepetnya ditembok tadi, dia kira akan hilang keperawanannya dalam sekejap malam ini rupanya lelaki menyebalkan itu masih teguh pada janjinya,, Diandra buru-buru mengambil baju ganti, satu stel piyama lengan panjang menjadi pilihan Diandra untuk dipakai.


Dia sengaja beli satu lusin piyama lengan panjang dengan ukuran lebih besar supaya tidak memancing lelaki itu untuk bertindak yang tidak-tidak sampai kemudian mem...


"Jangan...jangan" Diandra menggelengkan kepalanya, sungguh dia begitu takut.


Diandra menatap bayangan dirinya di cermin, piyama ini membuatnya macam orang-orangan sawah, namun tidak apa daripada nanti dia diperkosa bujang lapuk itu, lebih baik cari aman bukan?


Setelah semuanya beres Diandra menutup kopernya dan melangkah menuju pintu, kenapa dia jadi begitu takut, apa yang akan terjadi nantinya? apakah... Diandra menggeleng, menghirup udara banyak-banyak lalu menekan knop pintu kamar mandi.


Nampak Gavin tengah melepaskan kancing kemejanya, wajah itu terangkat, sekilas menatap Diandra lalu kembali fokus pada kancing-kancing baju miliknya.

__ADS_1


"Gantian saya juga mau mandi," ucap Gavin lalu melepas kemeja itu di depan Diandra tanpa malu-malu, hal yang membuat Diandra melongo di tempatnya berdiri.


Kurang ajar!


Kenapa bagus sekali badan lelaki itu? Diandra yakin Gavin member tetap sebuah tempat kebugaran! kalau tidak mana mungkin dia bisa punya otot dan tubuh seindah itu? pegang scalpel selama berjam-jam tidak mungkin bisa menumbuhkan dan membentuk masa otot sampai seperti itu kan? kalau bisa tentu semua surgeon dipastikan punya tubuh yang sama indahnya dengan tubuh Gavin.


"Ngapain sih liatin saya sampai kayak gitu? orang saya lihat punya kamu aja nggak boleh, hati-hati nafsu entar kamu sama saya," ucap Gavin.


"Ihhh PD, cuma mbatin aja, body kesukaan om-om di tempat gym tuh, hati-hati entar ditraktir sama om-om," balas Diandra tidak mau kalah.


Mata lelaki itu membelalak, sementara Diandra dengan cuek meletakkan kopernya di dekat ranjang, dia baru hendak naik ke atas ranjang ketika Gavin kembali menarik dan menghimpitnya di tembok dekat nakas.


"Yakin cuma om-om aja ACDC yang suka, Dian? kamu nggak?" kembali wajah itu begitu dekat, membuat Diandra sampai sesak nafas.

__ADS_1


Dengan susah payah Diandra menelan ludah, bukan apa-apa tapi kini tubuh itu bahkan menempel dengan tubuhnya, sebuah hal yang membuat tubuh Diandra memanas dan bergetar hebat, kenapa lidahnya mendadak kelu?


"Kamu yakin nggak suka? coba bilang?" bisik suara itu,, suara yang membuat sekujur tubuh Diandra meremang.


"Dok... Dok jangan Dok," Diandra memalingkan wajah sambil memejamkan mata, dia sangat takut! jantungnya berdegup dua kali lebih cepat.


"Untung kita sudah buat perjanjian, Dian. Kalau tidak sudah saya pastikan kamu tidak akan bisa tidur malam ini," kembali Gavin berbisik begitu dekat di telinga Diandra, sampai hembusan napas lelaki itu menyapa leher Diandra, membuat tubuh Diandra kembali meremang.


Diandra hendak kembali mendorong tubuh itu ketika Gavin lebih dulu menyingkir dan melangkah masuk ke dalam kamar mandi dengan begitu santai.


Diandra jatuh terduduk di lantai, tubuhnya lemas, matanya merah dan air matanya menitik, kenapa se horor ini sih? Diandra tidak sanggup.


"Ma, Dian takut Ma," ucap Diandra.

__ADS_1


__ADS_2