
"Udah semua kan sayang?"
Bisikan itu begitu lembut, sebuah bisikan yang membuat Diandra lantas membenarkan bahwa apa yang dikatakan Kiki mengenai sisi lain Gavin memang ada benarnya.
Kini selain sisi menyebalkan yang Diandra lihat pada Gavin selama dia menjadi mahasiswi Gavin, Diandra bisa melihat sisi lain itu dan menyadari bahwa setiap orang pasti punya sisi tersembunyi yang mampu membuat orang tercengang ketika mengetahuinya dan suaminya memiliki hal itu.
Gavin melingkarkan tangan di perut Diandra, menyandarkan kepala di bahu sang istri yang baru saja beres menutup dua koper mereka, tangan Diandra memeluk tangan yang melingkar di perutnya tersenyum melirik wajah yang nampak nyaman bersandar di bahu, tidak ada yang mengira mahasiswi dan dosen yang sering berseteru bisa semanis ini bukan?
"Udah semua kok, beres!" balas Diandra yang kini tahu parfum apa yang menguatkan aroma perpaduan lavender, lemon dan jeruk yang begitu dia sukai, jangankan merek parfum, ukuran yang lain-lain pun kini Diandra tahu.
"Siap balik kan? nggak kuat aku lama-lama di sini," Gavin melepaskan pelukannya mengambil dua koper itu dan menurunkan koper itu dari atas ranjang.
Tawa Diandra pecah mengingat hal-hal absurd apa saja yang sudah dia dan Gavin alami selama mereka di rumah ini, mulai dari gagalnya Gavin menembus Diandra padahal posisi dan jarak yang sudah tinggal di depan mata, sampai bagaimana mereka kepergok tengah saling berciuman begitu mesra oleh ibu mertua, hal absurd apalagi yang bisa mereka alami kalau mereka lebih lama di sini?
"Padahal di rumah sendiri ya Mas," goda Diandra sambil terkekeh, dia kembali duduk di tepi ranjang sementara Gavin membawa dua koper itu ke depan pintu.
"Rumah sendiri sih rumah sendiri, Dian. Tapi tahu kan dari kemarin ada aja gangguannya, bikin sakit kepala berkepanjangan, nggak sanggup aku lama-lama kalau begini," gerutu Gavin dengan wajah masam.
Kembali tawa Diandra pecah, bukan salah Diandra kalau mereka gagal sampai berkali-kali kan? bukan Diandra yang bikin. Gavin mendesah melirik sang istri yang tengah tertawa terbahak-bahak itu dia membuka pintu kamar melangkah keluar meninggalkan Diandra di kamar.
Baru saja Gavin hendak turun, ketika suara itu mengejutkan dan menghentikan langkah Gavin.
"Vin, tunggu bentar Vin,"
__ADS_1
Gavin memutar bola matanya dengan gemas apalagi sih ini? dia membalikkan badan menatap Kakak nomor tiganya yang nampak tengah tergesa mendekati dirinya.
"Apaan sih Mas?" Gavin menatap Irham yang sejak tadi cengar-cengir itu, pasti ada sesuatu hal gila yang hendak kakaknya ini lakukan.
"Lupa kemarin Vin ini buat kamu menempuh kehidupan baru yah," ucap Irham.
Irham menjejalkan kotak warna merah dengan pita gold itu, kening Gavin berkerut, bukan apa-apa hanya saja kemarin dia sudah dapat amplop tebal dari Irham sebagai angpao pernikahan, lantas kenapa dia masih memberinya hadiah?
"Loh double nih?" tentu itu yang Gavin tanyakan, jujur Gavin curiga.
Irham mencebik, menepuk pundak sang adik dengan bibir mengerucut.
"Kau ini dikasih bilang terima kasih kenapa sih Vin?" ucap Irham.
"Iya deh iya! makasih banyak yah Mas," Gavin tersenyum tulus, menggenggam kotak pemberian Irham sambil kembali menepuk punggung kakaknya.
"Bukanya di dalam kamar aja kalau aku boleh saran, Vin. Sama istri mu yah pas buka kadonya," bisik Irham sambil menaikkan alis, senyumnya nampak begitu ganjil membuat Gavin mencebik dan misuh-misuh dalam hati.
Pasti ada hal yang aneh dalam kotak ini, kadonya pasti sesuatu yang absurd, memalukan dan apapun itu yang jelas bukan hal yang lurus-lurus saja, Gavin jamin itu.
Gavin tidak melanjutkan niatnya untuk turun ke bawah, dia malah kembali masuk ke dalam kamar mendapati Diandra yang nampak terlentang dengan begitu santai sambil bermain ponsel.
"Apaan itu Mas?" Diandra sontak bangkit kotak itu terlihat jelas di matanya, tentu membuat Diandra bertanya-tanya, jangan bilang kalau itu dari Tati? bakalan Diandra buang tidak peduli apa isi kotak itu.
__ADS_1
"Dari Mas Irham nih, buka deh aku curiga," Gavin duduk di tepi ranjang menyodorkan kotak itu pada sang istri.
Alis Diandra berkerut, dari kakaknya sendiri kenapa Gavin malah curiga? memangnya benda apa yang kemungkinan ada di dalam kotak ini? Diandra tidak lagi bertanya-tanya segera menarik pita berwarna gold itu hingga terlepas, dia melirik Gavin sekilas, namun dengan wajah yang sama penasarannya.
Diandra menghirup udara banyak-banyak lalu dengan sekali angkat dia membuka tutup kotak itu, matanya terbelalak tawanya kontan pecah melihat apa isi kotak itu, sementara Gavin hanya mendesah panjang sambil mengusap wajah dengan tangan, tawanya ikut pecah mereka terbahak bersama.
Diandra menyodorkan balik kotak itu, sementara Gavin masih terbahak dengan wajah memerah.
"Mau nembus aja susah benar dikasih kayak ginian buat apa sih?" Gavin mengambil beberapa kotak berwarna hitam yang ada di dalam sana, tentu tanpa perlu dijelaskan Gavin tahu betul apa benda itu, apa fungsinya dan biasa digunakan untuk apa, Kakak nggak ada akhlak memang!
Tawa Diandra kembali pecah membuat Gavin lantas menghulurkan tangan guna mencubit pipi sang istri, membuat mereka tertawa terbahak-bahak bersamaan kenapa sekarang tiap momen bersama Diandra terasa begitu manis untuk Gavin? padahal dulu... agaknya memang beginilah perjalanan kisah mereka bukan? dari yang awal-awalnya ogah dan malas ketika bertemu jadi begitu manis dan romantis seperti ini, seharusnya mereka sejak awal percaya kata pepatah yang mengatakan bahwa kita tidak boleh terlalu membenci orang bisa jadi dia adalah jodoh kita, jadi orang yang lantas paling berkesan di hati kita, mereka akhirnya membuktikan semua itu bukan?
#######
"Kamu ngasih apaan sih tadi Irham?" Gio memburu langkah Irham, dia lihat sendiri adiknya menjejalkan sesuatu ke tangan Gavin tadi, pakai bisik-bisik pula, Kakak mana yang tidak kepo melihat dua adiknya nampak mencurigakan seperti tadi?
Irham sontak nyengir lebar, menarik bahu sang Kakak agar wajahnya mendekat.
"Sesuatu yang mungkin sangat diperlukan untuk pasangan baru macam mereka Mas," bisik Irham begitu lirih, nampak dia menahan tawa dengan wajah memerah.
Mata Gio membulat, dia sontak menepuk bahu adiknya keras-keras, tawa mereka pecah bersamaan membayangkan pasti adik bungsu mereka itu sedang misuh-misuh tak jelas efek hadiah apa yang tadi di berikan padanya.
Mereka berempat memang selalu begitu saling jahil satu sama lain, tetapi memang sejak dulu si bungsu Gavin yang selalu jadi korban kejahilan mereka bertiga dan tidak ada yang menyangka bukan, adik bungsu yang selalu mereka jahili kini sukses jadi seorang Dokter spesialis? masuk dalam jajaran dosen di sebuah universitas kenamaan, punya istri belia nan cantik dan seorang calon dokter juga.
__ADS_1
Apapun itu tidak akan mengurangi keinginan mereka untuk selalu berbuat jahil pada sang adik, siapa suruh jadi anak bungsu jadi terima nasib saja kan?