
Gavin menghentikan mobil di depan gerbang kos eksklusif tempat Kiki indekost. Nampak gadis yang dicari sang istri tengah berdiri di depan gerbang dengan seorang lelaki yang Gavin tahu betul siapa dia! Lelaki yang tempo lalu duduk dan meremas tangan istrinya di cafetaria rumah sakit. Lelaki yang tidak lain dan tidak bukan adalah sahabat kakak iparnya sendiri.
Nampak mereka ngobrol serius, membuat Gavin dan Diandra bisa kompak saling pandang.
"Mereka beneran pacaran?" Tentu harus Gavin pastikan itu. Bagi Gavin, Dokter umum itu adalah ancaman! Terlebih sudah jelas dia punya perasaan terhadap Diandra!
"Kayaknya sih gitu, Sayang, Mereka udah PP bareng terus." Gumam Diandra sambil tersenyum lebar.
"Baguslah!"
Diandra menoleh, alisnya berkerut.
"Bagus gimana, Mas?"
Gavin mencubit gemas pipi Diandra.
"Ya bagus dong! Itu artinya dia udah nggak ada lagi waktu buat gangguin kamu. Udah ada Kiki, kan?"
Tawa Diandra pecah, dia balas mencubit pipi suaminya dengan gemas. Lucu juga ya om-om kalau cemburu. Gavin meraih tangan Diandra, mencium tangan itu dengan begitu lembut.
"Jangan ketawa gitu ah! Mas serius nih takut banget kehilangan kamu, Sayang!"
Kembali mata mereka beradu, tawa Diandra sontak terhenti. Mereka saling pandang, hanyut dalam diam masing-masing hingga kemudian satu tangan Gavin terulur merapikan anak rambut Diandra yang berantakan.
"Setakut itu?" Diandra tersenyum penuh arti. Sorot mata Gavin begitu lembut, begitu memanjakan mata Diandra yang tidak mau berpaling dari mata teduh nan tajam milik Gavin.
Gavin mengangguk, meraih Diandra dalam pelukannya. Gavin memang begitu takut, sangat teramat takut. Kenangan akan sakit dan kecewa yang pernah hinggap dalam hidup Gavin kembali terngiang. Dia tidak ingin kembali kehilangan, apalagi Diandra... Gavin tidak akan biarkan Diandra pergi begitu saja dari hidupnya. Tidak akan pernah sampai kapanpun!
#######
"Besok aku jemput, oke?"
Jika biasanya nada bicara Derren begitu songong dan terdengar menyebalkan di telinga Kiki, maka kali ini semua begitu berbeda! Suara Derren begitu lembut dan manis. Ya... Telinga Kiki tidak sedang bermasalah, dan dia dengar jelas suara itu begitu manis.
Aku takut ngerepotin sebenarnya, Mas,"
Kiki tersenyum dengan kepala menunduk, tangannya memainkan ujung atasan scrub nya.
"Lah, emang kalau kamu bareng sama Diandra, itu nggak ngerepotin." Derren terkekeh.
__ADS_1
"Aku sama sekali nggak ngerasa direpotin, Ki."
Kiki mengangkat wajah, menatap Derren yang nampak tersenyum. Wajahnya kalau begini jadi terlihat makin ganteng! Kiki akui itu.
"Sekali lagi makasih banyak, Mas!"
Derren mengangguk, tangannya terulur mengelus puncak kepala Kiki.
"Aku balik, Ki. Kau istirahat. Besok aku jemput."
Kiki mengangguk pelan. Senyumnya merekah. Ditatap nya Derren yang melangkah menuju mobilnya. Kiki tidak memalingkan wajah sampai kemudian mobil itu lenyap dari depan matanya.
Kiki hendak membalikkan badan ketika tepukan itu mendarat di pundaknya.
"HEI!"
"ASTAGA YA ALLAH!" Kiki melotot ketika mendapati Diandra sudah muncul sambil nyengir lebar.
"DIANDRA!"
#########
Kiki menepuk jidatnya sambil menggeleng, bisa dia lihat Diandra begitu antusias dan berbinar bahagia. Bukan salah Diandra juga kalau dia sampai terlihat sebegitu antusias. Kiki sudah terlalu lama jomblo, ah... Bukan hanya Kiki, Diandra pun sama sebenarnya. Sejak semester satu mereka bisa kompak menjomblo meskipun sebenarnya Diandra ini banyak fans nya. Dan mendadak harus menikah dengan Dokter Gavin, adalah satu-satunya alasan yang membuat hanya Kiki yang kini menyandang gelar menyedihkan itu. Jomblo sejak masuk pre-klinik!
"Belum! Dia belum nembak, cuma ngomong kalau pengen kenal lebih deket aja" Kiki buru-buru mengklarifikasi, sebelum Diandra makin heboh dan koar-koar tak jelas di grub kelas mereka.
"Ah!" Nampak Diandra mendengus.
"Kenapa nggak jadian sekalian aja sih? Nanggung amat"
Kiki tertegun, dia lantas mencubit perut Diandra sampai gadis itu melonjak kaget. Heran Kiki ini. Kenapa jadi Diandra yang ngatur sih?
"Ya bagus gini dulu lah. Daripada nanti pacaran ujungnya putus? Bikin nambah panjang daftar mantan aja!" Desis Kiki sambil mengunyah kuaci
"Hilih." Bibir Diandra mengerucut.
"Emang kau punya berapa banyak mantan?" Diandra ikut mengupas kuaci itu. Beda dengan Kiki yang langsung melahap kuaci yang dia kupas, Diandra lebih memilih mengumpulkan kuaci itu di atas selembar tisu.
Kiki hanya nyengir, membuat Diandra makin mengerucutkan bibirnya.
__ADS_1
"Lagipula kan, tujuan aku yang utama mau bidik abang residen, Dian." Kiki tentu tidak lupa dengan salah satu cita-cita mulianya ini. Siapa yang tidak mau jadi istri Dokter spesialis?
Diandra mendesah, memutar bola matanya dengan gemas. Sementara Kiki kembali serius mengupas dan mengunyah kuaci dalam mulut.
"Terserah!" Diandra sudah malas membahas hal itu. Dari dulu yang Kiki bahas abang residen mulu. Apakah tidak ada topik pembahasan yang lain?
"Eh, Dian!" Kiki setengah berteriak, dia seperti teringat sesuatu.
"Kau sudah tau dermatolog baru rumah sakit kita belum?" Nampak wajah Kiki begitu bersemangat, macam begitu bahagia mendapat topik baru untuk mereka ghibah.
Tampak Diandra berpikir keras, alisnya berkerut kemudian disusul dengan gelengan kepala dengan mantab.
"Belum. Aku belum tahu. Kenapa memangnya?" Diandra nampak cuek, kini dia mulai memasukkan biji kuaci yang tadi dia kupas dan kumpulkan.
"Duh, Dian! Sumpah cantik banget kayak boneka hidup!" Jelas Kiki dengan mata berbinar.
"Kulitnya putih bersih, hidungnya mancung, bibir tipis merona... Pokoknya geulis pisan, Dian!"
Diandra melongo, sejak kapan Kiki suka memuji orang lain, terlebih sesama jenis dengan begitu bersemangat macam ini? Kiki tidak berubah orientasi seksualnya, kan? Atau kalau tidak, ini artinya Dokter itu memang begitu cantik sampai Kiko memujinya seperti itu.
Diandra jadi penasaran, siapa Dokter itu? Secantik apa?
"Kamu ketemu dia di mana?" Itu yang Diandra pertanyakan. Mereka di stase anak sekarang, bukan stase kukel.
"Tadi di koridor utama. Nggak sengaja tabrakan sama dia yang lagi cari ruangan Dokter Sarah." Jelas Kiki lagi.
Diandra mengangguk. Tidak biasanya dia begitu penasaran macam ini. Dia benar-benar ingin tahu secantik apa Dokter kulit itu sampai Kiki memujinya dengan luar biasa? Dan entah mengapa, kenapa mendadak hati Diandra jadi risau dan gelisah? Dia kenapa?
"Eh, Dian!" Kiki yang bangkit itu nampak berteriak di depan jendela kamar kos nya. Wajahnya nampak terkejut.
"Apaan sih?" Diandra fokus pada biji kuacinya.
"Kenapa lagi?"
"Suamimu dari tadi nggak pulang ternyata? Nungguin kamu di depan kos?" Kiki setengah berteriak, hal yang langsung membuat Diandra melonjak dan bangkit dari duduknya.
"Ah yang bener? Tadi dia bilangnya cuma mau an..." Diandra tercekat, Kiki benar! Mobil Gavin bahkan belum bergeser dari tempatnya. Jadi sejak tadi Gavin...
"Sumpah, Dian! Aku mau yang model kayak Dokter Gavin begitu, please!"
__ADS_1