
Kiki segera meraih ponsel yang meraung-raung di atas kasur begitu dia keluar dari kamar mandi.
"Siapa sih ini ribut banget sepagi ini udah telepon?" Kiki saja baru saja selesai mandi. Masih basah oleh air dan hanya terbungkus handuk!
Nomor itu tidak dikenal, belum dia save di kontak ponsel. Membuat Kiki was-was kalau dia harus on call sepagi ini! Dengan segera Kiki mengangkat panggilan itu, besar harapan Kiki ini bukan on call!
"Ha-halo?"
"Aku di bawah, cepat turun!"
Alis Kiki berkerut mendengar suara itu. Suara itu seperti .....
"Mas Derren?" Desis Kiki lirih mencoba memastikan.
"Iya ini aku! Turun, kita sama-sama berangkat ke RS nya!" Perintah lelaki itu seenaknya.
Kiki sontak membelalak, kampret sekali lelaki ini? Main asal jemput dan paksa begini? Astaga, kenapa bukannya tersanjung dengan sikap manis Derren, Kiki malah jadi kesal dibuatnya!
"Kenapa nggak kasih kabar dulu sih, Mas? Main nongol aja!" Omel Kiki kesal, dia segera melangkah ke depan meja rias. Dia belum skincare-an!
"Takut kamu nolak aku jemput." suara itu sangat santai sekali.
"Dah lah, cepetan keburu telat!"
"Tapi aku baru selesai mandi, Mas! Ini aja asih lilitan handuk! Kalau mau ya sabar sebentar!" Omel Kiki gemas, apakah tujuan hidup lelaki itu hanya untuk membuat Kiki uring-uringan macam ini?
"Ya pokoknya aku tunggu!"
Tut!
Kiki melotot, dia buru-buru memakai urutan skincare-nya. Agak terburu-buru memang, mau bagaimana lagi? Kampret itu sudah menunggu di bawah. Kalau Kiki sedikit lama, bisa-bisa ngomel lagi lelaki menyebalkan itu. Lagipula kenapa sih. pakai mau jemput Kiki di kost? Untuk apa?
Atasan scrub itu sudah menempel di tubuh Kiki, ketika kemudian dia melotot teringat sesuatu. Dia belum menghubungi Diandra! Bisa gawat kalau Diandra sampai di sini dan Kiki sudah lebih dulu pergi bersama Derren!
Kiki kini meraih ponsel, menghubungi Diandra supaya tidak menjemputnya hari ini sambil menunggu panggilannya terjawab, Kiki mematut dirinya di depan cermin. Semua sudah oke. Liptint warna pink muda itu sudah terpoles sempurna di bibirnya. Rambutnya kurang disisir saja sih, nantilah kalau selesai menelepon Diandra, akan dia sisir rambut panjangnya ini.
"Halo, aku masih di rumah, Ki. Habis ini ote..."
"Nggak usah, Dian!" Potong Kiki cepat.
__ADS_1
"Hari ini aku nggak usah dijemput."
"Loh, kenapa?" suara itu terdengar protes.
"Ini ada yang dadakan jemput, besok aja deh kamu jemputnya, ya?" Kiki melirik arloji nya, pasti kampret itu bakalan mengomel!
"Eh? Siapa?" Suara Diandra nampak menyelidik
"Nanti deh aku cerita, oke? Dah dulu ya, udah ditunggu!"
Tut!
Tanpa menunggu jawaban Diandra, Kiki segera memutus sambungan telepon. Meraih sisir dan menyisir rambut yang masih nampak berantakan itu. Setelah semuanya rapi, Kiki menyambar tas dan ponsel, setengah berlari keluar dari kamar kos nya dan sedikit terburu-buru menuruni tangga begitu selesai mengunci pintu.
Benar saja!
Mobil itu sudah nangkring di depan gerbang kos Kiki. Membuat jantung Kiki mendadak berdebar-debar tidak karuan. Kenapa jadi begini sih? Kiki melirik cermin besar yang ada di sudut ruangan. Dia sudah rapi, kan? Setelah yakin penampilannya rapi, Kiki melangkah menghampiri mobil itu. Membuka pintu dan segera masuk ke dalam.
"Lama kali sih, Ki? Kau mau koas apa mau kondangan? Dandan satu jam sendiri!"Omel Derren ketika Kiki sudah set duduk di jok depan.
Kiki membelalak. Selalu begini tiap mereka bertemu!
"Heh! Yang nyuruh Mas jemput juga siapa? Mana dadakan lagi! jangan salahin aku kalo lama orang tadi juga baru beres mandi!" Balas Kiki dengan bibir mengerucut.
"Gimana mau terima kasih? Yang jemput nggak ikhlas, ngomel mulu!" Gerutu Kiki dengan wajah bersungut-sungut.
Derren mendesah panjang.
"Ki, kalau nggak ikhlas, tiga puluh menit ku tunggu kau dan kau belum turun tadi. udah bakalan aku tinggal, Ki!"
"Ya udah nggak usah ngomel kalau ikhlas dan udah niat jemput, bikin males!" Kiki masih menggerutu. Memalingkan wajah dengan hati dongkol.
Kembali helaan napas panjang keluar, membuat Kiki melirik lelaki itu sekilas.
"Aku jemput tiap hari. boleh?"
Kiki tersentak, menoleh dan menatap nanar ke arah Derren yang nampak begitu tenang di balik kemudinya, Lelaki ini tadi bilang apa? Mau menjemputnya tiap hari? Yang benar saja! Baru jemput sehari saja ngomel sambil ditekuk wajahnya, apa lagi tiap pagi? Gila aja, bisa hipertensi Kiki nanti!
"Hah? Gimana, Mas?" Kiki tentu perlu memastikan bahwa apa yang dia dengar tadi bukanlah sebuah kesalahan.
__ADS_1
Derren menoleh, menatap Kiki yang memasang wajah terkejut luar biasa. Kembali dia menghela napas panjang, mengusap wajahnya dengan satu tangan.
"Aku jemput tiap pagi, ya? Mau, kan?"
###########
"Mas nebeng, ya?"
Gavin yang tengah menyisir rambutnya, ketika tiba-tiba Diandra memeluknya dari belakang. Suara dan tingkah manja Diandra benar-benar menggemaskan sekali. Membuat Gavin rasanya ingin...
Ah tidak!
Ini sudah mepet dan tidak ada waktu lagi untuk sekedar merebahkan dan membuat istri mungilnya ini mendesah tidak karuan karena ulahnya.
"Nggak sama Kiki, Sayang?" Gavin meletakkan sisir, meraih tangan Diandra dan mengelus lembut tangan yang melingkar di perutnya itu.
"Kiki dijemput pacarnya. Jadi ya aku berangkat sama suamiku aja lah!" Desis Diandra manja, satu tangannya turun ke bawah, hendak menyelinap masuk ketika tangan Gavin lebih dulu mencekal tangan itu masuk dan membangunkan 'singa kejantanannya' di dalam sana.
"Istriku sayang, please! Jadwal operasi suamimu hari ini penuh, jadi tolong jangan membuat pusing aku sepagi ini, oke?" Gavin tersenyum masam, menatap pantulan mereka di cermin. Kenapa mereka jadi terlihat macam kakak adik begini sih? Apalagi postur Gavin yang menjulang tinggi dan Diandra yang kecil mungil, terlihat sangat kontras sekali.
"Cuma mau pegang aja pelit amat!"
Diandra melepaskan pelukan, mencebik dan kembali menjatuhkan diri di tepi ranjang.
Gavin mengusap wajahnya dengan tangan, dia menoleh menatap wajah cemberut itu dengan senyum masam.
"Boleh pegang, Sayang. Tapi lihat sikon, dong" Kenapa harus pagi ini? Kenapa tidak kemarin saat Gavin minta nambah. Dasar Diandra ini memang bikin gemas.
"Pengennya sekarang!" Diandra mencebik membuat Gavin mengacak gemas rambut istrinya yang masih cemberut dengan wajah masam.
Gavin mendesah.
"Kenapa sekarang sih? Kemarin ngapain?" Gavin terkekeh, menggemaskan sekali istrinya ini.
"Aaa kemarin udah capek, Mas!" Diandra mencebik, membuat Gavin pusing tujuh keliling.
"Dah ayo berangkat aja kalau gitu!" Gavin menarik istrinya, namun Diandra bergeming, membuat mata Gavin membulat penuh.
"Terus mau ngapain, Sayang?"
__ADS_1
"Itu!"
Gavin membelalak, istrinya ini baik-baik saja, bukan? Atau habis sarapan apa dia ini? Mendadak Gavin tidak mengerti. Sekarang dia harus apa?