
Gavin dan Darmawan sudah kembali turun, mereka duduk di salah satu kedai kopi yang ada di sepanjang jalan, sudah pukul dua siang sekarang dan hari ini hari terakhir Gavin libur, Astaga besok pagi juga dia sudah harus kembali mengajar, masuk OK dan lain sebagainya tapi tidak masalah demi Diandra bukan?
"Vin, kamu nggak usah antar Papa ke bandara,, sudah datang travel, kamu pulang dan istirahat saja," ucap Darmawan.
Memang sejak obrolan serius mereka di puncak setinggi 3265 mdpl itu, Darmawan menolak dipanggil Prof oleh Gavin, dia meminta Gavin memanggilnya dengan panggilan Papa membuat Gavin benar-benar tersanjung dan merasa tersentuh oleh hal kecil yang Darmawan minta padanya.
"Tapi Pa, mobil Gavin masih di bandara juga," Gavin tertawa kecil, dua tangannya menggenggam cangkir berisi kopi hangat.
"Oh begitu, baiklah kalau gitu ikut Papa sampai bandara," Darmawan ikut tertawa, nampak lelaki paruh baya itu begitu menikmati secangkir kopi miliknya, ditemani dengan hawa sejuk dan dingin di sekitar.
Gavin hanya menganggukan kepala, menyesap isi cangkirnya sambil menatap sekeliling, dia seperti melupakan sesuatu tapi apa? Gavin sedang mencoba mengingat-ingat apa yang dia lupakan ketika Darmawan kembali bersuara.
"Nggak cek ponsel Vin? siapa tahu ada yang penting," ucap Darmawan.
Itu dia Gavin melupakan ponselnya, benda yang sama sekali tidak bisa dilepaskan kecuali ketika dia tengah berperang dalam OK, sudah berapa hari sih dia tidak memegang benda itu? dua hari menghabiskan waktu bersama Darmawan menjelajahi Lawu membuat Gavin benar-benar bisa terbebas dari kesehariannya.
"Ah iya, izin buka ponsel sebentar Pa," Gavin segera membuka tas mengambil weistbag tempat dimana ponsel itu dia taruh.
Gavin melongo ketika notifikasi demi notifikasi itu masuk ke dalam ponsel miliknya, notifikasi yang membuat bukan hanya Gavin tetapi Darmawan juga tercengang menatap benda yang berkedip-kedip di atas meja.
"Gila Vin, banyak amat? itu bukan dari rumah sakit kan Vin?" tentu itu yang Darmawan takutkan, tapi bukankah Gavin sudah meminta izin?
"Entah Pa, biar masuk dulu semua notifnya, semoga saja tidak," Gavin menghela nafas panjang menunggu notifikasi itu berhenti dan dia bisa cek siapa saja yang mengirimkan pesan padanya selama dia naik kemarin.
Grup rumah sakit? agaknya tidak mungkin, Gavin sudah mensenyapkan semua grup chat di ponselnya, jadi tidak mungkin kalau notifikasi itu dari grup chat, lantas siapa yang menghubungi dia begitu banyak? apa ibunya? tapi ngapain? Gavin sudah pamit, dia bahkan terang-terangan pamit di ajak hiking oleh Darmawan.
Darmawan sampai geleng-geleng kepala notifikasi itu masih masuk tanpa henti, hingga kemudian ponsel itu berhenti berkedip, bergetar dan kembali sunyi.
"Nah, coba cek Vin," pinta Darmawan yang ikut tidak sabar hendak tahu siapa saja yang mengirim pesan hingga ratusan ke dalam ponsel Gavin.
Gavin mengangguk meraih ponselnya dan mulai membuka kunci layar ponsel, mata Gavin terbelalak melihat siapa yang sudah mengirimkan hampir seribuan pesan dan ratusan panggilan ke nomornya.
"Grup chat rumah sakit?" tanya Darmawan ketika Gavin tampak terkejut sambil menatap ponsel miliknya.
__ADS_1
Gavin mengangkat wajah menatap Darmawan dengan tatapan nanar,, sebagian memang dari grup rumah sakit dan fakultas tapi yang lebih banyak itu dari..."
"Diandra?" tebak Darmawan dengan cepat, matanya ikut membulat dengan alis terangkat.
Gavin mengangguk pelan, membenarkan tebakan Darmawan perihal siapa yang memberondong ponselnya dengan chat dan panggilan tidak terjawab itu.
Darmawan menempuk jidatnya sambil geleng-geleng kepala, tersenyum kecut sambil menatap Gavin yang mulai fokus dengan ponsel di tangan.
"Penasaran dia pasti dengan kepergian kita," ucap Darmawan.
"Benar Pa, ini chat isinya nanya mulu," senyum Gavin merekah, kenapa rasanya begitu bahagia mendapati ribuan chat yang berasal dari Diandra itu.
Ya meskipun isi chatnya hanya huruf P, omelan berisi nada ancaman dan sejenisnya, namun bagi Gavin rasanya ribuan chat itu seperti tanda bahwa dia khawatir pada Gavin, yah walaupun Gavin tahu betul bahwa Diandra hanya kepo ke mana mereka pergi.
"Nah, ponsel Papa dia berondong juga, Vin," Darmawan meletakkan ponsel miliknya yang bernasib sama dengan ponsel Gavin berapa saat yang lalu, ratusan notifikasi itu masuk berurutan.
Gavin tersenyum kecut dia ikut meletakkan ponsel di meja, tidak berniat membalas ribuan pesan itu meskipun dia sudah membuka pesan yang Diandra kirim, pasti dia akan mengomel tidak jelas! dasar toa tahu bulat.
"Belum Pa, kenapa?" alis Gavin terangkat, apakah Darmawan punya pemikiran yang sama dengan dirinya?
"Jangan dibalas dulu, biar bablas sekalian ngambeknya," tawa Darmawan pecah, dia meletakkan ponsel ke atas meja dan kembali serius dengan cangkir kopi miliknya.
"Baik kalau gitu Pa, tapi nanti kalau ngambeknya nggak kelar-kelar gimana Pa?" tentu itu yang Gavin khawatirkan, tidak ngambek saja Diandra tidak pernah bersikap manis pada Gavin, bagaimana kalau ngambeknya bablas?
"Beliin aja dia coklat sama Boba, anak itu doyan banget sama dua hal itu," ucap Darmawan santai sambil menyeruput kopi miliknya.
Iya kah? apakah nanti dengan Gavin memberikan Diandra cokelat dan boba, lantas Diandra bisa jatuh cinta kepadanya? rasanya mustahil!!!
"Jadi apakah kelak, kamu ingin kembali naik ke Lawu, Vin?" tanya Darmawan.
Gavin mengangkat wajah menatap Darmawan dengan seksama, seulas senyum merekah di wajah Gavin.
"Tentu Pa suatu saat nanti Gavin pengen naik lagi, sama Diandra tapi," ucap Gavin.
__ADS_1
Uhuk...Uhuk...Uhuk... Darmawan tersedak kopi yang memenuhi mulutnya.
Apa?
##############
Dasar bujang lapuk!!!
Diandra berteriak kesal ketika ribuan pesan yang dia kirim hanya dibaca saja tanpa dibalas oleh Gavin, nafas Diandra naik turun menahan emosi! dia tidak tahu apa saja keberangkatan Gavin bersama Darmawan malam itu, Diandra sampai sekarang tidak enak makan dan tidak nyenyak tidur!
"Ke mana mereka sebenarnya? kenapa nomor ponsel kompak tidak aktif?" Diandra lama-lama bisa gila.
"Tinggal bilang mereka pergi kemana? apa susahnya sih!" Diandra benar-benar kesal, didera rasa penasaran itu benar-benar tidak enak dan sangat menyiksa.
Diandra meraih ponselnya, menghubungi nomor bujang lapuk guna membunuh rasa penasaran yang menyiksa Diandra selama hampir dua hari ini, cukup lama panggilannya terabaikan hingga di detik terakhir suara itu menyapa Diandra dengan begitu manis.
"Halo kenapa sih?" ucap Gavin yang membuat mata Diandra sontak melotot tajam, kenapa? dia dengan santai bisa tanya kenapa? dia hampir gila karena penasaran, Gavin dengan begitu enteng tanya dia kenapa.
"Kenapa? Dokter itu yang kenapa? kenapa saya di kacangin? sebenarnya Dokter diajak Papa ke mana sih?" Diandra berteriak saking gemesnya, wajahnya memerah dengan napas naik turun.
Sunyi!!!
Tidak ada jawaban membuat Diandra kembali berteriak kalau suara itu tidak kembali terdengar.
"Saya cari SK dari Papa Dian, dan alhamdulillah sudah dapat, habis wisuda ya, Papa udah taken kok," ucap Gavin.
Kemarahan Diandra sontak lenyap, matanya melotot dengan mulut setengah terbuka, SK? Papanya sudah taken? apa itu artinya...
"Ja... jangan bilang kalau,"
"Habis kamu wisuda kita bahas tanggalnya, Dian,, sekalian bahas konsep nikahannya mau gimana," ucap Gavin.
Apa?
__ADS_1